Persoalan sampah organik masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Timbunan limbah rumah tangga yang tidak dikelola dengan baik tidak hanya memperparah pencemaran lingkungan, tetapi juga memicu persoalan iklim dan kesehatan.
Berangkat dari kegelisahan tersebut, Vidhyazputri Belva Aqila, mahasiswa Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM angkatan 2023 bersama empat mahasiswa Universitas Gadjah Mada menggagas WormiBox, sebuah alat dekomposer sampah organik berbasis Internet of Things (IoT) yang memanfaatkan cacing sebagai media pengurai guna mendorong terciptanya ekonomi sirkular. Inovasi ini dikembangkan dalam skema Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Kewirausahaan (PKM-K) 2025.
Gagasan yang diusung tim WormiBox berhasil meraih Juara I kategori Presentasi dan Juara III kategori Poster pada ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) 2025. Tim ini terdiri atas Azkal Anas Ilmawan (Teknik Nuklir 2022), Fikriansyah Ridwan Pratama (Teknik Fisika 2023), Vidhyazputri Belva Aqila (Akuntansi 2023), Maulana Iqbal Pambudi (Ilmu dan Industri Peternakan 2023), serta Maureen Arsa Sanda Cantika (Sistem Informasi Geografis 2022). Kolaborasi lintas disiplin menjadi fondasi penting dalam merancang produk yang tidak hanya fungsional, tetapi juga bernilai ekonomis dan berkelanjutan.
Gagasan WormiBox lahir dari keprihatinan tim terhadap meningkatnya volume food waste serta minimnya pengelolaan sampah organik di tingkat rumah tangga.

“Awalnya dari masalah food waste yang semakin marak di Indonesia, menambah jumlah sampah organik yang semakin parah, tetapi penanganan dari pemerintah maupun warga sendiri masih sangat minim. Kondisi ini berpotensi menimbulkan berbagai persoalan lingkungan apabila dibiarkan,” jelas Belva.
Melalui WormiBox, tim memilih pendekatan ekologis dengan memanfaatkan cacing sebagai media pengurai. Pilihan ini bukan tanpa alasan, sebab hasil penguraian dapat dimanfaatkan kembali. Pendekatan ini juga sejalan dengan prinsip keberlanjutan yang ingin mereka dorong di masyarakat.
“Jadi akhirnya kita membuat alat dekomposer yang bisa membantu mengurangi limbah organik, kita juga memilih cacing sebagai pengurai, yang nantinya bisa dimanfaatkan kembali dan menciptakan ekonomi sirkular,” ungkap Belva.
Dalam proses pengembangannya, WormiBox tidak lepas dari berbagai tantangan teknis. Proses ini menuntut serangkaian uji coba, revisi desain, hingga perubahan komponen. Tahap paling krusial terjadi saat pembuatan produk, ketika tim harus memastikan alat dapat digunakan dengan baik dan memberikan kenyamanan bagi konsumen.
“Yang paling berat itu saat masa-masa pembuatan produk, karena kita harus memastikan produk bisa digunakan dengan baik oleh konsumen tanpa memberikan kesulitan ataupun ketidaknyamanan,” tambah Belva.
Untuk menghadapi kendala tersebut, tim rutin melakukan diskusi internal serta pendampingan dari dosen pembina maupun dosen pembimbing. Melalui proses konsultasi yang berkelanjutan, setiap permasalahan teknis maupun konseptual dapat diidentifikasi dan diselesaikan secara bertahap. Di bawah arahan Dr. Ir. Nur Abdillah Siddiq, S.T., IPP., pengembangan WormiBox berlangsung lebih terstruktur, terarah, dan didasarkan pada evaluasi guna memastikan kualitas serta keberlanjutan produk.

Dinamika kerja tim juga menjadi salah satu pembelajaran penting dalam pelaksanaan program ini. Perbedaan latar belakang keilmuan di antara anggota tim kerap memunculkan perdebatan dan perbedaan pandangan. Namun, kondisi tersebut justru memperkaya perspektif dalam proses pengambilan keputusan. Melalui keterbukaan dalam berdiskusi, tim belajar membangun keputusan kolektif yang paling tepat bagi keberlangsungan dan pengembangan WormiBox.
Secara keseluruhan, perjalanan WormiBox memakan waktu hampir satu tahun, dimulai dari diskusi ide pada November 2024 hingga pelaksanaan PIMNAS pada 23–28 November 2025. Rangkaian seleksi, pendanaan, serta evaluasi kemajuan menjadi bagian penting dari proses tersebut. Pengalaman paling berkesan menurut tim adalah interaksi intensif dengan para dosen dan peserta dari universitas lain.
“Yang paling berkesan itu karena bisa merasakan diskusi yang mendalam bersama para dosen yang memang ahli di bidangnya, sehingga kami banyak mendapatkan ilmu baru. Selain itu, pengalaman bertemu dengan tim dari universitas lain juga sangat seru karena kami dapat melihat berbagai ide menarik serta cara mereka mempresentasikan hasil karya. Masukan dari para juri pun memberikan banyak insight baru bagi kami,” ucap Belva.
Dukungan perguruan tinggi dirasakan signifikan sepanjang proses pengembangan WormiBox, terutama melalui penyediaan jadwal bimbingan dan latihan yang intensif. Dari seluruh rangkaian proses tersebut, tim menekankan pentingnya konsistensi ide serta pendalaman produk sebagai faktor utama keberhasilan.
Belva menilai bahwa PIMNAS dan PKM merupakan program yang sangat layak untuk diikuti karena memberi ruang pembelajaran yang komprehensif. Melalui WormiBox, tim tidak hanya menghadirkan inovasi teknologi, tetapi juga menegaskan peran mahasiswa sebagai agen perubahan dalam menjawab persoalan lingkungan secara nyata.
Reporter: Dwi Zhafirah Meiliani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
