Pariwisata tidak lagi dapat dinilai hanya dari jumlah wisatawan maupun besarnya investasi yang masuk ke suatu daerah. Lebih dari itu, pembangunan sektor pariwisata dapat berjalan tanpa merusak lingkungan, masyarakat lokal, serta identitas budaya. Hal tersebut disampaikan Guru Besar Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Prof. Wihana Kirana Jaya, M.Soc.Sc., Ph.D., dalam FEB Podcast bertajuk “Shifting the New Paradigm: Membangun Pariwisata Berbasis Komunitas dan Berkelanjutan”.
Guru Besar Departemen Ilmu Ekonomi FEB UGM, Prof. Wihana Kirana Jaya, M.Soc., Sc., Ph.D., menyampaikan bahwa paradigma pembangunan pariwisata di Indonesia saat ini masih banyak yang bersifat linear dan ekstraktif. Artinya, pariwisata sering dipandang sebagai pencetak pertumbuhan ekonomi yang diukur dengan jumlah pengunjung dan seberapa banyak uang yang dihabiskan oleh para pengunjung. Namun dibalik itu, muncullah berbagai macam eksternalitas negatif yang mampu merugikan warga di daerah pariwisata tersebut.
“Eksternalitas negatif itu yang dapat muncul seperti kerusakan lingkungan, overtourism, hingga kebocoran ekonomi. Pariwisata yang benar tidak boleh mengekstrak komunitas lokalnya,” paparnya

Menurutnya, paradigma pembangunan pariwisata perlu bergeser menuju pendekatan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Tidak hanya untuk menghasilkan profit, pariwisata juga harus menjaga keseimpbangan antara people, planet, dan prosperity. Hal ini dapat dilakukan dengan memperkuat supply chain lokal, memberdayakan UMKM lokal, dan memastikan bahwa masyarakat menjadi pelaku utama dalam aktivitas ekonomi di tempat pariwisata tersebut.
Wihana juga menyoroti tentang pentingnya community-based tourism, yakni pembangunan pariwisata yang melibatkan masyarakat lokal sebagai pelaku utamanya. Dengan pendekatan ini, masyarakat dapat merasakan langsung dampak dari adanya wisata ini secara ekonomi sekaligus menghindari adanya potensi economic leakage atau kebocoran ekonomi di luar daerah.
Lebih lanjut, ia turut memberikan penjelasan bahwa arah pembangunan pariwisata ke depan tidaklah cukup hanya dengan sustainability tourism saja. Ke depan, pariwisata perlu bergerak menuju regenerative tourism, yaitu ketika pariwisata bertujuan untuk memulihkan kembali harmoni antara manusia, budaya, ekonomi, dan alam yang ada di dalamnya.
“Ekonomi harus harmoni dengan alam, budaya, sosial, dan spiritualitas. Pariwisata seharusnya tidak hanya menghadirkan wisatawan hanya untuk berkunjung, tetapi juga untuk menjadi sarana pembelajaran tentang kehidupan, budaya, serta hubungan manusia dan lingkungannya,” terangnya.
Melalui pendekatan tersebut, Wihana berharap sektor pariwisata Indonesia dapat berkembang secara lebih inklusif, berkelanjutan, dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat lokal maupun lingkungan.
Video FEB UGM Podcast bertajuk Shifting the New Paradigm: Membangun Pariwisata Berbasis Komunitas dan Berkelanjutan selengkapnya dapat diakses melalui: http://ugm.id/MembangunPariwisataBerbasisKomunitasdanBerkelanjutan
Reportase: Najwa Anggi Namira
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
