Ketika perekonomian Indonesia semakin terbuka terhadap dunia, kompetisi di sektor perbankan bukanlah hal yang dapat dihindari. Bapak strategi korporasi modern, Michael Porter, dalam ilmu kompetisi menyebutkan persaingan dapat dimenangkan bila perusahaan menguasai kekuatan-kekuatan untuk menang. Perbankan Indonesia harus mempersiapkan diri dengan seksama untuk memenangkan gencarnya kompetisi global. Terlebih Indonesia kelak menghadapi ASEAN Economic Community (AEC) pada tahun 2015 untuk sektor riil dan pasar modal, sedangkan perbankan sendiri baru dimulai pada 2020. Perbankan Indonesia harus menghimpun kekuatan yang merupakan kunci kesuksesan persaingan di lingkup bisnis global. Segala macam aturan bisnis dan kapabilitas institusi perbankan harus dipersiapkan dengan baik.

Tantangan perbankan Indonesia dalam berkompetisi secara global disampaikan dengan menarik oleh Budi Gunadi Sadikin, Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero), Tbk. Ikatan Bankir Indonesia (IBI) mengundang Budi Gunadi Sadikin sebagai tamu spesial dalam CEO Talk: Indonesian Banking Sector Facing Global Competition (30/10) di Auditorium BRI Gedung Magister Sains dan Doktor FEB UGM. IBI sebagai lembaga profesi para bankir Indonesia terus mendorong anggotanya untuk mengembangkan profesionalisme, mendorong kegiatan perbankan yang sehat, dan melaksanakan tata kelola usaha yang baik untuk membangun perekonomian nasional yang kuat. Salah satu upaya yang dilakukan adalah turut mengedukasi masyarakat seperti melalui forum diskusi akademis.

Budi Gunadi Sadikin memaparkan bahwa perbankan nasional pada dasarnya memiliki prestasi yang mengagumkan. Penyaluran kredit yang didorong pertumbuhan kredit produktif tumbuh cepat mencapai 20%. Kredit infrastruktur dalam lima tahun terakhir tumbuh mencapai angka 26% (CAGR). Selain itu efisiensi perbankan nasional juga bersaing kompetitif dengan perbankan regional Asia, cost efficiency ratio (CER) Bank Mandiri berada pada kisaran 38,7% mengungguli beberapa bank asing seperti OCBC 34,96%. Namun serangkaian indikator baik di atas tidak lantas memudahkan upaya perbankan nasional untuk unjuk gigi di level global. Sebaliknya, bank-bank asing semakin mudahnya membuka jaringan di Indonesia. Bank asal Singapura ataupun Malaysia mampu membuka jaringan hingga tujuh kali lipat lebih banyak di Indonesia dari jumlah jaringan yang dimiliki di negara asalnya. Angka yang jauh tidak sebanding dengan bank nasional dimana dicontohkan Bank Mandiri yang hanya memiliki 1 cabang di Singapura. Hambatan untuk memasuki pasar internasional ini harus menjadi konsen pemerintah jika ingin perekonomian Indonesia semakin unggul di mata dunia.

Tidak hanya kendala eksternal yang menyebabkan bank nasional sulit berkembang. Perekonomian internal Indonesia yang sangat fragile dan volatile membuat perbankan nasional rentan akan gejolak perekonomian. Irwan M. Habsjah, Ketua Bidang Riset, Pengkajian, dan Publikasi IBI mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki tantangan internal seperti inflasi yang tinggi, rendahnya infrastruktur dan kualitas tenaga kerja, dan lemahnya peraturan ketenagakerjaan. "Indonesia perlu melakukan penguatan teknologi agar tidak terlalu tergantung penggunaan sumber daya alam, penguatan kualitas sumber daya manusia, dan juga penguatan permodalan," jelasnya.

Sumber: Poppy/FEB