Memiliki IPK yang tinggi ternyata belum cukup untuk memenangkan persaingan di dunia kerja. Di tengah kebutuhan industri yang terus berkembang dan semakin kompetitif, kemampuan berpikir kritis, kesiapan menghadapi proses seleksi, serta kemampuan menunjukkan nilai tambah diri menjadi faktor yang semakin menentukan keberhasilan kandidat dalam proses rekrutmen.
Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan PwC Indonesia Campus Hiring 2026 “Start with PwC: Build Your Professional Edge” pada Jumat (8/5/2026) di Auditorium Djarum Hall, FEB UGM. Kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa dan lulusan baru untuk mengenal lebih dekat dunia profesional serta mempersiapkan diri menghadapi kebutuhan industri yang terus berkembang.
Melalui sesi The Insider Session, mahasiswa diajak untuk mengenali berbagai bidang layanan PwC mulai dari Assurance, Consulting, Advisory, hingga Tax and Legal. Para praktisi turut memberikan gambaran mengenai pekerjaan, budaya kerja, pengalaman berkarier di PwC, serta tips menghadapi proses rekrutmen.
Praktisi dari lini Consulting, Yohannes Kurniawan, menyoroti pentingnya adaptasi terhadap perkembangan teknologi, termasuk penggunaan AI di dunia profesional.
“Kita harus memanajemen waktu agar lebih efisien dengan beradaptasi pada AI untuk membantu pekerjaan dan menganalisisnya lebih cepat,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut juga dibahas tips interview dan cara memulai karier yang dapat menjadi bekal bagi peserta workshop dalam menghadapi rekrutmen di dunia kerja. Kandidat pelamar diharapkan benar-benar memahami posisi yang dilamar dan mengaitkan relevansinya dengan pengalaman serta nilai yang dapat diberikan kepada perusahaan.
Assurance Director PwC Indonesia, Arnia Azalia, menegaskan bahwa tahap persiapan merupakan aspek yang sangat krusial dalam proses rekrutmen. Persiapan tersebut mencakup penguasaan hard skills, soft skills, serta pengetahuan teknis yang relevan dengan posisi yang dituju.
“Penting sekali untuk memahami posisi yang dilamar sehingga tahap persiapan menjadi aspek yang sangat krusial, mencakup persiapan hardskill dan softskill, serta technical knowledge yang relevan. Banyak kandidat yang gagal bukan karena tidak pintar, tetapi karena terlalu gugup, blank saat interview, dan kurangnya persiapan,” ungkapnya.
Manager Tax and Legal Services PwC Indonesia, Alfrinno Archon, menyampaikan bahwa para pencari kerja juga didorong untuk melakukan refleksi diri guna mengenali keunikan, pengalaman yang relevan, serta nilai yang membedakan mereka dari kandidat lain. Langkah tersebut dinilai penting untuk membangun personal branding yang kuat.
“Semua adalah top talent global, dan yang membedakan adalah opportunity screening dan keberuntungan. Kalian harus memiliki daya jual yang berbeda dan daya juga untuk mempelajari sesuatu yang baru,” jelasnya.
Menurutnya, kemampuan berpikir kritis juga merupakan nilai tambah. Kandidat tidak hanya dituntut untuk unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir analitis, riset, serta problem solving dalam menghadapi berbagai studi kasus dan tantangan kerja.
Reportase: Shofi Hawa Anjani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
