Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Widya Paramita, S.E., M.Sc., Ph.D., terpilih sebagai Editorial Board Member dalam Journal of Business Venturing Insights (JBV Insights), jurnal internasional bereputasi yang berfokus pada bidang entrepreneurship and business venturing yang diterbitkan oleh Elsevier. Penunjukan ini menjadikan Widya sebagai satu-satunya akademisi dari Indonesia yang dipercaya bergabung dalam jajaran editorial board jurnal tersebut.
Kepercayaan tersebut tidak terlepas dari rekam jejak publikasi Mita, sapaan akrab Widya Paramita, di JBV Insights. Hingga saat ini, ia telah memublikasikan tiga artikel pada jurnal tersebut dan memperoleh rekognisi dari Editor-in-Chief JBV Insights. Pencapaian ini sekaligus membuka ruang bagi akademisi FEB UGM untuk semakin aktif terlibat dalam percakapan dan jejaring akademik internasional di bidang kewirausahaan.
Pencapaian ini menjadi semakin istimewa sebab Mita menjadi satu-satunya akademisi dari Indonesia yang dipercaya menempati posisi strategis tersebut. JBVI melibatkan akademisi dari berbagai negara dan kawasan dalam struktur editorial board. Selain Mita, ada 10 akademisi lain dari berbagai universitas dunia yang terpilih sebagai editorial board member JBV Insights.
“Menjadi sebuah kehormatan bagi saya untuk dapat menjadi penghubung antara FEB UGM dengan jurnal yang memiliki reputasi yang sangat baik ini. Saya juga melihat bahwa riset terkait kewirausahaan di FEB UGM juga sudah cukup maju,” jelasnya.
Mita mengungkapkan bahwa praktik bidang kewirausahaan di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia sudah sangat berkembang. Keterlibatan akademisi dari Indonesia dan Asia Tenggara dalam forum akademik internasional menjadi penting karena praktik kewirausahaan di kawasan ini memiliki karakteristik yang khas. Perbedaan konteks kebijakan, regulasi, serta kondisi sosial dan ekonomi masyarakat membuat pengalaman kewirausahaan di Asia Tenggara memiliki kekayaan perspektif yang dapat memperkaya diskursus global.
“Saya rasa perwakilan dari Indonesia dan negara-negara di Asia Tenggara cukup penting juga. Kita punya keunikan-keunikan dalam praktik entrepreneurship yang berasal dari konteks negara kita, baik dari sisi kebijakan, aturan-aturan yang berlaku, maupun kondisi sosial ekonomi masyarakat yang akan membedakannya dari negara lain,” ungkapnya.
Sebagai bagian dari editorial board, Mita tidak hanya akan terlibat dalam proses penelaahan artikel. Ia juga turut andil dalam menentukan arah riset dalam forum bersama anggota editorial board lainnya. Salah satunya dengan mengikuti annual meeting untuk membahas isu-isu dalam kajian kewirausahaan yang relevan dengan perkembangan zaman.
Sebagai bagian dari editorial board, Mita tidak hanya akan terlibat dalam proses penelaahan artikel. Ia juga berkesempatan berkontribusi dalam mendiskusikan dan menentukan arah perkembangan riset di bidang kewirausahaan bersama anggota editorial board lainnya.
Bagi Mita, keterlibatan dalam jejaring akademik internasional dapat menjadi ruang untuk memperluas kolaborasi penelitian lintas bidang dan lintas negara. Hal tersebut sejalan dengan upaya FEB UGM untuk terus memperkuat internasionalisasi dan memperluas jejaring akademik.
“Di sini kita dapat membuka peluang bagi akademisi untuk saling belajar, membangun kolaborasi, dan mengembangkan peluang research grant bersama,” tambahnya.
Mita menyampaikan dengan keterlibatan dalam editorial board JBV Insights diharapkan dapat berkontribusi terhadap penguatan ekosistem publikasi ilmiah di FEB UGM, termasuk pengembangan Journal of Indonesian Economy and Business (JIEB) dalam meningkatkan reputasi dan visibilitasnya di tingkat internasional.
“Ketika berpartisipasi di forum internasional, saya tidak bisa dipisahkan dari FEB UGM dan JIEB. Harapannya, ini semua akan memberikan sinergi termasuk semakin banyak peneliti internasional yang submit dan berkontribusi di JIEB,” harapnya.
Mita berpesan kepada peneliti muda yang ingin mulai membangun rekam jejak publikasi internasional agar tidak ragu untuk mencoba dan terus belajar. Ia juga mendorong para dosen untuk bisa memanfaatkan berbagai dukungan yang disediakan FEB UGM dalam bentuk hibah dan insentif publikasi.
“Ketika kita sudah berkomitmen menjadi dosen, sebenarnya penelitian itu tidak boleh kita kesampingkan karena itulah yang membedakan dosen dengan pengajar lainnya seperti guru atau trainer, sesuai dengan Tridarma Perguruan Tinggi dan juga aturan Dikti mengenai definisi dosen,” pungkasnya.
Reportase: Shofi Hawa Anjani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
