Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat bertransaksi dan mengakses layanan keuangan. Di balik berbagai kemudahan tersebut, ancaman terhadap keamanan data dan informasi pribadi juga semakin meningkat.
Isu tersebut menjadi salah satu fokus pembahasan dalam Guest Lecture yang digelar dalam rangkaian Gadjah Mada Accounting Days (GMAD) 2026 pada Sabtu (23/5/2026) di Auditorium MM UGM. Kegiatan ini menghadirkan Direktur Teknologi Informasi PT Bank Syariah Indonesia (BSI), Muharto Hadi Suprapto, M.Sc., CISA., CISSP., yang mengusung tema “Cybersecurity in Accounting Information Systems: Protecting Financial Data in the Digital Era.”
Muharto mengulas perkembangan transaksi digital yang semakin masif di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa Generasi Z menjadi motor utama perubahan tersebut karena tumbuh bersama teknologi digital dan memiliki tingkat adopsi pembayaran digital yang tinggi.
Menurutnya, peningkatan adopsi teknologi digital turut memperluas permukaan risiko (attack surface) yang dihadapi masyarakat. Semakin banyak aktivitas keuangan yang dilakukan secara daring, semakin besar pula potensi penyalahgunaan data dan serangan siber yang dapat mengancam individu maupun institusi.
Meski menawarkan kemudahan dan efisiensi, digitalisasi juga membawa berbagai risiko baru. Muharto mengungkapkan bahwa ancaman siber terus berkembang, mulai dari penipuan digital dan phising, ransomware, hingga penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence). Ia menambahkan bahwa sektor jasa keuangan menjadi salah satu target utama serangan siber karena mengelola data dan aset bernilai tinggi.
“Teknologi bisa mendekatkan kita pada kemudahan. Namun tanpa keamanan, kemudahan itu hanyalah ilusi,” tegasnya.
Muharto mengungkapkan bahwa faktor manusia masih menjadi titik paling rentan dalam keamanan digital. Berdasarkan berbagai studi yang ia paparkan, sebagian besar kasus kebocoran data berawal dari kesalahan pengguna, seperti memberikan informasi pribadi secara berlebihan, mengklik tautan phising, atau menggunakan kata sandi yang lemah.
Di sisi lain, perkembangan teknologi digital juga membuka berbagai peluang baru di dunia kerja. Muharto menyoroti bahwa kebutuhan talenta di bidang teknologi informasi dan keamanan siber terus meningkat. Ia menilai kombinasi kompetensi bisnis dan teknologi menjadi keunggulan yang semakin dibutuhkan oleh berbagai industri.
“Kalau teman-teman memiliki minat pada teknologi, jangan ragu untuk mendalaminya. Pemahaman bisnis dan teknologi merupakan kombinasi yang sangat berharga di era digital saat ini,” ujarnya.
Sebelumnya, Dekan FEB UGM, Prof. Dr. Didi Achjari, M.Com., Ak., CA., dalam sambutannya menyampaikan bahwa tema keamanan siber dan keberlanjutan merupakan isu yang sangat relevan dengan perkembangan profesi akuntansi saat ini. Menurutnya, transformasi digital menuntut dunia pendidikan untuk terus beradaptasi dengan kebutuhan industri dan regulator.
“Kami percaya bahwa dunia akademik perlu terus membangun kolaborasi dengan praktisi, regulator, dan industri agar mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga kesiapan dalam menghadapi tantangan profesional di masa depan,” ucapnya.
Reportase: Dwi Zhafirah Meiliani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
