Di tengah padatnya aktivitas perkuliahan, mahasiswa kerap dihadapkan pada dua kebutuhan yang berjalan beriringan, yakni tuntutan untuk tetap produktif dan keinginan untuk sejenak bersantai. Menariknya, kedua kebutuhan ini tidak selalu bisa dipenuhi dalam satu ruang yang sama. Peluang inilah yang diambil oleh sekelompok mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM yang menghadirkan Sector Seven.
Sector Seven digagas oleh Claresta Zuhrah Aulia (Manajemen 2023), Devon Otniel Del Frey (Manajemen 2023), Siti Intan Nurasiyah (Manajemen 2023), Dafa Hentra Anjana (Manajemen 2023), dan Salsabilla Syafa Kamila (Manajemen 2023). Berlokasi di CIMB Digital Lounge FEB UGM, Sector Seven menawarkan kombinasi dua jenis minuman yang dekat dengan keseharian mahasiswa, yaitu kopi dan matcha.
Di balik namanya, Sector Seven merepresentasikan tujuh elemen utama yang menjadi fondasi kedai ini, yakni tiga nilai: strong branding, balanced approach, dan sustainability; serta empat inovasi: online order, point system, immersive experience, dan RTD yang ingin mereka hadirkan.
Solusi Minuman untuk Setiap Momen
Kopi diposisikan sebagai simbol dorongan energi dan fokus, sementara matcha menawarkan alternatif yang lebih tenang. Pendekatan ini membuat Sector Seven tidak hanya menjual produk, tetapi juga menawarkan relevansi terhadap situasi yang dialami konsumennya.
“Kadang mahasiswa butuh dorongan untuk tetap fokus, tapi di waktu lain mereka juga butuh jeda. Kami mencoba menjawab dua kebutuhan itu,” jelas Claresta.
Dalam pengembangan produknya, Sector Seven mengandalkan proses eksplorasi yang cukup intensif. Beberapa menu yang kemudian menjadi andalan antara lain Sectorize untuk kategori kopi serta Green Flag dan Red Flag untuk kategori matcha. Pemilihan menu ini tidak hanya didasarkan pada preferensi internal, tetapi juga melibatkan umpan balik dari lingkungan sekitar.
Tidak hanya itu, untuk menjawab kebutuhan mahasiswa yang serba cepat, Sector Seven juga mengembangkan sistem pemesanan berbasis website yang memungkinkan pelanggan memesan terlebih dahulu dan mengambil pesanan tanpa harus menunggu.
Terapkan Konsep Keberlanjutan
Sector Seven juga mengintegrasikan prinsip keberlanjutan dalam operasionalnya. Salah satu langkah yang dilakukan adalah tidak menggunakan sedotan plastik, mengingat sedotan merupakan salah satu penyumbang sampah plastik terbesar di dunia. Selain itu, cup yang digunakan bisa dipakai kembali hingga beberapa kali dan pengelolaan bahan baku dilakukan sedemikian rupa untuk meminimalkan limbah yang dihasilkan. Sekitar 90% bahan baku yang digunakan pun bersumber dari produk lokal.
Komitmen terhadap keberlanjutan ini tidak berhenti pada lingkungan saja. Sector Seven turut membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk bergabung sebagai barista dengan harapan kedai ini dapat menjadi ruang pembelajaran bagi mereka yang ingin mengenal dunia bisnis F&B secara langsung.
“Harapannya, walaupun nanti para barista sudah tidak di Sector Seven, mereka bisa memiliki kemandirian dan bekal yang cukup untuk melangkah ke depan,” tutur Claresta.
Implementasikan Ilmu Kuliah dalam Bisnis Nyata
Sector Seven dijalankan oleh enam barista dan lima manajer, menjadikannya ruang belajar yang dinamis. Di sinilah konsep-konsep yang dipelajari di bangku kuliah diaplikasikan, mulai dari penyusunan business plan, analisis pasar, pemahaman customer journey, hingga pengambilan keputusan yang harus dilakukan dengan cepat.
“Semua konsep yang dipelajari ternyata sangat relevan. Justru kami baru benar-benar merasakannya setelah terjun langsung,” ungkap Claresta.
Tidak ada jeda waktu seperti di perkuliahan. Setiap tantangan menuntut respons yang cepat dan setiap keputusan membawa konsekuensi nyata. Namun, di situlah nilai terbesarnya.
“Rasa ragu itu wajar dan tidak perlu dihilangkan. Yang terpenting adalah jangan biarkan keraguan itu menghalangi setiap langkahmu,” pesan Claresta.
Reportase: Dwi Zhafirah Meiliani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)






