Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) mendorong lahirnya wirausaha muda di kalangan mahasiswa. Untuk mewujudkan hal tersebut FEB UGM melalui unit Career and Student Development Unit (CSDU) menyelenggarakan program Pra-Inkubasi Bisnis FEB UGM yang salah satu rangkaian acaranya adalah talkshow bertajuk “Kick-off and Innovative Talk Pra-Inkubasi” bagi mahasiswa, Rabu 16 Oktober 2024 di Djarum Hall, Pertamina Tower. Acara ini bertujuan untuk mengembangkan mindset founder dan membekali mahasiswa dengan pengetahuan tentang cara menghasilkan ide bisnis yang inovatif.
Wakil Dekan Bidang Keuangan, Aset, dan Sumber Daya Manusia, Suyanto, S.E., M.B.A., Ph.D., dalam sambutannya menyampaikan bahwa program prainkubasi bisnis diselenggarakan sebagai bagian dari upaya FEB UGM untuk mencetak wirausahawan muda. Melalui program ini diharapkan mampu membawa perubahan positif dalam mendorong perekonomian nasional. “Harapannya, dari program ini akan lahir banyak wirausahawan muda dari FEB UGM,” tuturnya Rabu (16/10).
Suyanto mengatakan FEB UGM akan memberikan dana hibah usaha kepada tim mahasiswa terpilih yang masuk dalam program prainkubasi bisnis ini. Bantuan pendanaan usaha tersebut diberikan sebagai stimulus bagi tiga tim terbaik untuk memulai pengembangan usaha.
“Tim yang terpilih akan mendapatkan stimulus sebesar 10 juta per kelompok untuk memulai ide usaha atau startup,” ujarnya.
Kick-off dan Innovative Talk Pra-Inkubasi ini menghadirkan Chief Marketing Officer Sevenpreneur, Christian Ivan Halim, yang membagikan wawasannya mengenai entrepreneurship, perjalanan menjadi founder, serta realitas yang dihadapi para pengusaha muda. Dalam paparannya yang berjudul “Introduction to Founder’s Mindset and How to Generate Business Ideas”, Ivan menjelaskan bahwa menjadi founder dalam membangun bisnis bukanlah hal yang mudah. Begitupun meraih kesuksesan dalam menjalankan usaha. “Menjadi seorang founder yang sukses adalah menjadi mereka yang memahami bahwa proses adalah kunci dari pencapaian tersebut,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa kunci berbisnis adalah mewujudkan ide bisnis dan mengeksekusinya dengan baik. Selain itu, pengembangan bisnis tidak harus selalu besar atau mengubah dunia. “Yang paling penting adalah melihat masalah di sekitar yang menggugah kegelisahan kalian dan mencoba untuk menemukan solusinya,” imbuhnya.
Selama sesi diskusi, Ivan juga membahas pentingnya membangun tim yang solid dan saling mendukung karena kegagalan sering kali berakar pada masalah internal para founder. Ia mendorong para mahasiswa untuk tidak hanya memikirkan bagaimana membangun produk, tetapi juga memahami visi yang lebih besar di balik bisnis mereka. Membangun bisnis diibaratkan layaknya menaiki kapal yang harus mengetahui komponen apa saja yang ada, tujuan akhir, kapasitas awak kapal, dan dengan cara seperti apa untuk mendapatkan hasil yang dikehendaki.
Ia juga menjelaskan bahwa mindset yang harus dimiliki oleh seorang entrepreneur adalah tentang menemukan jalan atau membuatnya. Sebab mengelola bisnis akan selalu berhadapan dengan berbagai tantangan, baik terkait waktu, uang, maupun energi.
Di akhir paparannya, Ivan berpesan kepada para mahasiswa agar ide bisnis tidak hanya sekadar impian belaka, tetapi juga dapat segera direalisasikan. Ide bisa jadi hal yang murah, tetapi jika dieksekusi, ide tersebut akan menjadi lebih bernilai.
Reportase: Shofi Hawa Anjani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)





