Tingginya beban pekerjaan rumah tangga yang tidak dibayar atau unpaid work , mulai dari pekerjaan domestik hingga pengawasan anak, masih menjadi penghambat utama partisipasi perempuan Indonesia dalam pasar tenaga kerja. Hal tersebut mengemuka dalam workshop yang diselenggarakan bidang kajian Microeconomics Dashboard (MicDash) FEB UGM bertajuk “Trade-offs Between Paid and Unpaid Work in Indonesia: Does Agency Matter?” belum lama ini.
Dalam kegiatan tersebut memaparkan hasil riset kolaboratif dari Prospera, Universitas Indonesia dan Macalester College, bekerjasama dengan ILO dan UN Women. Penelitian ini menyoroti bagaimana beban unpaid work membatasi ruang gerak perempuan untuk masuk dan bertahan di dunia kerja, meskipun tingkat pendidikan mereka terus meningkat. Temuan ini kembali menegaskan bahwa stagnannya Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan selama dua dekade terakhir bukan semata persoalan pendidikan atau keterampilan, melainkan persoalan struktural di dalam rumah tangga.
Presentasi disampaikan oleh Diahhadi Setyonaluri, Ph.D., dari Lembaga Demografi FEB UI berdasarkan pada pilot survey yang dilakukan di wilayah Jabodetabek dan Surabaya. Survi melibatkan 902 responden dari 451 rumah tangga dengan fokus pada penggunaan waktu, pembagian pekerjaan domestik, serta dinamika pengambilan keputusan dalam rumah tangga
Para peneliti menekankan bahwa beban domestik yang timpang menjadi faktor kunci rendahnya partisipasi kerja perempuan. Data survei menunjukkan bahwa hampir 40 persen perempuan menghabiskan lebih dari delapan jam per hari untuk pekerjaan domestik dan pengasuhan, seperti memasak, mencuci, membersihkan rumah, dan mengawasi anak. Sebaliknya, hampir 40 persen laki-laki menghabiskan kurang dari satu jam per hari untuk pekerjaan serupa, mencerminkan jurang pembagian kerja domestik yang masih lebar.
Di antara berbagai bentuk unpaid work, pekerjaan domestik menyumbang porsi terbesar beban waktu perempuan. Namun, penelitian ini menemukan bahwa jenis pekerjaan yang kerap diremehkan seperti supervisory care atau pengawasan anak justru memiliki dampak paling kuat dalam menurunkan peluang perempuan untuk terlibat dalam pekerjaan berbayar. Meski terlihat ringan karena tidak selalu melibatkan interaksi langsung, sifat pengawasan anak yang menuntut perempuan untuk selalu tersedia membuat mereka kehilangan fleksibilitas waktu untuk bekerja.
Selain memotret pembagian pekerjaan domestik, penelitian ini juga mendalami aspek agency yaitu kemampuan seseorang menentukan penggunaan waktunya sendiri. Hasilnya memperlihatkan paradoks menarik dimana perempuan memiliki agency yang lebih tinggi dari laki-laki dalam menentukan waktu untuk pekerjaan domestik dan pengasuhan, tetapi agency mereka jauh lebih rendah ketika menyangkut keputusan untuk bekerja dan memperoleh pendapatan. Dalam konteks sosial Indonesia, banyak perempuan merasa memiliki otoritas dalam ranah domestik karena masyarakat membebankan tanggung jawab rumah kepada mereka. Namun otoritas tersebut tidak berbanding lurus dengan kebebasan dalam menentukan pilihan kerja.
Riset ini juga memperkuat temuan tersebut melalui sebuah eksperimen lapangan. Dalam eksperimen ini, responden diminta membayangkan mereka mendapat kesempatan mengikuti pelatihan kerja selama delapan jam pada hari kerja tanpa membawa anak namun dengan fasilitas pengasuhan. Mereka diminta menentukan berapa jam bersedia mengikuti pelatihan. Selanjutnya, jawaban tersebut dibandingkan dengan pandangan pasangan mereka dan diuji melalui melalui tiga skenario yaitu jawaban dibagikan secara terbuka, dinegosiasikan bersama pasangan, dan diberikan secara privat tanpa diketahui pasangan.
Hasil eksperimen menunjukkan bahwa komunikasi dan negosiasi dalam rumah tangga berperan penting. Pada perempuan di wilayah pedesaan, proses negosiasi justru meningkatkan keberanian mereka untuk mengikuti pelatihan dalam durasi lebih lama. Mereka merasa lebih didukung dan memiliki ruang untuk menyampaikan kepentingannya. Sebaliknya, bagi sebagian laki-laki di wilayah pedesaan, negosiasi justru memperlebar jarak antara preferensi pribadi dan ekspektasi pasangan, mencerminkan kuatnya norma gender dalam memandang peran domestik dan kerja berbayar.
Para peneliti menegaskan bahwa unpaid work terutama pekerjaan domestik dan supervisory care memiliki hubungan negatif yang kuat dengan partisipasi kerja perempuan. Setiap tambahan satu jam pengawasan anak dapat menurunkan peluang perempuan untuk bekerja lebih dari enam persen. Sementara itu, tingginya agency perempuan dalam pekerjaan rumah tangga tidak otomatis memberikan mereka kendali atas keputusan kerja berbayar.
Menurut tim peneliti, peluang perempuan untuk masuk ke dunia kerja dapat meningkat jika komunikasi dan dukungan dalam rumah tangga diperkuat. Negosiasi yang sehat antara pasangan dapat memperkecil perbedaan persepsi dan membantu perempuan mendapatkan ruang untuk mengembangkan diri.
Reportase: Orie Priscylla Mapeda Lumalan
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
