Berkarier di bidang keuangan menjadi impian sebagian besar mahasiswa, terutama lulusan Fakultas Ekonomika dan Bisnis, termasuk FEB UGM. Meskipun begitu, banyak yang masih bingung dalam menentukan perusahaan keuangan yang tepat serta cara memulai karier di industri tersebut.
Untuk menjawab persoalan tersebut, FEB UGM melalui kegiatan Career Insight 2024 mengundang Charles Gultom, Executive Director JPMorgan Indonesia sekaligus alumni Akuntansi FEB UGM, untuk berbagi pengalaman berkarier di sektor keuangan. Charles Gultom membagikan ceritanya dalam membangun karier sekaligus mengenalkan JPMorgan dalam talk show bertajuk “Stepping Into the Financial World: Career Paths and Opportunities” yang berlangsung di Grha Sabha Pramana (GSP) UGM pada Kamis, 17 Oktober 2024.
Charles menceritakan bahwa salah satu tokoh yang berperan besar dalam membentuk kariernya di bidang keuangan adalah (Alm.) Dr. Nur Indriantoro adalah dosen pembimbingnya saat kuliah di Program Studi Akuntansi UGM. Charles mengatakan bahwa (Alm.) Dr. Nur merupakan sosok yang menyarankan untuk memulai karier di kantor akuntan yang kemudian menjadi pintu masuknya ke karier di bidang keuangan. “Dari sana, saya mendapatkan kesempatan untuk bekerja sebagai auditor di Amerika Serikat, hingga akhirnya kembali ke Indonesia dan kini berkarier di JPMorgan,” jelas Charles.
Dalam kesempatan itu ia juga menjelaskan mengenai perusahaan JPMorgan. Ia mengungkapkan bahwa saat ini masih terjadi salah paham di masyarakat terhadap perusahaan JPMorgan. Tidak sedikit masyarakat yang menganggap bahwa bank hanya melayani nasabah perorangan, seperti bank konsumen yang sering ditemui dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, JP Morgan merupakan investment bank yang berfokus pada penyediaan layanan bagi perusahaan, pemerintah, dan investor institusi, sehingga memang tak mengherankan jika bank ini kurang dikenal oleh masyarakat luas. Hal ini tentunya perlu dipahami oleh calon pekerja agar tidak salah langkah dalam memilih perusahaan. “Kami menyediakan layanan seperti penggalangan modal, konsultasi mergers and acquisitions (M&A), underwriting, dan konsultasi keuangan untuk transaksi keuangan berskala besar. Tak hanya itu, kami juga menawarkan manajemen aset dan manajemen kas untuk perusahaan,” jelasnya.
Menanggapi antusiasme audiens mengenai JP Morgan, ia pun menyampaikan informasi mengenai kesempatan magang di JP Morgan bagi mahasiswa semester akhir yang tertarik. Terdapat summer internship yang berupa program magang singkat selama 10-12 minggu. Program magang ini dibuka sekitar bulan Agustus/September dan ditutup sekitar bulan Oktober/November. Selama program magang ini, pemagang akan diberikan proyek serta kasus-kasus dari klien yang harus mereka selesaikan. Di akhir program, mereka diharuskan mempresentasikan hasil kerja mereka di hadapan manajemen puncak. Menariknya, sekitar 80% dari para pemagang akan diterima sebagai karyawan tetap dan bergabung pada tahun berikutnya.
Di akhir paparannya, Charles membagikan tips tentang cara melamar program magang di JPMorgan. Pertama, pada tahap seleksi berkas, pelamar harus membuat lamaran yang semenarik dan selengkap mungkin. Pada tahap ini, menurutnya, nama universitas dan IPK akan dilihat juga. Kedua, perusahaan mencari karyawan yang memiliki inisiatif tinggi dan gemar belajar. Pengalaman dalam kepanitiaan dan organisasi juga dilihat karena berhubungan dengan kemampuan kita untuk bersosialisasi dan bekerja sama dengan orang lain. Ketiga, perbanyak pengalaman magang di perusahaan lain karena hal ini menunjukkan bahwa kita sudah terekspos pada dunia kerja. Terakhir, kemampuan presentasi yang baik sangat penting. Hal ini tak hanya terkait presentasi pekerjaan atau tugas tetapi lebih kepada kemampuan pelamar dalam mempresentasikan nilai serta kemampuan diri mereka sendiri, dan meyakinkan perekrut untuk menerima mereka. “Kemampuan menunjukkan diri sendiri dan meyakinkan orang lain itu penting, karena pada akhirnya, bisnis adalah tentang bagaimana kamu dapat meyakinkan orang lain untuk percaya pada kita,” tutup Charles.
Reportase: Najwah Ariella Puteri
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)


