Suara gesekan benang dan jemari yang bergerak lincah terdengar di salah satu ruang produksi DOWA Bag, Yogyakarta. Puluhan perajin duduk berdampingan, tangan mereka bergerak cepat menyulam benang polypropylene menjadi lembaran rajutan yang nantinya menjadi tas. Di sudut lain, beberapa perajin tampak menyusun potongan bunga rajut satu demi satu, menyatukannya menjadi satu kesatuan motif yang menarik sebelum ditambahkan aksesori sebagai sentuhan akhir.
Pemandangan ini menjadi pengalaman berkesan bagi Theresa Martha Manaluu, mahasiswa FEB UGM yang mengikuti Global Summer Week (GSW) 2026. Ia mengaku takjub melihat kecepatan tangan para perajin mengolah benang menjadi rajutan, sesuatu yang belum pernah ia saksikan langsung sebelumnya.
“Saya pikir lebih tentang kerajinannya, karena saya tidak pernah melihat orang mengerjakan itu di kehidupan nyata. Ini sangat luar biasa, bagaimana cepatnya mereka menggunakan tangan untuk mengolah benang,” katanya.
DOWA Bag merupakan produsen tas rajut yang menggandeng sekitar 1.000 perajin di berbagai desa, ditambah ratusan pekerja lain di pabrik untuk proses finishing dan quality control. Peserta diajak melihat langsung tahapan pembuatan satu produk tas yang bisa memakan waktu hingga tiga bulan, mulai dari merajut motif bunga satu per satu hingga digabungkan oleh perajin yang berbeda.

Proses penggabungan komponen sengaja dikerjakan tertutup di dalam pabrik agar desain tidak mudah ditiru sebelum produk resmi diluncurkan ke pasar. Peserta juga diperlihatkan sejarah perusahaan yang awalnya lahir dari bisnis ekspor tas rajut sejak akhir 1980-an, dengan produksi yang sempat menembus ratusan ribu potong per bulan ke pasar Amerika Serikat dan Eropa pada masanya.
Dari DOWA Bag, rombongan melanjutkan kunjungan ke PT. Ameya Livingstyle, perusahaan manufaktur garmen yang memproduksi pakaian untuk sejumlah merek internasional seperti Tommy Hilfiger, American Eagle, dan S. Oliver. Perusahaan ini mempekerjakan sekitar 2.200 karyawan dengan lebih dari 95 persen diantaranya perempuan.
Zahera Aina Binti Jessni, mahasiswa asal Universiti Brunei Darussalam, mengaku kunjungan ke PT. Ameya Livingstyle membuka wawasannya tentang dunia manufaktur yang selama ini hanya ia lihat lewat media sosial. Ia mengatakan baru pertama kali melihat langsung bagaimana pekerja pabrik bekerja menggunakan tangan mereka secara nyata.
“Ketika saya mengunjungi Ameya, ini benar-benar membuka wawasan saya. Melihat banyak pekerja yang mengerjakan begitu banyak merek, itu sangat menarik dan membuka mata saya,” ujarnya.

Di tengah stigma negatif yang sering melekat pada industri padat karya, PT Ameya Livingstyle menekankan komitmennya menjaga kondisi kerja yang layak bagi karyawan. Perusahaan membentuk tim khusus anti pelecehan untuk melindungi seluruh karyawan serta rutin menjalani audit kepatuhan sosial dari para pembeli internasional setiap tahun. Dari sisi keberlanjutan, PT. Ameya Livingstyle mengganti seluruh lampu neon dengan lampu LED dan mesin jahit bermotor dinamo dengan motor servo yang lebih hemat energi. Dalam proses pencucian kain, perusahaan hanya menggunakan sekitar 10 persen air dibandingkan metode konvensional dan tidak menghasilkan limbah.
Theresa turut menyampaikan kekagumannya terhadap sistem pembagian kerja di PT. Ameya Livingstyle. Menurutnya, setiap bagian pakaian dikerjakan secara terpisah oleh pekerja yang berbeda sebelum akhirnya digabungkan menjadi satu produk jadi.
“Mungkin itu bagian yang bagus karena mereka memiliki banyak bagian yang diperlukan. Kamu hanya membuat satu bagian, lalu di bagian tengah semuanya digabungkan menjadi satu produk yang selesai, yaitu kaus. Itu sangat luar biasa,” ucapnya. Melalui pengalaman langsung di industri, para peserta tidak hanya memperluas wawasan tentang praktik bisnis kerajinan dan manufaktur, tetapi juga mendapatkan inspirasi nyata tentang bagaimana nilai-nilai keberlanjutan dan kesejahteraan pekerja dapat diintegrasikan dalam kegiatan ekonomi.
Reportase: Dwi Zhafirah Meiliani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
