Kemajuan teknologi belum sepenuhnya menghadirkan akses yang setara bagi semua orang. Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), robotika, hingga smart home, jutaan orang di dunia masih belum dapat memanfaatkan teknologi pendukung (assistive technology) akibat tingginya biaya, keterbatasan infrastruktur, minimnya tenaga profesional, serta kurangnya dukungan kebijakan.
“Secara global baru sekitar 10 persen dari kelompok yang membutuhkan telah memiliki akses terhadap assistive technology,” ungkap Dr. Afiqah Amin, akademisi dari School of Business and Economics, Universiti Brunei Darussalam, dalam sesi workshop Global Summer Week (GSW) 2026 bertajuk “Accessibility for All: Assistive Technology Innovation” pada Jumat (19/07/2026).
Dr. Afiqah menjelaskan bahwa assistive technology merupakan produk maupun layanan yang membantu seseorang mempertahankan atau meningkatkan fungsi, kemandirian, dan kesejahteraan. Teknologi ini tidak hanya diperuntukkan bagi penyandang disabilitas, tetapi juga bagi kelompok tertentu seperti lansia, penyandang penyakit kronis, dan individu dengan keterbatasan sementara.
Sebagai bagian dari pembelajaran, peserta mengikuti aktivitas mendesain ulang produk assistive technology dengan menggunakan pendekatan User-Centered Design. Untuk mendukung proses tersebut, peserta diperkenalkan dengan Empathy Map, sebuah alat yang membantu memahami pengalaman pengguna secara lebih mendalam. Melalui metode ini, peserta menganalisis apa yang dilihat (see), didengar (hear), dipikirkan dan dirasakan (think & feel), serta dilakukan (say & do) oleh pengguna. Selain itu, mereka juga mengidentifikasi tantangan (pain), manfaat yang diharapkan (gain), dan kebutuhan (needs) pengguna sebagai dasar untuk merancang solusi yang lebih relevan, inklusif, dan berdampak nyata.
“Pendekatan ini dilakukan dengan menempatkan pengguna sebagai pusat perancangan inovasi, sehingga solusi yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan mereka,” ucap Afiqah.
Reportase: Najwa Anggi Namira
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
