Dewasa ini, media sosial menjadi begitu lekat dalam kehidupan kebanyakan orang. Sering pula kita jumpai berbagai fenomena terkait pemanfaatannya di berbagai bidang, misalnya mulai dari motif profesional sebagai sarana pencarian pekerjaan hingga motif personal sebagai sarana pencarian jodoh. Dalam proses pemanfaatan media sosial ini, tak dipungkiri terdapat kecenderungan seseorang untuk menilai orang lain berdasarkan apa yang ditampilkan di media sosialnya. Hal ini pun menjadi inspirasi untuk menggali lebih dalam strategi presentasi diri pengguna media sosial agar dapat memperoleh penilaian positif dari pengguna lain.
Terinspirasi dari fenomena tersebut, sebuah penelitian pun dilakukan dan hasilnya kemudian dipresentasikan melalui acara Webinar Magister Sains dan Doktor Research Forum (MD REFO) pada Jumat (10/12). MD REFO merupakan webinar yang bertujuan untuk pengembangan keilmuan dan diselenggarakan secara periodik dengan menghadirkan dosen-dosen di FEB UGM sebagai narasumber. Webinar MD REFO seri ke-1 kali ini menampilkan Widya Paramita, M.Sc., Ph.D. sebagai narasumber dengan judul bahasan “Don’t Judge a Person by His/Her Social Media Account: Strategi Presentasi Diri Melalui Media Sosial” yang mampu meningkatkan wawasan serta pengetahuan di bidang pemasaran.
Penelitian terkait topik strategi presentasi diri melalui media sosial ini bertujuan untuk menguji faktor kondisional yang menyebabkan variasi efektivitas strategi humblebragging. Humblebragging secara objektif merupakan pelanggaran norma, tetapi peneliti ingin mencari tahu kapan humblebragging dapat diterima dan kapan tidak dapat diterima oleh para pengguna media sosial. Metode penelitian dilakukan melalui desain eksperimental yang melibatkan influencer (individu dengan status sosial lebih rendah) dan selebriti (individu dengan status sosial lebih tinggi) dalam melakukan humblebragging atau bragging secara langsung.
Berdasarkan presentasi Widya, strategi presentasi diri adalah upaya seseorang untuk mengelola kesan atau impresi orang lain terhadap dirinya, karena secara umum orang ingin dipersepsikan secara positif oleh orang lain. Terdapat berbagai macam kategorisasi strategi presentasi diri; salah satu contohnya adalah bragging dan humblebragging yang menjadi bahasan utama dalam penelitian ini. Humblebragging adalah strategi presentasi diri dengan cara menutupi niat menyombongkan diri, misalnya dengan merendahkan diri. Humblebragging dipandang efektif untuk mempromosikan aspek positif, tetapi di sisi lain justru menimbulkan persepsi negatif. Bahkan, penelitian Sezer, Gino & Norton (2018) menemukan bahwa perilaku menyombongkan diri secara terang-terangan dinilai lebih positif dibandingkan humblebragging.
Kesimpulan hasil penelitiannya, walaupun secara umum humblebragging dinilai negatif, pengguna media sosial menilai humblebragging lebih positif jika dilakukan oleh selebriti dibandingkan influencer. Orang menganggap sangat wajar bagi influencer untuk menyombongkan diri secara terang-terangan demi meningkatkan statusnya. Justru ketika melakukan humblebragging, mereka akan dinilai kurang bersyukur atau tidak kompeten dan menimbulkan rasa marah (iritasi) pada pengguna media sosial lain.
Reportase: Kirana Lalita Pristy/Sony Budiarso.