Menciptakan pembangunan ekonomi yang sirkular dan ramah lingkungan merupakan salah satu tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Pakar ekonomi dari Crawford School of Public Policy, Australian National University (ANU), Prof. Budy P. Resosudarmo, menyampaikan bahwa pembangunan ekonomi tidak hanya mencakup aspek ekonomi, tetapi juga aspek pengembangan manusia dan keberlanjutan lingkungan.
Hal tersebut disampaikan Budy dalam sesi pertama seri kuliah bertajuk Meningkatkan Proses Penelitian dalam Ekonomi Lingkungan yang diadakan oleh Program Studi Magister Sains dan Doktor (MD), Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB UGM), pada Senin (2/9) di Auditorium Prodi MD FEB UGM.
Budy menjelaskan bahwa pengembangan manusia diukur dalam tiga aspek, yaitu ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Sedangkan tujuan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan tercermin dalam prinsip-prinsip SDGs 2030.
Lebih lanjut, Budy mengatakan bahwa sumber daya dan peluang yang tersedia saat ini harus dikelola dengan baik agar generasi mendatang juga dapat menikmatinya tanpa merugikan atau membebani mereka. “Kita boleh membangun dan menikmati apa pun yang ada di dunia ini, asalkan generasi anak-cucu kita tetap dapat menikmati dunia yang kita nikmati saat ini. Oleh karena itu, sebenarnya yang ditekankan dalam pembangunan berkelanjutan adalah keadilan antargenerasi, bukan kesetaraan di mana setiap generasi mendapatkan jumlah yang sama,” jelas Budy.
Budy juga memperkenalkan konsep triple bottom line, yaitu konsep dalam akuntansi yang mengukur dampak sosial dan lingkungan dari suatu kegiatan terhadap kinerja finansial perusahaan. Menurutnya, setiap kebijakan dan proyek pembangunan harus dapat memenuhi konsep ini yang terdiri dari pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan manusia, dan keberlanjutan lingkungan. Namun, Budy mencatat bahwa aspek keberlanjutan lingkungan sering kali sulit diterapkan jika tidak memberikan nilai tambah.
“Kebanyakan sumber daya alam adalah milik bersama, sehingga sulit untuk memberikan nilai ekonomi. Padahal, keberlanjutan membutuhkan nilai tambah dan kemampuan pengelolaan lingkungan yang baik,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Budy juga membahas eksploitasi lingkungan di Indonesia. Sejak era orde baru, eksploitasi alam merupakan motor penggerak pertumbuhan ekonomi. Hal ini dilakukan dengan memperbolehkan Foreign Direct Investment (FDI) masuk dan mengeksploitasi SDA di Indonesia. Kemudian, hasil yang diperoleh dari investasi asing ini digunakan kembali untuk membangun infrastruktur di Tanah Air. Strategi pertumbuhan ekonomi di era Orde Baru ini pun mampu menurunkan angka kemiskinan dengan cukup tajam hingga 40 persen pada tahun 1970-an. Namun, seiring semakin menurunnya kualitas lingkungan di Indonesia, strategi ini tidak lagi efektif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Strategi ini sudah tidak bisa berjalan lagi, sedangkan sumber daya kita terus berkurang dan kebutuhan energi kita terus meningkat. Kita pun gak bisa mengandalkan minyak dan gas lagi; energi terbarukan juga sedikit,” terangnya.
Oleh karena itu, Budy memandang perlunya transformasi energi di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa terdapat tiga aspek transformasi energi, yaitu meningkatkan intensitas penggunaan energi terbarukan, mengintegrasikan energi regional, dan secara bertahap menghentikan penggunaan energi non-terbarukan. Untuk mendukung transformasi energi ini, pemerintah berencana menerapkan sistem perdagangan karbon pada tahun 2025, membangun pembangkit listrik dari energi terbarukan, mempromosikan kendaraan listrik di Indonesia, merestorasi hutan mangrove, serta menerapkan ekonomi sirkular.
Namun, Budy menekankan bahwa integrasi energi di seluruh negeri melalui pembangunan jaringan listrik Nusantara Super Grid merupakan kunci. Adanya Super Grid ini akan memaksimalkan potensi energi terbarukan, mempercepat dekarbonisasi, serta menjamin stabilitas energi. Sebagai alternatif, Indonesia juga dapat terhubung ke jaringan Asia Super Grid milik China atau Super Grid dari Australia. “Indonesia ada di posisi yang strategis. Oleh karena itu, kesempatan untuk terhubung dengan jaringan renewable energy dari negara tetangga (China dan Australia) pun besar,” paparnya.
Reportase: Najwah Ariella Puteri
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)





