Di tengah berbagai tantangan global seperti perubahan iklim, ketimpangan sosial, dan tuntutan pembangunan berkelanjutan, peran akuntansi terus berkembang melampaui fungsi tradisionalnya sebagai alat pencatatan dan pelaporan keuangan. Akuntansi kini menjadi instrumen penting untuk mendukung transparansi, akuntabilitas, serta pengambilan keputusan yang berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Isu tersebut menjadi fokus pembahasan dalam Finance Dialogue Gadjah Mada Accounting Days (GMAD) 2026 bertajuk “Empowering Grassroots Economy with SDGs: Accounting as a Catalyst for Social Equity” yang diselenggarakan pada Sabtu (23/5/2026) di Auditorium MM UGM.
Keuangan Berkelanjutan Menjadi Bagian Stabilitas Ekonomi
Ketua Dewan Audit Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Sophia Wattimena, S.E., Ak., MBA., CA., QIA., FCPA (Aust.), menjelaskan bahwa perubahan iklim kini telah menjadi salah satu risiko global terbesar yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi dan sektor jasa keuangan. Risiko seperti cuaca ekstrem, kelangkaan sumber daya alam, dan polusi diproyeksikan menjadi tantangan utama dalam satu dekade mendatang.
Menurut Sophia, risiko iklim dapat bertransmisi ke sektor jasa keuangan melalui peningkatan risiko kredit, risiko operasional, risiko pasar, hingga risiko likuiditas. Oleh karena itu, OJK terus mendorong implementasi keuangan berkelanjutan melalui berbagai instrumen, seperti Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI), Climate Risk Management and Scenario Analysis (CRMS), serta pengembangan standar pelaporan keberlanjutan yang mengacu pada IFRS S1 dan S2.
“Sustainability reporting ini harus diposisikan sebagai business imperative. Bukan sekadar kewajiban pelaporan, tetapi menjadi kebutuhan strategis bagi perusahaan karena semakin penting bagi investor, perbankan, dan rantai pasok dalam menilai risiko maupun peluang usaha,” ujarnya.
Peran Akuntansi dalam Mendorong Pembangunan Berkelanjutan
Dosen Akuntansi FEB UGM, Dewi Wulansari, S.E., M.Sc., mengungkapkan bahwa berdasarkan SDG Report 2025, hanya sekitar 18 persen target SDGs yang berada pada jalur pencapaian menuju Agenda 2030. Dalam konteks ini, akuntansi memiliki peran penting dalam membantu organisasi mengintegrasikan kebijakan dan tindakan yang mendukung keberlanjutan. Melalui penyediaan informasi yang lebih komprehensif, akuntansi tidak hanya berfungsi sebagai alat pelaporan, tetapi juga menjadi sarana untuk meningkatkan akuntabilitas dan mendukung pengambilan keputusan.
“Kalau kita berbicara mengenai perubahan iklim, deforestasi, atau berbagai krisis keberlanjutan lainnya, akuntansi memang tidak bisa menyelesaikan semuanya sendirian. Namun pada level organisasi, akuntansi memiliki peran untuk turut berkontribusi dalam menjawab berbagai tantangan tersebut,” ungkapnya.
Menurutnya, kontribusi tersebut menunjukkan bahwa akuntansi dapat berperan dalam menghubungkan kebijakan, tindakan organisasi, dan tujuan pembangunan berkelanjutan.
Menjaga Kredibilitas Informasi Keberlanjutan
Ketua Komite Small and Medium Sized Practices (KSMP) Ikatan Akuntan Publik Indonesia (IAPI), Sandra Pracipta, S.E., M.Acc., Ak., CA., CPA., ASEAN CPA., CFI., menyoroti pentingnya assurance dalam pelaporan keberlanjutan. Menurutnya, meningkatnya jumlah sustainability reporting perlu diimbangi dengan proses assurance yang memadai agar informasi yang disampaikan kepada investor dan pemangku kepentingan memiliki tingkat kredibilitas yang tinggi.
“Akuntan publik memastikan apakah laporan sustainability reporting yang dibuat organisasi benar-benar telah disusun sesuai standar yang berlaku. Tantangannya, informasi keberlanjutan tidak hanya berbicara tentang angka, tetapi juga data kualitatif yang harus dapat diverifikasi secara objektif,” jelasnya.
Sandra menambahkan bahwa tingkat assurance atau verifikasi independen atas laporan keberlanjutan masih relatif terbatas. Oleh karena itu, profesi akuntan memiliki posisi penting untuk memastikan informasi keberlanjutan yang digunakan investor, regulator, dan berbagai pemangku kepentingan dapat dipercaya serta sesuai dengan standar yang berlaku.
Berbagai isu yang mengemuka dalam dialog tersebut menunjukkan bahwa pencapaian SDGs tidak dapat dilepaskan dari tersedianya informasi yang kredibel dan akuntabel. Dalam konteks tersebut, akuntansi tidak hanya berperan sebagai alat pelaporan, tetapi juga sebagai katalis yang mendorong kesetaraan sosial dan pembangunan berkelanjutan.
Reportase: Dwi Zhafirah Meiliani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
