Prestasi membanggakan kembali diukir oleh mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM). Tim Orang Sukses yang beranggotakan empat mahasiswa prodi manajemen 2024, yakni Almayla Taorayudha, Abhithah Luita Janna, Ananda Revallina Adrienne Nambella, dan Ersha Diandara Madani, berhasil meraih juara 1 dalam ajang Business Plan Competition Fakultas Pertanian Universitas Udayana 2026 pada Kamis, (23/07/2026) di Kabupaten Badung, Bali.
Kompetisi tahunan tingkat nasional ini diselenggarakan oleh BEM Fakultas Pertanian Universitas Udayana sekaligus menjadi bagian dari rangkaian Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Pertanian Indonesia (FKPTPI) Wilayah Timur. Kegiatan tahun ini mengusung tema “Optimalisasi Inovasi melalui Perancangan Model Bisnis yang Adaptif dan Berkelanjutan.” Mereka berhasil mengalahkan tim finalis dari berbagai perguruan tinggi terkemuka di Indonesia, seperti Universitas Brawijaya, Universitas Hasanuddin, dan Universitas Cenderawasih.
Dalam perlombaan ini, tim Orang Sukses mengusung ide bisnis di bidang agro dengan tajuk “Suburin”. Ide bisnis ini menghadirkan inovasi berupa platform terintegrasi yang mampu mengolah sampah organik masyarakat menjadi pupuk serta pakan ternak berprotein tinggi menggunakan organisme lalat larva hitam, atau yang sering disebut maggot.
Melalui platform terintegrasi, Suburin menghadirkan ekosistem digital yang menghubungkan tiga pihak utama, yakni masyarakat sebagai pemasok sampah organik, pengolah yang memproses sampah organik menjadi pupuk, serta petani dan peternak sebagai konsumen pupuk tersebut. Selain itu, Suburin juga merancang kolaborasi strategis dengan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) untuk memperkuat pemberdayaan ekonomi masyarakat setempat.
Uniknya, ide bisnis yang membawa mereka meraih juara pertama dalam kompetisi ini berawal dari penugasan pada mata kuliah Pemodelan BisnisX. Dari situlah, mereka terdorong untuk membawa model bisnis tersebut ke tingkat yang lebih tinggi dalam kompetisi ini.
“Awalnya kami hanya membuat Business Model Canvas (BMC) untuk tugas kuliah. Namun, karena feedback dari dosen sangat mendukung, kami memutuskan untuk mematangkannya menjadi proposal bisnis yang lebih matang dan mendaftar ke ajang nasional ini,” ujar Ananda, salah satu anggota tim Orang Sukses.
Ananda mengungkapkan bahwa perjalanan menuju babak final tidaklah bebas hambatan. Tantangan dimulai saat tim dinyatakan lolos ke tahap proposal dengan pengumpulan BMC. Sebagai mahasiswa yang lebih sering berkecimpung dengan ilmu bisnis, ia dan tim diharuskan untuk mendalami ilmu agribisnis terkait pupuk larva lalat hitam. Perjalanan dimulai dengan melakukan riset jurnal, mempelajari siklus hidup larva lalat hitam, hingga melakukan wawancara langsung dengan praktisi untuk memahami inti ide bisnis yang diajukan.
Pencapaian tim Orang Sukses membuktikan bahwa keterbatasan latar belakang disiplin ilmu bukanlah penghalang untuk berinovasi lintas bidang. Almayla mengungkapkan bahwa mengusung ide bisnis di luar bidang ilmu yang dipelajari menjadikan ia dan tim mempelajari serta memperoleh pengetahuan baru.
“Jangan jadikan keterbatasan ilmu sebagai alasan untuk berhenti belajar. Ketika penerapan bisnis dilakukan di dunia nyata, banyak hal baru di luar ekspektasi yang harus kita pelajari dan eksplorasi,” pungkas Almayla.
Reportase: Najwa Anggi Namira
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
