Isu ekonomi olahraga kerap dipandang sebelah mata, padahal di balik setiap pertandingan yang memukau terdapat dinamika pasar, insentif, dan keputusan strategis yang kompleks. Hal tersebut menjadi sorotan utama yang diangkat oleh dosen Lancaster University Management School, Profesor Robert Simmons, dalam Research Series FEB UGM bertajuk Sports Economics: What Really Determines Winning?
Simmons menyampaikan bahwa nilai terbesar olahraga tidak terletak pada ukuran industri secara konvensional seperti nilai tambah atau angka ketenagakerjaan semata. Menurutnya, dimensi utama justru terletak pada keterlibatan manusia yang bersifat emosional.
“Yang membuat olahraga menarik secara ekonomi adalah bagaimana orang bereaksi terhadapnya sebagai penonton, penggemar, dan keterlibatan emosional mereka,” ucapnya.
Selain dimensi emosional, Simmons juga menyoroti ketersediaan data yang melimpah di dunia olahraga sebagai daya tarik tersendiri bagi para ekonom. Data tersebut memungkinkan peneliti untuk menganalisis berbagai aspek seperti insentif, perilaku strategis, serta dampak aturan terhadap pemain, klub, dan penggemar. Dengan kata lain, olahraga menyediakan bukti empiris yang kaya untuk menguji berbagai teori ekonomi secara langsung dalam konteks nyata.
“Dengan volume data yang sangat besar, kita bisa mengkaji insentif, perilaku strategis, hingga dampak pengoperasian aturan dengan sangat detail,” paparnya.
Dalam konteks kebijakan, pemberian bonus besar kepada atlet berprestasi di Indonesia juga menjadi perhatian. Simmons mengakui bahwa bonus merupakan bentuk penghargaan yang wajar, mengingat besarnya pengorbanan yang dilakukan atlet dalam mencapai prestasi.
Namun, ia mengingatkan bahwa bonus saja tidak cukup. Ia mencontohkan pengalaman Inggris pada awal tahun 2000-an yang mengalihkan fokus kebijakan pada investasi jangka panjang di cabang olahraga tertentu, seperti balap sepeda. Pembangunan fasilitas, peningkatan kualitas pelatihan, serta dukungan institusional terbukti mampu menghasilkan prestasi internasional yang berkelanjutan.
Dari sisi industri, Simmons menyatakan bahwa komersialisasi sepak bola melalui sponsor, hak siar, dan kepemilikan swasta pada dasarnya didorong oleh meningkatnya minat penonton secara global. Meningkatnya biaya hak siar secara langsung berdampak pada kemampuan liga-liga besar untuk menarik pemain berkualitas tinggi, seperti yang terlihat pada English Premier League.
“Pada akhirnya, semuanya kembali pada penonton. Jika tidak ada yang ingin menonton, maka sebuah olahraga akan mengalami penurunan,” jelasnya.
Dalam bidang akademik, Simmons menyoroti tantangan utama dalam perbandingan lintas negara dalam penelitian ekonomi olahraga. Konsistensi dan komparabilitas data menjadi isu krusial yang harus diperhatikan peneliti. Ia mencontohkan penelitiannya mengenai penentuan gaji pesepak bola di Inggris dan Italia yang menuntut ketelitian tinggi dalam memastikan kesebandingan variabel dan metode pengukuran.

“Data yang sebanding adalah tantangan pertama yang perlu diatasi oleh seorang peneliti. Anda hanya perlu berhati-hati dalam menangani data, mencatat setiap perbedaan dan ketidakkonsistenan. Jadi itulah masalah pertama,” ujarnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya pendekatan metodologis seperti difference-in-differences dalam mengidentifikasi hubungan kausal. Metode ini memungkinkan peneliti membandingkan kelompok yang terdampak suatu kebijakan dengan kelompok kontrol yang tidak terdampak.
“Metode seperti difference-in-differences membuka peluang untuk analisis kausal yang lebih kuat, terutama ketika ada perubahan kebijakan atau aturan,” pungkasnya.
Namun, ketersediaan data biasanya menjadi tantangan besar dalam melakukan penelitian menggunakan pendekatan tersebut. Ia juga merekomendasikan alternatif lain, yaitu metode propensity score matching. Keterampilan web scraping dengan Python juga menjadi modal penting yang perlu dikuasai oleh mahasiswa dan peneliti muda saat ini.
Di akhir sesi, Simmons menyoroti potensi positif industri olahraga di negara berkembang, termasuk Indonesia. Dengan jumlah penduduk yang besar, peluang pasar dan penggemar dinilai sangat menjanjikan. Namun, potensi tersebut perlu didukung oleh tata kelola yang memadai, sebagaimana transformasi yang telah terjadi di Inggris dalam beberapa dekade terakhir.
Video program Research Series bertajuk Sports Economics: What Really Determines Winning?selengkapnya dapat diakses melalui: SportEconomics
Penulis: Dwi Zhafirah Meiliani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
