Mata Alza Nashuha Shahhira tak henti melihat pion-pion di atas papan catur. Dalam hening, ia berpikir dan menyusun strategi dengan cepat. Jari lentiknya perlahan namun penuh keyakinan memindahkan pion demi pion dengan presisi.
Mahasiswa Program Studi Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) ini akhirnya bisa menyelesaikan pertandingan catur dalam ajang Pekan Olahraga dan Seni Universitas Gadjah Mada (PORSENIGAMA) 2025 dengan hasil maksimal. Ia berhasil meraih medali emas pada kategori catur kilat putri
Bagi mahasiswa angkatan 2022 ini prestasi yang diperoleh bukanlah kemenangan yang diperoleh secara instan. Keahlian bermain catur merupakan hasil dari proses panjang. Alza mulai menekuni olahraga catur sejak kelas 2 SD. Bermula dari melihat sang ayah yang kerap bermain catur, ia pun mulai tertarik menjajal olahraga asah otak ini.
Ketertarikan Alza pada catur semakin menguat setelah guru olahraga di sekolah menawarinya untuk berlatih catur di klub lokal. Ia pun menuruti saran sang guru, tetapi hanya sekadar untuk mengisi waktu luang dan mencari teman.
Seiring waktu, motivasi Alza bergeser dari hobi ke prestasi. Dukungan orang tua, pelatih, teman-teman yang suportif, serta adanya insentif dan sponsor dari pemerintah setempat membuatnya semakin termotivasi untuk ikut kompetisi. Budaya sparing dan kompetisi internal di klub sejak awal juga mendorong Alza untuk serius menekuni catur. Beberapa prestasi yang pernah diperoleh Alza antara lain Juara 2 di Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Jawa Timur untuk Kelompok Usia 8 Tahun (2012) dan Juara 2 Kejuaraan Nasional (Kejurnas) di Jakarta pada Kelompok Usia 8 Tahun (2012).
Saat disinggung tentang keikutsertaannya dalam PORSENIGAMA 2025, Alza mengaku secara disiplin berlatih catur di tengah kesibukannya menyusun skripsi. Ia menyisihkan waktu sekitar 1-2 jam per hari untuk mengasah kemampuan bermain catur. Menurutnya, evaluasi mandiri usai latihan menjadi kunci penting dalam meningkatkan kualitas permainan, terutama saat pengambilan keputusan di bawah tekanan waktu yang cukup singkat.
“Beberapa minggu awal aku pakai untuk belajar teori opening baik putih maupun hitam melalui youtube dan website khusus. Setelah itu, aku sparing secara daring dari aplikasi dan website sesuai dengan ketentuan durasi PORSENIGAMA 2025. Dari situ aku bisa menganalisis kesalahan dan mengevaluasinya,” jelasnya.
Alza mengungkapkan tantangan terbesar saat bertanding di PORSENIGAMA 2025 justru datang dari proses adaptasi setelah lama tidak aktif bertanding. Namun, dengan memilih pendekatan yang lebih santai dan menikmati setiap pertandingan, ia merasa lebih rileks secara mental dibandingkan pengalaman bertanding di masa lalu. Pendekatan tersebut membantunya tampil lebih tenang sehingga berhasil meraih medali emas pada kategori catur kilat putri.
Pada cabang olahraga catur PORSENIGAMA 2025, FEB UGM juga berhasil membawa pulang medali perak pada kategori catur kilat putra. Medali perak berhasil disumbangkan oleh Vaio Alfitrah Hazaraqi, mahasiswa Program Studi Manajemen angkatan 2023.
Bagi Vaio, catur bukanlah pilihan pertama dalam hidupnya. Namun siapa sangka justru dari sanalah ia berhasil mengembangkan diri dan mengantongi sederet prestasi yang membanggakan dari berbagai kejuaraan.
Ketertarikan Vaio pada olahraga catur karena adanya jalur prestasi untuk masuk SMP favorit di kotanya serta pengaruh teman sekelas yang sangat menyukai catur. Awalnya, catur hanya dijadikan hobi dan sarana bermain bersama teman, terutama setelah ia beralih menekuni badminton. Namun, seiring berjalannya waktu dan keberhasilan dalam beberapa kejuaraan di tingkat kota Jember, ia mulai melihat potensi diri dan memutuskan menekuni catur secara serius dengan berorientasi pada prestasi.
Beberapa prestasi yang berhasil diraih oleh Vaio diantaranya Juara 3 Penang Chess Festival, Malaysia (2020), Juara 2 Unnes Chess Championship (2024), Juara 1 Nasional Universitas Diponegoro Dipo Chess Tournament (2025), Juara 1 Superchess National Tournament III Kategori Mahasiswa (2025), Juara 1 Rector Cup UIN SGD Bandung Kategori Mahasiswa (2025).
Saat ditanya tentang persiapan dalam PORSENIGAMA 2025, ia mengungkapkan konsisten berlatih dengan teman satu tim di FEB UGM. Dari latihan ia menganalisis strategi lawan yang dijadikan sebagai kunci utama strategi permainan. Ia mempelajari gaya bermain, dan mengidentifikasi celah permainan lawan.
Vaio memaknai raihan medali perak di PORSENIGAMA 2025 sebagai ruang evaluasi diri. Meski merasa hasil tersebut belum sepenuhnya memuaskan, ia menilai pengalaman tersebut memberi banyak pelajaran berharga dalam perjalanan prestasinya.
“Secara hasil sebenarnya kurang memuaskan karena sejak 2023 sampai sekarang saya selalu berada di posisi runner-up. Namun, dari pengalaman ini saya memperoleh banyak bahan evaluasi yang sangat berarti,” ujar Vaio yang menjadikan Grandmaster Utut Adianto sebagai role model baginya .
Ia menambahkan bahwa proses evaluasi tersebut turut memperkaya pemahamannya dalam menghadapi kompetisi berikutnya. Sepanjang tahun 2025, Vaio berhasil meraih sejumlah prestasi pada berbagai ajang kejuaraan mahasiswa nasional. Ia menilai bahwa capaian tersebut merupakan hasil proses evaluasi dan pembelajaran yang berkelanjutan, salah satunya dari pengalaman PORSENIGAMA 2025.
Keberhasilan Alza dan Vaio menunjukkan bahwa prestasi tidak semata dimaknai sebagai capaian akhir, melainkan sebagai bagian dari proses pembelajaran dan pembentukan diri mahasiswa. Melalui disiplin, konsistensi, serta dukungan lingkungan yang suportif, Alza dan Vaio mampu menjaga keseimbangan antara tuntutan akademik dan pengembangan minat nonakademik. Pengalaman berkompetisi di bidang olahraga pun menjadi ruang tumbuh yang memperkaya perjalanan mereka selama menempuh pendidikan di FEB UGM.
Reportase: Dwi Zhafirah Meiliani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
