Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Wuri Handayani, S.E., Ak., M.Si., M.A., Ph.D., berhasil meraih penghargaan U21 Awards 2026-Inclusive Global Engagement oleh konsorsium Universitas 21 (U21). Penghargaan ini diberikan atas kontribusinya dalam mendorong kolaborasi global yang inklusif khususnya bagi penyandang disabilitas di lingkungan perguruan tinggi
Penghargaan yang diraih oleh Wuri tidak lepas dari keterlibatannya dalam melakukan advokasi bagi penyandang disabilitas dengan beragam kebutuhan, khususnya di lingkungan perguruan tinggi mendapatkan layanan disabilitas secara terstruktur. Upaya tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak termasuk kolaborasi riset dengan University of Nottingham dan aktif dalam kelompok kerja Equality, Diversity, dan Inclusivity U21. Dalam forum U21, ia aktif berdiskusi dan menyusun laporan terkait dengan perkembangan inklusivitas di berbagai kampus termasuk berkolaborasi dengan salah satu akademisi internasional, Paul Harpur dari Australia.
Perjalanan Wuri terlibat dalam isu disabilitas berawal dari pengalaman personal dan akademiknya. Sebagai penyandang disabilitas ia pernah menghadapi diskriminasi struktural dan pernah ditolak bekerja karena disabilitas. Pengalaman saat menempuh studi S2 di University of Leeds, Inggris melalui beasiswa Chevening semakin meyakinkanya untuk melakuan advokasi bagi penyandang disabilitas. Di kampus tersebut Wuri merasakan bagaimana setiap ragam disabilitas dengan kebutuhan yang berbeda difasilitasi secara adil.
Saat kembali ke Indonesia Wuri terus berupaya memperjuangkan terbentuknya unit layanan bagi penyandang disabilitas. Sebab saat bergabung di UGM pada 2018 silam, belum ada unit layanan disabilitas (ULD). Selepas menyelesaikan pendidikan PhD, ia pun berkomitmen kuat untuk melahirkan ULD di UGM, terlebih telah ada peraturan perundang-undangan No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Di tahun 2019 ia terlibat aktif dalam proses pembentukan ULD dan sempat terhenti akibat pandemi Covid-19. Perjuangan kembali menguat pada 2023 melalui workshop dan penyusunan naskah akademik ULD. Upaya tersebut berbuah manis dengan terbitnya surat keputusan pendirian ULD pada Mei 2024 dan diresmikan pada Desember 2024.
Dalam proses seleksi penghargaan, Wuri memaparkan berbagai capaian yang telah ia lakukan mulai dari inisiasi ULD UGM, perolehan hibah dari British Council (Social Action Grant) dan Kemendikbudristek, hingga kolaborasi riset internasional dengan University of Nottingham. Dari sekitar 100 kandidat dari berbagai negara, Wuri terpilih sebagai penerima penghargaan ini.
“Tentu saja saya merasa bangga dapat membawa nama baik UGM dengan penghargaan ini. Saya melihat pencapaian ini sebagai momentum untuk meningkatkan awareness pentingnya inklusivitas dan harapannya menjadi praktik baik di di lingkungan pendidikan tinggi Indonesia,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kolaborasi internasional justru menjadi kunci untuk memperkuat praktik dan inklusivitas. Menurutnya, Indonesia masih perlu banyak belajar dari praktik global dalam memahami ragam disabilitas dan pelayanan yang tepat.
“Di Indonesia masih belum sepenuhnya inklusif seiring dengan berkembangnya definisi disabilitas. Kita perlu membangun engagement global dengan kolaborasi praktis dan riset sehingga kita dapat mengadopsi hal yang sesuai,” jelasnya.
Di sisi lain, keberadaan ULD UGM turut menunjukkan dampak nyata dalam mewujudkan inklusivitas di lingkungan kampus. Beberapa di antaranya adalah jumlah mahasiswa disabilitas yang mendaftar UGM semakin meningkat seiring dengan kesadaran sivitas akademika dalam memberikan pelayanan untuk sivitas yang memiliki kebutuhan tersebut. Beberapa penyesuaian pembelajaran juga mulai diterapkan untuk mendukung kebutuhan individu mahasiswa.
Wuri menyampaikan bahwa masih terdapat berbagai pekerjaan rumah dalam mewujudkan kampus yang benar-benar inklusif. Salah satu fokus utama adalah peningkatan aksesibilitas, khususnya dari sisi infrastruktur di lingkungan UGM. Selain itu, upaya memperluas dampak inklusivitas juga perlu terus dilakukan melalui penguatan sistem, peningkatan kesadaran, serta kolaborasi berbagai pihak agar lingkungan pendidikan yang ramah bagi semua dapat terwujud secara berkelanjutan.
“Inklusivitas adalah bagaimana kita melihat perbedaan sebagai kekayaan. Seperti pelangi yang indah karena beragam warna, perbedaan justru menjadi kekuatan untuk mencapai tujuan bersama dalam pendidikan,” tutupnya.
Penyerahan penghargaan U21 Awards 2026 dilaksanakan 21 April 2026 dalam The Universitas 21 Annual Network Meeting and Leadership Summit di University of Glasgow, Glasgow, Skotlandia. Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc., hadir dan mewakili Wuri Handayani menerima penghargaan tersebut. Danang menyampaikan bahwa capaian ini merupakan wujud komitmen UGM sebagai kampus inklusif dan ramah bagi seluruh sivitas akademika.
“Beliau sebagai leader dari ULD UGM menunjukkan komitmen universitas dalam membangun kampus yang inklusif dan sebagai rumah untuk setiap orang yang akan belajar, beraktivitas, membangun karir dan masa depan di UGM. Peran unit ini menjadi sangat penting dalam memastikan tidak ada yang tertinggal,” paparnya.
Reportase: Shofi Hawa Anjani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
