Iringan kentungan, tarian topeng, dan sambutan hangat warga desa menjadi pembuka pengalaman budaya yang tak terlupakan bagi mahasiswa internasional Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM). Bertempat di Desa Wisata Kembangarum, Turi, Sleman, para mahasiswa asing diajak menyelami kehidupan dan tradisi lokal melalui rangkaian kegiatan cultural immersion yang menghadirkan interaksi langsung dengan budaya Jawa.
Sejak tiba di desa, suasana pedesaan yang akrab langsung menyambut para peserta. Dalam perjalanan menuju lokasi kegiatan, para mahasiswa berbaris mengikuti seorang anak yang menari mengenakan topeng, diiringi seorang laki-laki bersurjan yang membunyikan kentungan. Tiga mahasiswa internasional turut diajak memukul kentungan sambil berjalan, menciptakan interaksi budaya yang cair dan berkesan sejak langkah pertama.
Setibanya di area desa wisata, para mahasiswa diperkenalkan dengan baju tradisional khas Jawa dan mencoba mengenakan baju lurik, jarik, dan ikat kepala. Mereka juga mencicipi jajanan pasar seperti kue lapis, martabak, dan tahu telur dan mengikuti pengenalan singkat mengenai Desa Wisata Kembangarum. Dengan berpakaian lurik, mereka mengikuti sesi ice breaking yang berlangsung dengan meriah dan penuh antusias.
Selanjutnya, para mahasiswa dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk mengikuti rangkaian aktivitas budaya secara paralel. Beberapa aktivitas budaya yang diikuti antara lain jemparingan, memasak jajanan tradisional cemplon dan klepon, serta membatik.
Pada kelas membatik, peserta mendapatkan pengenalan dasar mengenai proses pembuatan batik mulai dari bahan dan alat yang dipakai, teknik mencanting, hingga pewarnaan. Mereka kemudian mencoba mencanting dengan mengikuti pola dasar yang telah disediakan, mencoba teknik batik cap, dan melihat proses pewarnaan kain batik.
Hasti dari Hochschule Pforzheim, Jerman mengaku sangat antusias mengikuti kegiatan membatik. Pasalnya, ini menjadi pengalaman pertama membatik secara langsung.
“Di Jerman, kami tidak memiliki budaya membatik dan iadalah hal yang baru bagi saya. Sangat menyenangkan dapat melakukan proses mencanting dan melihat proses pewarnaan,” ungkapnya, Kamis (5/2/2025) di sela-sela acara.
Kegiatan lainnya yaitu praktik memasak cemplon dan klepon. Para mahasiswa diajak untuk membentuk adonan menjadi bulatan kecil dan mengisinya dengan gula jawa. Beberapa peserta mengaku baru pertama kali mencoba dan memasak jajanan tradisional lokal. Terlihat wajah antusias dan penasaran yang terpancar dari raut mereka ketika mereka melihat proses memasak dan mencicipi hasilnya.
“Kegiatan ini sangat seru khususnya ada dua versi masakan dengan tekstur yang berbeda. Ternyata rasanya di luar ekspektasi saya. Rasanya enak, manis, dan ini mengingatkan saya pada mochi karena teksturnya,” ungkap Maria dari Hochschul Osnabruck, Jerman setelah mencoba klepon.
Sementara itu, pada aktivitas jemparingan para peserta duduk di atas tikar dan mendapatkan arahan langsung dari pada instruktur tentang bagaimana sakralnya busur panah, bagaimana memegang busur panah, hingga memanah. Setiap peserta mendapatkan kesempatan memanah sebanyak tiga hingga lima kali. Beberapa anak panah menancap tepat sasaran sementara lainnya meleset yang justru menambah keseruan aktivitas.
Hasti mengungkapkan bahwa dirinya pernah mencoba panahan di negaranya dan pengalaman jemparingan memberikannya kesan berbeda.
“Sangat mengasyikkan belajar memanah dengan posisi duduk dan menggunakan peralatan dari bambu. Berbeda dengan panahan yang saya lakukan di negara asal saya, versi ini lebih tradisional dan unik,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, FEB UGM berharap dapat memperkuat pemahaman lintas budaya mahasiswa internasional dengan mempertemukan nilai-nilai tradisi lokal dan perspektif global. Pengalaman autentik di Desa Wisata Kembangarum diharapkan tidak hanya memperkaya pengetahuan budaya, tetapi juga membangun apresiasi terhadap kearifan lokal Indonesia.
Reportase: Shofi Hawa Anjani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
