Masa pensiun kerap dipersepsikan sebagai masa istirahat setelah puluhan tahun bekerja. Namun, kesiapan finansial menjadi salah satu tantangan utama. Menurut Survey HSBC Future of Retirement, 9 dari 10 responden merasa khawatir untuk menutup biaya di masa pensiunnya.
Konsultan Keuangan, Himawan Adhi, S.T., M.M., CFP®, QWP™, AWP™, CPC, AAK, QFC™ menekankan pentingnya literasi dan disiplin keuangan agar masa pensiun tetap sejahtera. Hal tersebut ia sampaikan dalam Workshop Keuangan Praktis sebagai pembekalan masa persiapan pensiun Pra dan Pasca Purna Tugas Staf Profesional FEB UGM pada Senin (19/1/2025) di FEB UGM. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya membekali staf profesional FEB UGM yang akan memasuki masa purnatugas atau pensiun.
“Tidak ada manusia yang ingin bekerja seumur hidup. Namun, banyak orang yang gagal menyiapkan dana pensiun karena tidak menyisihkan uang selama bekerja dan hanya menunggu sisa, gaya hidup lebih besar, dan tidak disiplin,” ujarnya.
Himawan menekankan bahwa orang yang bertanggung jawab dalam pengelolaan uang pribadi adalah diri sendiri. Oleh karena itu, penting untuk memetakan antara kebutuhan dan gaya hidup dan mengelola penghasilan serta pengeluaran. Kebutuhan hidup harus dipenuhi untuk kelangsungan hidup sementara gaya hidup muncul didorong oleh gengsi.
“Berapa pun penghasilan kita, pengeluaran harus lebih kecil sehingga kita harus tahu berapa jumlah pengeluaran kita. Gaya yang dipaksakan membuat kita menjadi tidak hidup,” ujarnya.
Agar setelah pensiun tetap berpenghasilan, Himawan menegaskan pentingnya untuk menyisihkan uang sejak dini. Namun, kesadaran finansial seringkali datang terlambat. Banyak orang yang baru menyadari pentingnya investasi ketika menjelang pensiun setelah melihat teman-temannya sudah memiliki aset sementara dirinya belum mempersiapkan apapun.
“Pilihan aset yang diambil bertahun-tahun sebelumnya menjadi pembeda utama. Contohnya ada perbedaan antara aset konsumtif dan produktif. Kredit mobil cenderung akan mengalami penurunan nilai beberapa tahun berikutnya sedangkan kredit rumah justru berpotensi meningkatkan kekayaan jangka panjang,” jelasnya.
Selain itu, kegagalan finansial kebanyakan berawal dari keputusan impulsif. Skema investasi yang menjanjikan keuntungan tinggi, cepat, dan minim risiko seperti multi-level marketing (MLM) sering kali menjebak korban secara perlahan. Instrumen dengan kondisi seperti ini patut dicurigai.
“Awalnya, keuntungan memang diberikan namun itu justru mendorong korban untuk menanamkan dana lebih besar hingga akhirnya ia kehilangan seluruh asetnya. Pada prinsipnya, dalam investasi keuntungan selalu sebanding dengan risiko,” ungkapnya.
Menurutnya, sumber pendanaan hari tua idealnya merupakan kombinasi dari tabungan pribadi, dana pensiun dari pemberi kerja, dan program pensiun yang dipersiapkan oleh pemerintah.
“Pesangon adalah rezeki terduga. Jika tidak dikelola dengan baik, dana tersebut dapat habis dalam waktu singkat terutama jika digunakan untuk menutup utang yang belum terselesaikan. Utang yang disepelekan bisa mengubah hidup seseorang di masa depan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Himawan juga memberikan contoh beberapa instrumen yang tetap dapat memberi penghasilan, seperti deposito, obligasi, dan suku bunga. Emas dan properti juga dapat digunakan untuk menjaga nilai kekayaan.
“Tujuan utama perencanaan pensiun adalah untuk tetap hidup layak dan tidak bergantung pada orang lain. Dengan perencanaan yang matang, masa pensiun bukan hanya akhir dari produktivitas tetapi awal kehidupan yang seimbang,” pungkasnya.
Reportase: Shofi Hawa Anjani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
