Meraih gelar sebagai wisudawan terbaik Program Pascasarjana FEB UGM sekaligus predikat Valedictorian (lulusan terbaik) The University of Queensland (UQ) menjadi pencapaian yang tidak pernah dibayangkan oleh Fajar Munichputranto. Prestasi tersebut ia raih melalui program double degree di Program Magister Manajemen FEB UGM dan The University of Queensland.
Di balik capaian ini, tersimpan kisah tentang ketekunan, kerja keras, dan upaya untuk terus mendorong praktik bisnis yang berkelanjutan di Indonesia. Perjalanan akademik yang dilalui Fajar tidak hanya tentang pencapaian pribadi, tetapi juga tentang bagaimana pengalaman tersebut membentuk karakter dan visi masa depannya.
“Kedua capaian ini menjadi bagian dari hidup yang paling berkesan. Dari sini, saya mendapatkan kesempatan untuk memperoleh begitu banyak pengalaman studi, kehidupan, dan relasi dalam waktu yang relatif singkat,” ujar Fajar, yang menjalani program magister dengan beasiswa LPDP ini.

Menempuh studi di dua negara memberikan pengalaman belajar baru bagi Fajar. Meski FEB UGM dan UQ berada di lingkungan yang berbeda, keduanya mengajarkan hal yang sama, yaitu menghargai keberagaman perspektif.
“Perbedaannya, secara umum, di FEB UGM, keberagaman muncul dari pengalaman kerja dan latar belakang pendidikan. Sedangkan dalam skala internasional seperti di UQ, keberagaman muncul dari perbedaan nilai, budaya, konteks, dan sudut pandang yang lebih luas,” ungkapnya.
Pengalaman tersebut membentuk kebiasaannya untuk mengedepankan integritas, objektivitas, dan kesetaraan dalam setiap diskusi sehingga menghasilkan ruang diskusi yang terbuka dan saling bertenggang rasa.
Selain budaya belajar, Fajar juga merasakan perbedaan dalam sistem pembelajaran di kedua universitas tersebut. Partisipasi aktif mahasiswa dan ruang diskusi dalam kelas memiliki andil yang cukup besar dalam penilaian di FEB UGM, sedangkan aspek penilaian di UQ sangat rinci dengan standar penilaian yang beragam di tiap mata kuliah dan dosen. Perbedaan inilah yang membuatnya harus menerapkan strategi belajar yang berbeda.
Di saat yang sama, Fajar juga harus menyeimbangkan perkuliahan dengan aktivitas profesional yang masih dijalaninya. Fajar juga tetap menjalankan tanggung jawab profesional dengan mengelola bisnis keluarga di bidang waste-to-energy (WtE), yaitu sektor yang berfokus pada pengolahan limbah organik menjadi energi terbarukan. Sebagai Wakil Direktur PT Cipta Visi Sinar Kencana, ia terlibat dalam perencanaan dan perancangan teknis berbagai proyek yang melibatkan perusahaan multinasional. Untuk menjaga seluruh peran tersebut berjalan seimbang, Fajar mengandalkan penyusunan skala prioritas dan pemanfaatan kalender digital sebagai alat utama untuk mengatur waktu.

Lebih lanjut, Fajar mengungkapkan bahwa banyak aspek dari ilmu yang diperoleh selama program MBA dapat diterapkan dalam pengembangan bisnis waste-to-energy di Indonesia, seperti analisis kelayakan finansial melalui pendekatan sustainable atau green finance, serta kuantifikasi nilai sosial mengingat besarnya potensi manfaat sosial dari WtE.
Ia menyebutkan mata kuliah Business Ethics for Sustainability di FEB UGM membentuk cara pandangnya terhadap etika dalam dunia bisnis, sedangkan mata kuliah Social Entrepreneurship in Practice di UQ memperluas pemahamannya tentang validasi ide bisnis sekaligus penciptaan nilai sosial.
Berkaca pada perjalanan kariernya dari dunia perbankan hingga menyelesaikan studi MBA, Fajar mengaku memperoleh pelajaran penting tentang pengambilan keputusan.
“Inti dari pengambilan keputusan adalah melihat manfaat atau keuntungan yang didapatkan, biaya atau sumber daya yang dibutuhkan, serta memitigasi risiko. Setelah menjalani perkuliahan, saya belajar menambahkan satu aspek penting, yaitu etika,” jelasnya.
Menurutnya, lulusan MBA saat ini perlu memiliki kemampuan analisis, pemecahan masalah, serta keterampilan dalam menyampaikan gagasan secara efektif dan efisien. Kompetensi tersebut menjadi semakin penting seiring meningkatnya pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) di berbagai sektor.
Di balik seluruh pencapaiannya, Fajar meyakini bahwa pencapaian ini bukan semata-mata hasil kerja keras pribadi, melainkan juga dukungan dan doa dari orang tua serta istri yang selalu menyertai perjalanannya dalam menempuh studi.

“Saya tidak henti-hentinya bersyukur atas anugerah dari Tuhan serta berterima kasih atas dukungan orang tua dan istri dalam menjalani proses studi yang tidak mudah ini,” ungkapnya dengan penuh rasa syukur.
Ia menambahkan kunci utama untuk meraih prestasi adalah bukan berambisi menjadi yang pertama, namun selalu memberikan yang terbaik sesuai keyakinan dan standar individu maupun kelompok.
Bagi mahasiswa yang masih ragu untuk mengikuti program double degree, Fajar yakin bahwa program ini memberikan pengalaman yang sangat berharga. Menurutnya, program ini menawarkan kesempatan yang lebih luas kepada mahasiswa dalam satu kali masa studi, ibarat peribahasa: sekali mengayuh, dua tiga pulau terlampaui.
“Benefit yang didapatkan sebagai mahasiswa menjadi saling melengkapi, seperti akses ke jurnal bereputasi, kesempatan mengikuti kompetisi dan berbagai inkubator bisnis/venture berskala internasional, serta memperluas jejaring baik akademisi, dosen, maupun mitra bisnis,” jelasnya.
Ia juga berpesan kepada mahasiswa yang bercita-cita memperoleh Beasiswa LPDP ataupun yang ingin menempuh studi di luar negeri untuk menetapkan tujuan yang ingin dicapai.
“Tanyakan dalam diri dan gali secara matang apa yang ingin didapatkan dari memperoleh beasiswa dan kuliah di luar negeri,” pesannya.
Reportase: Shofi Hawa Anjani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals








