Tidak pernah terbayangkan dalam benak Cynthia Fransisca (22) bisa menjadi wisudawan terbaik Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM). Lahir dan tumbuh di Pulau Bangka yang jauh dari pusat pendidikan, ia merasa perjalanan untuk dapat berkuliah di UGM menjadi menjadi hal yang tak mudah untuk digapai.
Kini, mimpi yang awalnya tak pernah berani dibayangkan akhirnya berhasil ia wujudkan. Cynthia berhasil menjejakan kaki di UGM dan menjalani studi di Program Studi Akuntansi di tahun 2022. Saat ini ia telah menyelesaikan kuliahnya dalam waktu 3 tahun 4 bulan 12 hari dengan raihan IPK 3,97 sehingga mendapatkan predikat cumlaude serta menjadi wisudawan terbaik pada Wisuda Periode II Tahun Akademik 2025/2026. Bagi Cynthia, capaian tersebut bukan sekadar angka, melainkan buah dari kerja keras dan ketekunannya untuk terus melangkah meski kerap diliputi keraguan.
Sempat Ragu
Cynthia mengungkapkan bahwa ia sempat tidak berani bermimpi bisa kuliah di UGM. Dengan latar belakang kedua orang tua yang hanya berijazah sekolah dasar serta keterbatasan jejaring, ia memulai perjalanannya dengan banyak pertanyaan. Namun seiring waktu, ia memahami bahwa privilese tidak selalu hadir dalam bentuk kemudahan.
“Privilege tidak datang kepada setiap orang dengan cara yang sama dan dalam waktu yang sama. Tidak selalu dalam bentuk kemudahan, tetapi seringkali dalam bentuk kesempatan, kesempatan untuk belajar, untuk mencoba, dan untuk bertahan,” ujarnya Selasa sore (24/2/2025) saat pelepasan Wisuda Periode II Tahun Akademik 2025/2026.
Memasuki dunia perkuliahan di FEB UGM, Cynthia menyadari bahwa setiap mahasiswa memulai dari garis yang sama. Berasal dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) ia tidak merasa minder. Bahkan ia merasa cukup percaya diri, khususnya pada mata kuliah pengantar akuntansi karena terbekali dengan ilmu yang diperoleh di SMK . Namun, pada mata kuliah lain seperti matematika ekonomi, ia harus belajar lebih keras untuk mengejar ketertinggalan dibandingkan rekan-rekannya dari SMA.
“Di satu sisi saya sempat merasa unggul di beberapa materi. Tapi di sisi lain, saya juga pernah merasa paling tidak paham. Dari situ saya belajar bahwa di perkuliahan semua akan kembali ke nol, yang membedakan hanya kemauan untuk terus belajar,” jelasnya.

Aktif Organisasi dan Lomba
Selain berfokus pada akademik, Cynthia juga aktif dalam kegiatan nonakademik. Ia terlibat dalam Ikatan Mahasiswa Akuntansi Gadjah Mada (IMAGAMA) serta kepanitiaan di program studinya. Pada semester kedua, ia terpilih sebagai Awardee Beasiswa Tanoto Teladan 2023–2026 dari Tanoto Foundation. Melalui Tanoto Scholar Association (TSA) UGM, ia dipercaya menjadi staf hingga manajer divisi networking, memperluas jejaring sekaligus melatih kemampuan koordinasi tim.
Setelah aktif berorganisasi, memasuki semester lima Cynthia mulai memfokuskan diri pada kompetisi. Bersama timnya, ia meraih Juara 3 pada ajang Udayana International Accounting Competition 2024. Capaian tersebut menjadi pemantik semangat untuk terus mencoba tantangan lain.
Ia juga meraih Gold Medal dalam International Youth Business Competition 2024 yang diadakan oleh Universitas Diponegoro serta Juara 2 pada Decarbonizing Indonesia Business Case Competition 2025. Tak jarang pula ia hanya mencapai semifinal atau harus mengundurkan diri karena benturan jadwal akademik. Namun baginya, proses kompetisi jauh lebih berharga daripada hasil akhir.
“Tidak semua lomba harus berakhir dengan juara, yang penting kita belajar berpikir kritis, bekerja dalam tim, dan menyelesaikan masalah secara terstruktur,” ujarnya.
Terus Bertumbuh
Di balik sederet prestasi tersebut, Cynthia mengakui bahwa perjalanan kuliahnya tidak selalu berjalan mulus. Hampir setiap awal semester ia merasa kewalahan menghadapi perubahan jadwal dan pola belajar baru. Ia bahkan mengaku beberapa kali mengalami burnout. Dari situ, ia belajar mengenali batas diri, menyusun jadwal lebih terstruktur dan menetapkan prioritas. Pengalaman itulah yang kemudian membentuk cara pandangnya tentang makna keberhasilan.
Cynthia menilai perjalanannya di FEB UGM membentuk resiliensi, growth mindset, serta kemampuan mengambil keputusan melalui penentuan prioritas yang matang. Integritas dan disiplin menjadi nilai yang sangat dirasakannya selama menjalani kuliah dan lingkungan kampus yang suportif turut memperkuat jejaring dan kepercayaan dirinya untuk terus berkembang.

Saat menyampaikan pidato dalam pelepasan wisuda FEB UGM, ia juga mengingatkan rekan-rekan wisudawan untuk tidak merasa harus berlomba setelah kelulusan.
“Kita mungkin lulus di hari yang sama, tetapi kita tidak akan berjalan di jalan yang sama. Kesuksesan bukan tentang siapa yang paling cepat, tetapi tentang siapa yang paling setia pada panggilan hidupnya,” jelasnya.
Menurutnya, dunia yang serba cepat dan penuh perbandingan kerap membuat seseorang merasa tertinggal. Padahal, setiap orang memiliki latar belakang, proses, nilai, dan mimpi yang berbeda. Oleh karena itu, hal utama yang perlu diingat adalah melangkah dengan kesadaran, integritas, dan keberanian.
Menjelang kelulusan, Cynthia telah lebih dahulu diterima di salah satu Kantor Akuntan Publik (KAP), yakni Ernst & Young (EY), bahkan sebelum ia resmi diwisuda. Baginya, pencapaian tersebut merupakan hasil dari konsistensi dan keberanian mencoba berbagai peluang selama masa studi.
Cynthia pun berpesan agar mahasiswa tidak terjebak pada rasa takut tertinggal (FOMO). Ia menekankan pentingnya perencanaan dan kesadaran diri dalam menentukan prioritas. Pesan tersebut ia tegaskan dengan kutipan dari Carl Jung, “Until you make the unconscious conscious, it will direct your life and you will call it fate.”
Reporter: Dwi Zhafirah Meiliani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
