Suasana hangat dan penuh nostalgia menyelimuti pertemuan reuni akbar Keluarga Alumni Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada Angkatan 1989 (KAFEGAMA 89) pada Sabtu, 2 November 2024.
KAFEGAMA 89 menggelar acara reuni untuk merayakan 35 tahun perjalanan bersama bertajuk “KAFEGAMA 89: Tiga Puluh Lima Tahun dan Bertemu”, yang mempertemukan alumni lintas program studi seperti Manajemen, Akuntansi, dan Ilmu Ekonomi untuk berbagi kenangan, menguatkan kembali persahabatan, serta merasakan perubahan yang telah terjadi sejak mereka meninggalkan kampus.
Acara reuni dibuka dengan campus tour yang mengajak para alumni mengenang suasana kampus dan melihat perkembangan terbaru. Para alumni tampak antusias mengikuti tur ini, sembari mengenang masa-masa kuliah dan melihat berbagai fasilitas terkini yang tersedia di FEB UGM.
Ketua panitia reuni KAFEGAMA 89, Ahmad Syakir, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada FEB UGM yang telah menerima para alumni kembali ke kampus melalui kegiatan reuni. Dengan reuni ini, para alumni dapat berkumpul kembali untuk melihat perkembangan kampus serta sebagai ajang melepas rindu.
“Alhamdulillah, sejak sepuluh tahun lalu, kita memulai tradisi reuni resmi setiap lima tahun sekali. Dimulai dari perayaan 25 tahun, 30 tahun, hingga kini 35 tahun. Insyaallah, kita masih bisa berkumpul lagi di perayaan 40 tahun dan seterusnya,” tambahnya dengan penuh harapan.
Dekan FEB UGM, Prof. Dr. Didi Achjari, M.Com., Ak., CA., yang turut hadir sebagai alumni menyambut baik kegiatan reuni yang diselenggarakan oleh KAFEGAMA 1989. Ia melihat antusiasme yang cukup besar dari para alumni yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk hadir dalam reuni ini.
“Selamat datang kembali di FEB UGM. Momen bertemu setelah 35 tahun menjadi sesuatu yang sangat membahagiakan, terutama karena bisa kembali berkumpul dan mengenang masa lalu bersama. Harapannya, reuni ini bukan hanya ajang nostalgia, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memberikan kontribusi nyata bagi fakultas, seperti melalui program mentoring sesuai dengan keahlian masing-masing alumni,” tambahnya.
Salah satu perwakilan KAFEGAMA 89, Prof. Dr. Lincolin Arsyad, M.Sc., yang juga Guru Besar FEB UGM, menambahkan kesan dalam acara reuni ini. Ia berharap angkatan 89 bisa selalu kompak. Selain itu, ia juga berharap FEB UGM ke depan dapat semakin maju dan berkembang.
Rapat ini dihadiri oleh beberapa dosen tamu dan 90 alumni FEB UGM angkatan 1989 dari berbagai program studi. Salah satu alumni yang turut hadir adalah Anies Rasyid Baswedan. Anies, saat diwawancarai tentang pengalaman selama kuliah di FEB UGM, mengungkapkan bahwa ia memiliki banyak pengalaman yang sangat berkesan. “Yang paling berkesan adalah ketika saya sedang berorasi untuk kampanye pemilihan ketua senat. Yang melihat banyak sekali sampai di lantai atas, disoraki dan diberi tepuk tangan, ramai sekali,” kenangnya sambil tertawa.
Anies juga mengungkapkan bahwa ia dan teman-teman angkatannya merupakan angkatan pertama yang kuliah di gedung FEB UGM. Sementara angkatan sebelumnya, menjalani perkuliahan di Gedung Pusat UGM. Tak hanya mengenang masa-masa saat menjalani kuliah, Anies juga menyampaikan harapan kepada mahasiswa FEB UGM saat ini.
“Harapannya adalah mahasiswa memiliki kompetensi di level kelas dunia dan kepedulian terhadap masyarakat sekitar. Saya berharap dari FEB UGM lulusannya bisa berada di gelanggang global sampai pada saat yang sama dapat bekerja dengan masyarakat,” harapnya.
Penyerahan kenang-kenangan dari KAFEGAMA 89 kepada FEB UGM disampaikan kepada Didi dan Lincolin sebagai simbol apresiasi dan ikatan kekeluargaan. Acara diakhiri dengan foto bersama di beberapa titik, seperti Ruang Alumni, Ruang T 101, dan Area Telur Dino, untuk mengabadikan momen istimewa ini, ketika para alumni tersenyum penuh kehangatan dan semangat kebersamaan.
Reuni 35 tahun ini bukan hanya sekadar pertemuan, melainkan juga wujud komitmen Kafegama 89 untuk terus menjaga hubungan yang erat dengan almamater tercinta. Semoga reuni ini menjadi kenangan manis dan menginspirasi generasi alumni FEB UGM di masa depan.
Reportase: Shofi Hawa Anjani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)




