Upaya edukasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat tidak cukup dilakukan hanya dengan penyampaian materi di ruang pertemuan. Pengalaman belajar secara langsung justru menjadi cara yang lebih efektif untuk mendorong perilaku masyarakat dalam mengelola sampah. Pengalaman ini dirasakan oleh masyarakat Padukuhan Grojogan, Kelurahan Tamanan, Kabupaten Bantul, saat mempelajari praktik pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui biopori jumbo dan bank sampah di RW 05 Kampung Mangkuyudan, Yogyakarta, pada Sabtu (25/7).
Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat (PKM) bertajuk Bersih, Inovatif, Sehat, Sejahtera, Asri (BISSA) melalui hibah Pengabdian Kepada Masyarakat Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM).
Ketua pelaksana program BISSA, Qisha Quarina, S.E., M.Sc., Ph.D., menjelaskan bahwa pemilihan tema pengelolaan sampah berangkat dari persoalan pengolahan sampah yang masih kerap terjadi di masyarakat di Yogyakarta.

“Masalah pengelolaan sampah ini ke depannya akan diperlukan dan berkelanjutan. Jika masyarakat tidak mengelola sampah, pasti akan terus-menerus menghadapi persoalan ini,” ujarnya.
Setelah sebelumnya melakukan pengabdian di Desa Sendowo untuk membangun fasilitas pembuangan sampah yang lebih layak dan tidak membakar, kini mereka beralih untuk mengelola sampah organik melalui biopori serta memperkuat pengelolaan sampah anorganik melalui bank sampah. Pengalaman inilah yang menjadi dasar pengembangan desa binaan baru di Padukuhan Grojogan.
“Kami berfokus pada pemberdayaan masyarakat dengan menggaet mereka untuk belajar dan berlatih. Harapannya, masyarakat secara independen dapat berinisiatif dan mulai melakukan pengelolaan sampah dengan lebih baik di wilayahnya,” ungkapnya.
Pada kegiatan ini, warga binaan diajak untuk mengunjungi lingkungan RW 05 Mangkuyudan dan melihat praktik pengelolaan sampah organik melalui lubang biopori yang tersebar di beberapa rumah warga. Warga setempat memperagakan proses pengolahan sampah organik yang nantinya akan menjadi pupuk dengan memasukkan sampah organik ke dalam lubang biopori, kemudian mengaplikasikan larutan air yang terdiri dari air, EM4 Pertanian, dan molase. Larutan tersebut berfungsi untuk mempercepat proses fermentasi dan penguraian bahan organik. Proses pengisian sampah dan penyiraman larutan dilakukan secara berkala hingga sampah terurai menjadi kompos yang siap dimanfaatkan sebagai pupuk organik.

Harapannya, Padukuhan Grojogan dapat pula dikembangkan menjadi sister village dari wilayah Mangkuyudan yang telah lebih dahulu berhasil dalam menerapkan pengelolaan sampah berbasis masyarakat
Peserta juga diajak untuk berkeliling ke rumah-rumah warga untuk melihat pemanfaatan halaman depan rumah, lorong, dan gang sebagai area budidaya sayur, baik menggunakan polybag maupun ditempatkan pada tembok.
Salah satu warga Padukuhan Grojogan, Rini, mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru yang dapat diterapkan di lingkungannya. Menurutnya, praktik budidaya sayur di lorong atau gang desa menjadi inspirasi bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan lahan.
“Biasanya kami menanam di tanah karena masih memiliki sedikit lahan. Namun demikian, setelah melihat tanaman yang ditanam menggunakan polybag dan ditempel di tembok, kami jadi terinspirasi karena ruang sekecil apa pun ternyata dapat dimanfaatkan dan bahkan berpotensi meningkatkan nilai ekonomi keluarga,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Padukuhan Grojogan, Roi Hermawan, menyambut baik kegiatan ini karena memberikan wawasan baru tentang pengelolaan sampah mandiri, khususnya sampah organik. Hal ini sejalan dengan tagline padukuhan, yaitu Grojogan Menawan, yang diharapkan menjadi salah satu upaya untuk peduli terhadap pengelolaan sampah agar lingkungan menjadi lebih bersih, asri, dan tertib.

“Ilmu ini akan kami aplikasikan di Padukuhan Grojogan, terutama dalam penanganan sampah. Kami akan mengajak warga padukuhan agar lebih peduli terhadap pengelolaan sampah, sehingga sampah organik di tingkat rumah tangga tidak hanya dibuang, tetapi juga memiliki nilai tambah,” ungkapnya.
Roi Hermawan berharap praktik baik di Kampung Mangkuyudan ini dapat terus berjalan dan menjadi inspirasi bagi masyarakat di berbagai daerah.
“Semoga kawasan ini terus menjadi inspirasi karena sudah banyak pihak yang datang untuk melakukan studi tiru. Harapannya, praktik baik ini dapat memberikan dampak yang lebih luas sebagai bentuk dukungan terhadap program pemerintah dalam penanganan sampah di tingkat rumah tangga berbasis komunitas masyarakat,” pungkasnya.
Reporter: Shofi Hawa Anjani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
