Pengalaman panjang di dunia bisnis tidak menghentikan langkah Zaki Permana (38) untuk kembali ke bangku kuliah. Ia pun berhasil menorehkan prestasi sebagai lulusan pertama dan terbaik konsentrasi Sustainability Management Program Magister Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas dengan Indek Prestasi Kumulatif (IPK) nyaris sempurna 3,98. Capaian ini tidak hanya merefleksikan prestasi akademik, tetapi juga komitmen Zaki dalam mendorong nilai keberlanjutan.
Sebelum melanjutkan pendidikan di MM FEB UGM, Zaki telah berkecimpung di dunia usaha sejak 2015 dengan fokus utama pada sektor business to government (B2G). Ia mengelola sejumlah badan usaha yang bergerak di bidang pengadaan barang, pengembangan sumber daya manusia, software house, konsultan non konstruksi, serta konsultan keuangan. Aktivitas profesional ini membentuk pengalaman praktis yang kuat, namun memunculkan kesadaran akan keterbatasan pendekatan bisnis yang selama ini dijalankan secara intuitif.
Kesadaran tersebut menjadi titik balik yang mendorong Zaki kembali ke dunia akademik. Ia merasakan kebutuhan menata ulang praktik bisnis yang telah dijalankan secara intuitif ke dalam kerangka konseptual yang lebih sistematis dan berkelanjutan. Program MM FEB UGM dipilih sebagai ruang belajar yang dinilai mampu menjembatani pengalaman lapangan dengan ketajaman analisis dan landasan keilmuan yang kuat.
“Selama ini saya menjalankan bisnis yang sebagian besar berbasis naluri. Ketika masuk ke iklim akademik FEB UGM, saya mulai memahami peta besar mengapa sebuah keputusan diambil, apa risikonya, dan bagaimana dampaknya dalam jangka panjang,” tuturnya.

Setelah resmi menjadi mahasiswa MM UGM di tahun 2023, Zaki menemukan pengalaman belajar yang berbeda dari bayangannya. Proses pembelajaran yang menuntut kedalaman analisis, pembacaan literatur ilmiah, serta diskusi kelas yang intensif justru menjadi pengalaman yang ia nikmati. Iklim akademik tersebut secara perlahan membentuk cara berpikir yang kritis dan sistematis.
“Saya tidak memiliki latar belakang pendidikan ekonomi. Namun, di MM FEB UGM, saya justru menemukan kenikmatan dalam membaca jurnal, berdiskusi, dan mengerjakan tugas-tugas yang membentuk ulang cara berpikir saya,” ujarnya.
Untuk memperkuat dasar keilmuan, Zaki mengikuti program matrikulasi khususnya pada bidang keuangan dan manajemen. Tantangan akademik mulai dari beban membaca jurnal ilmiah hingga tuntutan analisis yang mendalam, menjadi proses adaptasi yang tidak ringan. Namun, seiring berjalannya waktu, proses tersebut justru menjadi bagian yang paling ia apresiasi dalam perjalanan studinya.
Dalam perjalanannya di MM FEB UGM, Zaki berperan aktif sebagai salah satu inisiator dibukanya konsentrasi Sustainability Management untuk kelas Senior Executive. Saat mengetahui bahwa konsentrasi tersebut belum tersedia, ia mengajukan usulan kepada manajemen program. Usulan tersebut kemudian diterima dan membuka ruang baru bagi pengembangan kajian keberlanjutan di lingkungan MM FEB UGM.
“Menurut saya, sustainability tidak hanya soal isu lingkungan, tetapi juga menyangkut keberlanjutan bisnis, kesejahteraan sosial, dan arah pembangunan ke depan. Karena itu, saya merasa konsentrasi ini penting untuk dibuka, khususnya bagi mahasiswa yang menjalankan praktik bisnis,” jelasnya.
Selama menempuh konsentrasi ini, Zaki tidak hanya belajar di ruang kelas. Ia juga terlibat dalam berbagai inisiatif, termasuk komunikasi awal dengan pemerintah daerah, perwakilan lembaga internasional, serta pemangku kepentingan kebijakan terkait penguatan agenda Sustainable Development Goals (SDGs). Pengalaman tersebut memperkaya pemahamannya bahwa isu keberlanjutan tidak dapat dilepaskan dari kolaborasi lintas sektor.

Dalam tugas akhir, Zaki mengangkat topik berjudul “Analisis Faktor Kritis Keberhasilan Proyek Lumbung Mataraman di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta”. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor kritis yang berpengaruh terhadap keberhasilan program ketahanan pangan berbasis komunitas yang didukung Dana Keistimewaan di Provinsi DIY. Melalui pendekatan positive inquiry, Zaki menyoroti peran kepemimpinan desa, dukungan kelembagaan, modal sosial, serta nilai budaya gotong royong sebagai elemen penting dalam keberhasilan program.
“Pendekatan ini saya pilih untuk memahami faktor-faktor yang membuat sebuah program publik berhasil sehingga praktik baiknya dapat diadaptasi dan dikembangkan,” ungkapnya.
Proses penyusunan tesis menjadi fase yang paling menantang dalam perjalanan akademiknya. Di bawah bimbingan Prof. Nurul Indarti Sivilokonom., Cand.Merc., Ph.D., Zaki belajar mengenai ketelitian akademik, disiplin metodologis, serta tanggung jawab dalam menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas.
Bagi Zaki, FEB UGM tidak hanya membentuk kompetensi akademik, tetapi juga karakter personal dan profesional. Integritas, semangat belajar, serta etika dalam berbisnis menjadi nilai utama yang ia rasakan selama menempuh studi. Pengalaman tersebut membawanya pada pemahaman bahwa kualitas proses belajar kerap ditentukan oleh prinsip-prinsip yang sederhana.
“Enjoy the process. Jangan hanya mengejar hasil dan mengandalkan teknologi, tetapi juga jalani prosesnya dengan sungguh-sungguh. Karena di situlah pembentukan diri yang sesungguhnya terjadi,” pesannya.
Reportase: Dwi Zhafirah Meiliani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
