Di tengah perubahan dunia kerja yang berlangsung semakin cepat, lulusan perguruan tinggi tidak lagi cukup bergantung pada Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Perguruan tinggi pun dituntut untuk merancang proses pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pengembangan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan masyarakat.
Guru Besar Departemen Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, Prof. B.M. Purwanto, M.B.A., Ph.D., yang juga ahli dalam kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE), menyebutkan bahwa salah satu tantangan yang masih dihadapi perguruan tinggi di Indonesia adalah penyusunan profil lulusan yang berorientasi pada jenis pekerjaan yang akan dijalani setelah lulus. Padahal, menurutnya, program studi tidak bertujuan menyiapkan lulusan untuk satu profesi tertentu, melainkan membekali mahasiswa dengan kompetensi yang dapat diterapkan dalam berbagai peran profesional.
“Perumusan profil lulusan perlu dilanjutkan dengan penetapan kompetensi yang jelas sebagai kemampuan yang harus dimiliki lulusan agar mampu berkontribusi di berbagai bidang,” jelasnya dalam acara Seminar Nasional & Pertemuan Tahunan APSEPI XI 2026 pada Kamis (9/7) dengan topik Pengelolaan Kurikulum Berbasis Misi dan Capaian Pembelajaran/Kompetensi.

Menurutnya, proses merumuskan kompetensi tidaklah sederhana. Sebab setiap program studi memiliki karakteristik, konteks sosial, serta keunggulan masing-masing. Ia mencontohkan pengalamannya saat mengajar di luar negeri. Ia membagikan pengalaman memecahkan berbagai persoalan di Kabupaten Sleman melalui riset, konsultasi, dan pengabdian kepada masyarakat yang kemudian dikemas menjadi materi pembelajaran, lokakarya, dan modul.
“Dengan ini, mereka memberikan apresiasi karena tidak memiliki pengalaman tersebut,” ujarnya.
BM. Purwanto juga menyoroti masih adanya kebingungan dalam memahami perbedaan antara Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) dan kompetensi. Untuk mempermudah pemahaman, ia mengibaratkan KKNI seperti bahan-bahan masakan yang tersedia di dapur, sedangkan dosen berperan mengolah bahan-bahan tersebut menjadi hidangan yang utuh. Analogi tersebut menggambarkan bahwa penyusunan kurikulum bukan sekadar mengumpulkan mata kuliah. Kurikulum perlu dirancang secara terintegrasi agar mampu menghasilkan profil lulusan yang sesuai dengan kompetensi yang diharapkan.
BM. Purwanto turut menyoroti bahwa pendekatan kuantitatif tidak dapat menggantikan kualitas, sehingga muncul pertanyaan apakah IPK benar-benar mencerminkan kompetensi.
“Jika benar demikian, berarti lulusan dengan IPK lebih tinggi dari Harvard seharusnya lebih kompeten daripada lulusan Harvard. Tentu kenyataannya tidak demikian. Artinya, IPK belum sepenuhnya mencerminkan kompetensi lulusan,” ujarnya.
Untuk itu, ia menilai perlu adanya sistem tambahan untuk mengukur kompetensi lulusan. Sistem tersebut bukan syarat kelulusan, melainkan berfungsi sebagai quality control internal agar program studi dapat memastikan kompetensi lulusan benar-benar sesuai dengan yang telah ditetapkan.

Lebih lanjut, BM. Purwanto menegaskan bahwa kompetensi lulusan tidak hanya mencakup penguasaan disiplin ilmu, tetapi juga kepemimpinan, kemampuan komunikasi, kerja sama tim, integritas, etika, profesionalisme, penguasaan teknologi, serta kemampuan pemecahan masalah secara kreatif. Seluruh kompetensi tersebut saling melengkapi dalam membentuk lulusan yang siap menghadapi tantangan dunia kerja.
Ia pun menegaskan bahwa perguruan tinggi perlu memberikan ruang yang luas bagi mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi secara utuh, tidak hanya melalui proses pembelajaran di kelas, tetapi juga melalui berbagai pengalaman belajar di luar ranah akademik.
Sejalan dengan hal itu, FEB UGM terus menghadirkan ekosistem pembelajaran yang memberi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi secara menyeluruh. Pengembangan kompetensi tersebut tidak hanya mencakup penguasaan pengetahuan, tetapi juga keterampilan, perilaku, sikap, dan nilai-nilai profesional melalui berbagai pengalaman belajar, seperti organisasi kemahasiswaan, magang, riset, pengabdian kepada masyarakat, kompetisi, hingga program internasional. Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa diharapkan memiliki bekal yang lebih utuh untuk berkontribusi di dunia kerja maupun di masyarakat.
Reportase: Shofi Hawa Anjani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
