Peran perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan menjadi sorotan utama dalam talk show bertajuk Higher Education for Impact & Adaptive Graduates yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM). Diskusi ini menghadirkan Assistant Professor University of Nottingham, Bagus Muljadi, Ph.D., yang dipandu oleh dosen Ilmu Ekonomi UGM, Wisnu Setiadi Nugroho, Ph.D. sebagai moderator.
Melalui diskusi yang berlangsung di Lantai 8 Pusat Pembelajaran FEB pada Kamis (5/2/2026), Bagus membahas tantangan perguruan tinggi dalam menghasilkan riset yang berdampak serta interdisiplin. Ia menekankan bahwa perguruan tinggi tidak hanya berperan sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai ruang lahirnya gagasan ilmiah yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman.
Salah satu persoalan mendasar yang disoroti adalah lemahnya kemampuan institusi perguruan tinggi dalam mengartikulasikan pertanyaan riset secara konkret. Menurut Bagus, banyak isu strategis seperti swasembada pangan, digitalisasi, dan kecerdasan buatan yang telah banyak dibahas tetapi belum diikuti dengan rumusan masalah yang sistematis. Menurutnya, setiap disiplin ilmu memiliki kemampuan untuk menjawab persoalan masyarakat apabila diarahkan pada pertanyaan penelitian yang tepat.
“Kita hidup di tengah inkompetensi di mana otoritas tertinggi di dunia pendidikan tidak mengartikulasikan pertanyaan riset. Tidak menerjemahkan high level language seperti swasembada pangan, atau digitalisasi, atau AI, menjadi pertanyaan riset,” ungkapnya.
Bagus menekankan bahwa kualitas penelitian tidak hanya ditentukan oleh metodologi yang digunakan, tetapi juga ketepatan pertanyaan yang dirumuskan. Menurutnya, banyak terobosan riset besar berawal dari pertanyaan sederhana namun mendasar. Ia menyinggung Bell Labs yang menghasilkan berbagai inovasi penting karena memulai penelitian dari pertanyaan riset yang jelas dan fundamental.
Persoalan perumusan pertanyaan riset tersebut, tidak terlepas dari sistem insentif akademik yang masih berfokus pada publikasi dan sitasi sebagai indikator utama kinerja. Hal tersebut perlu diimbangi dengan perhatian terhadap dampak sosial penelitian sehingga perguruan tinggi dapat berkontribusi dalam menyelesaikan persoalan di masyarakat.
Di negara maju, riset universitas tidak hanya didukung pemerintah, tetapi juga oleh sektor swasta melalui kolaborasi dengan industri. Kolaborasi antara universitas, pemerintah, dan sektor swasta memungkinkan penelitian berkembang sekaligus tetap relevan dengan kebutuhan publik. Sebaliknya, pendanaan riset di Indonesia masih relatif terbatas dan belum didukung kolaborasi yang kuat.
Bagus juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas disiplin ilmu dalam mendorong inovasi ilmiah. Banyak perkembangan ilmu pengetahuan lahir dari pertemuan berbagai bidang yang disatukan oleh pertanyaan penelitian yang sama. Namun, praktik akademik yang tertutup dan kecenderungan academic inbreeding dinilai membatasi keberagaman perspektif di perguruan tinggi
Dalam konteks perubahan teknologi yang semakin cepat, perkembangan kecerdasan buatan juga menjadi bagian penting dalam diskusi. Bagus menilai bahwa kecerdasan buatan berpotensi menciptakan kesenjangan antara mereka yang mampu memanfaatkan teknologi secara bijak dan mereka yang hanya menjadi pengguna pasif.
“AI pun akan membuat hal seperti itu. AI divide. You either capitalize on it or you become the slaves of it.”
Ia menjelaskan bahwa AI pada dasarnya bekerja melalui simulasi dan prediksi bahasa. Tanpa kemampuan berpikir analitis, manusia berisiko hanya menjadi konsumen teknologi. Oleh karena itu, pendidikan tinggi perlu memastikan mahasiswa memiliki fondasi berpikir logis, kemampuan berbahasa, dan keterampilan berargumentasi yang kuat.
Ia juga menyoroti keterlibatan akademisi dalam ruang publik agar pengetahuan tidak terputus dari masyarakat. Dalam era digital, peran ilmuwan dan dosen menjadi semakin penting untuk menjembatani sains dengan kehidupan sosial.
“Scientists, dosen, researchers, akademik, you have to talk to the people,” tuturnya.
Bagus juga menekankan pentingnya membangun cara pandang berbasis kekayaan lokal melalui penelitian di berbagai bidang. Ia mencontohkan temuan arkeologi di Sulawesi serta kajian tentang kawasan Merapi sebagai kontribusi penting Indonesia dalam perkembangan ilmu pengetahuan dunia. Menurutnya, pendekatan yang berdasarkan kekayaan lokal tersebut dapat memperkuat relevansi perguruan tinggi akan kebutuhan masyarakat.
Reporter: Dwi Zhafirah Meiliani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
