Keberlanjutan kini tidak hanya dipandang sebagai sekadar tanggung jawab sosial dalam bisnis perusahaan. Keberlanjutan menjadi salah satu kunci utama dalam membangun pertumbuhan jangka panjang dan memperkuat daya saing perusahaan di tengah dinamika global.
Hal ini ini mengemuka dalam dalam sesi Course #1: Inclusive & Sustainable Business Model pada rangkaian Global Summer Week pada Senin (13/7/2026) di Ruang Auditorium Gedung Pusat Pembelajaran, FEB UGM. Direktur Marketing di PT Frisian Flag Indonesia, Intan Ayu Kartika mengungkapkan hasil riset McKinsey yang bahwa perusahaan yang berhasil mengelola pendapatan, profit, dan aspek Environmental, Social, and Governance (ESG) memiliki potensi mencapai pertumbuhan pendapatan di atas 10 persen dibandingkan para kompetitornya.
“Tujuan perusahaan yang dipadukan dengan praktik keberlanjutan mampu mendorong kekuatan brand, mempertahankan loyalitas pelanggan, membangun value jangka panjang hingga kemampuan menarik talenta terbaik terutama dari generasi muda yang semakin peduli terhadap isu lingkungan dan sosial,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa model bisnis berkelanjutan adalah pendekatan yang mengintegrasikan tujuan lingkungan, sosial, dan ekonomi ke dalam inti operasional perusahaan. Konsep ini dikenal dengan Triple Bottom Line, yaitu Profit, Planet, dan People.
“Konsep ini menekankan bahwa keberhasilan perusahaan tidak hanya diukur dari profit tetapi juga dapat memberikan dampak baik bagi masyarakat dan kelestarian lingkungan,” lanjutnya.
Intan turut menyoroti pentingnya inklusivitas dalam dunia bisnis. Menurutnya, perusahaan perlu menciptakan lingkungan kerja yang memberikan kesempatan setara bagi semua individu tanpa memandang latar belakang dan identitas personal.
“Dengan adanya lingkungan kerja yang beragam menciptakan perspektif yang berbeda sehingga proses diskusi menjadi lebih kaya dan menghasilkan keputusan yang lebih baik,” ungkapnya.
Intan mencontohkan inklusivitas gender dalam kepemimpinan perusahaan. Menurutnya, kehadiran perempuan dan laki-laki dalam posisi strategis akan menghasilkan pandangan yang saling melengkapi dan mempengaruhi pengambilan keputusan yang lebih baik.
Dalam kesempatan itu, Intan juga memaparkan bahwa sekitar 80 persen perusahaan menyatakan mampu mengukur secara kuantitatif tingkat pengembalian investasi (ROI) yang positif dari berbagai inisiatif keberlanjutan.
“Praktik bisnis berkelanjutan mampu menciptakan nilai ekonomi sekaligus memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat,” lanjutnya.
Intan menambahkan bahwa membangun budaya inklusif memerlukan komitmen organisasi secara menyeluruh. Salah satunya adalah menerapkan pendekatan yang sistematis terhadap inclusion and diversity (I&D).
“Hal ini dapat dilakukan dengan memperkuat peran kepemimpinan sebagai teladan, meningkatkan representasi kelompok yang beragam pada posisi strategis, menerapkan proses yang transparan dan bebas bias gender, serta mendukung pengembangan kompetensi melalui pelatihan dan program mentoring,” ujarnya.
Intan pun mengajak peserta melihat keberlanjutan sebagai konsep yang luas daripada sekadar menjaga lingkungan. Menurutnya, bisnis yang berkelanjutan juga harus menjunjung tinggi inklusivitas, menciptakan nilai bersama (shared value), serta memiliki tujuan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Pada akhirnya, sustainability bukan hanya tentang menjaga lingkungan, tetapi juga tentang menciptakan bisnis yang inklusif, bertanggung jawab, dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Bisnis yang sukses di masa depan adalah bisnis yang memiliki tujuan, bukan sekadar mengejar keuntungan,” pungkasnya.
Reportase: Shofi Hawa Anjani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
