Kunjungan ke Sabila Farm menjadi pengalaman yang sulit dilupakan bagi Kateryna Lemishka. Mahasiswi asal Ukraina yang tengah menempuh studi di WU Vienna, Austria, itu untuk pertama kalinya melihat bagaimana buah-buahan tropis tumbuh di perkebunan. Perjalanan tersebut kemudian membawanya ke Cokelat Monggo, tempat ia menyaksikan bagaimana biji kakao diolah menjadi cokelat yang selama ini hanya ia nikmati sebagai produk jadi.
Pengalaman itu menjadi bagian dari rangkaian company visit Global Summer Week (GSW) 2026 yang berlangsung pada Sabtu (19/7/2026). Melalui kunjungan ke Sabila Farm dan Cokelat Monggo, para peserta dari lima negara ini diajak mengenal lebih dekat bagaimana kekayaan alam Indonesia tidak hanya menghasilkan komoditas, tetapi juga menciptakan nilai tambah melalui inovasi, keberlanjutan, dan kreativitas masyarakat lokal.
Di Sabila Farm, peserta menyusuri kebun yang membudidayakan berbagai buah tropis, seperti jeruk, pepaya, dan buah naga. Sambil berjalan di antara pepohonan, mereka mendengarkan penjelaskan tentang proses budidaya tanaman, mulai dari penanaman bibit, perawatan, hingga masa panen. Bagi sebagian besar peserta internasional, termasuk Kateryna, pengalaman tersebut menjadi momen pertama melihat secara langsung perkebunan buah tropis di Indonesia.
“Saya sangat menyukai kunjungan di Sabila Farm. Dari sini saya menjadi tahu bagaimana jeruk itu tumbuh, dan di sini juga saya baru mengetahui buah-buahan tropis seperti pepaya,” ujarnya.
Tidak hanya memperkenalkan budidaya tanaman, Sabila Farm juga menunjukkan bagaimana konsep pertanian berkelanjutan diterapkan. Limbah kulit jeruk yang telah dipanen kemudian dimanfaatkan untuk menjadi eco-enzym, sebuah pupuk organik yang berguna untuk menyuburkan tanah, memberikan nutrisi bagi tanaman, sekaligus membantu mengendalikan hama secara alami. Melalui praktik tersebut, peserta melihat bahwa limbah pertanian pun dapat diolah kembali menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Suasana belajar kemudian berubah menjadi lebih santai ketika peserta diajak menikmati rujak, kuliner tradisional Indonesia yang memadukan aneka buah lokal dengan sambal khas. Perpaduan rasa manis, asam, pedas, dan segar menghadirkan pengalaman baru, terutama bagi peserta internasional yang baru pertama kali mencicipinya.
“Makanan ini (rujak) mengingatkanku pada apel, tapi ini bukan apel. Rasanya manis dan asam di saat yang bersamaan, kombinasi yang sangat menarik,” ucap Katerina sambil mengenang kesan pertamanya mencicipi rujak.
Perjalanan kemudian berkanjut menuju Cokelat Monggo, salah satu produsen cokelat khas Yogyakarta yang dikenal mengolah biji kakao Indonesia menjadi produk premium dengan sentuhan budaya lokal. Di lokasi ini, peserta diajak menyusuri museum cokelat sebelum memasuki area produksi ini untuk melihat secara langsung setiap tahapan pembuatan cokelat secara langsung.
Para peserta GSW diajak melihat langsung proses pengolahan biji kakao, pencampuran bahan, pencetakan, hingga penambahan berbagai varian rasa diperlihatkan secara rinci. Mereka tidak hanya mengamati, tetapi juga berkesempatan mencoba beberapa proses sederhana sehingga pengalaman belajar terasa lebih dekat dan interaktif.

Bagi Katerina, menyaksikan bagaimana setiap tahapan produksi cokelat secara langsung menjadi pengalaman yang sangat unik.
“Saya sangat suka melihat setiap proses produksi cokelat, bagaimana mereka mengolah biji kakao yang masih alami tersebut, kemudian menambahkan rasa, dan membentuknya menjadi batangan cokelat yang lezat. Semuanya menarik. Saya juga membeli beberapa produk sebagai oleh-oleh untuk keluarga saya di Ukraina,” ungkapnya.
Bagi Kateryna, sehari menjelajahi kebun buah dan pabrik cokelat memberikan cara baru untuk memahami Indonesia. Ia tidak hanya mengenal kekayaan alamnya, tetapi juga melihat bagaimana masyarakat lokal mengolah potensi tersebut menjadi produk bernilai melalui inovasi dan keberlanjutan.
“Aktivitas hari ini sangat menarik. Kami melihat bagaimana masyarakat lokal memanfaatkan potensi di dua industri yang berbeda. Melalui kegiatan ini kami menjadi lebih tahu bagaimana berbagai industri lokal dikelola di Indonesia. Ini menjadi wawasan baru bagi kami, terutama peserta internasional,” tuturnya.
Rangkaian company visit dalam Global Summer Week 2026 menunjukkan bahwa pembelajaran lintas budaya tidak selalu berlangsung di dalam ruang kelas. Dari kebun buah di lereng Merapi hingga pabrik cokelat di Yogyakarta, setiap destinasi menghadirkan cerita tentang bagaimana kekayaan alam Indonesia dapat tumbuh menjadi produk bernilai melalui inovasi, keberlanjutan, dan kreativitas masyarakat. Bagi para peserta, perjalanan tersebut bukan sekadar kunjungan lapangan, tetapi pengalaman yang mempertemukan pengetahuan akademik dengan praktik nyata di lapangan.
Reportase: Najwa Anggi Namira
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
