Dua Dosen Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Dr. Muhammad Ryan Sanjaya dan Amanda Wijayanti, M.S., turut berkontribusi dalam riset internasional yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bergengsi “Proceedings of the National Academy of Sciences” pada 20 Maret 2026.
Penelitian berjudul “The Private Solution Trap in Collective Action Problems Across 34 Nations” ini mengungkap fenomena private solution trap, yakni kecenderungan individu memilih solusi mandiri dibandingkan kerja sama kolektif dalam menghadapi berbagai permasalahan global. Kajian ini dipimpin oleh University of Nottingham dengan melibatkan 72 ekonom dan psikolog dari berbagai negara. Penelitian yang dilakukan di 34 negara termasuk Indonesia ini sangat relevan pada isu-isu global seperti perubahan iklim, kesehatan publik, hingga pembangunan infrastruktur yang membutuhkan aksi kolektif.
Tim dari FEB UGM bekerja sama dengan Dr. Eugene Malthouse dari University of Nottingham (Inggris) dan Dr. Katharina Werner dari University of Passau (Jerman).
Amanda Wijayanti menjelaskan bahwa eksperimen laboratorium dilakukan dengan melibatkan 268 partisipan. Para partisipan dihadapkan pada situasi permainan risiko kolektif dalam kelompok kecil, di mana mereka harus memilih apakah akan menyelesaikan masalah secara individu atau bekerja sama dengan anggota kelompok lainnya. Setiap peserta diberikan sejumlah sumber daya yang dapat dialokasikan untuk solusi privat maupun publik.
“Secara khusus, penelitian ini mengkaji apakah individu yang percaya bahwa kesuksesan terutama berasal dari kerja keras cenderung lebih mengandalkan kemandirian dan penyelesaian masalah secara privat dibandingkan tindakan kolektif,” ungkap Amanda.
Hasil penelitian menunjukkan adanya paradoks. Di satu sisi, peserta menilai bahwa individu yang lebih kaya seharusnya berkontribusi lebih besar dalam penyelesaian masalah kolektif. Namun di sisi lain, kelompok dengan sumber daya lebih besar justru cenderung memilih solusi privat. Kondisi ini berpotensi meningkatkan ketimpangan dan mengurangi tingkat kerja sama.
Amanda turut menyatakan bahwa penelitian ini menyoroti hubungan yang kompleks antara keyakinan tentang merit (keberhasilan berdasarkan usaha), keadilan, dan kerja sama.
“Memahami dinamika perilaku ini dapat membantu para pembuat kebijakan merancang institusi dan kebijakan yang mampu mendorong aksi kolektif serta kontribusi yang lebih adil terhadap penyediaan barang publik,” imbuhnya.
Muhammad Ryan Sanjaya menambahkan bahwa keterlibatan FEB UGM dalam penelitian ini dilakukan melalui Laboratorium Ekonomika Eksperimen FEB UGM (GAMA EXEL) yang menjadi tuan rumah pelaksanaan studi ini di Indonesia pada tahun 2023. Penelitian ini juga didanai oleh hibah penelitian FEB UGM dan German Research Foundation (DFG).
“Analisis data Indonesia sejalan dengan hasil negara-negara lain, yaitu banyak peserta yang memilih solusi privat dibandingkan solusi publik. Namun, hal ini tidak serta merta membuat ketimpangan kesejahteraan partisipan Indonesia lebih buruk secara rata-rata dari negara lain meskipun tingkat kesejahteraannya lebih rendah dari rata-rata. Hal ini menjadi peluang untuk penelitian lanjutan,” jelas Ryan.
Temuan lainnya menunjukkan bahwa faktor budaya turut memengaruhi perilaku individu. Negara dengan nilai yang mendorong keharmonisan dengan alam, seperti Italia dan Jerman, cenderung lebih banyak berinvestasi pada solusi publik dibandingkan solusi privat.
Salah satu penulis, Profesor Thomas Hills dari University of Warwick menambahkan bahwa solusi privat merupakan bentuk perlindungan bagi mereka yang mampu membayarnya namun dapat melemahkan penyediaan barang publik.
“Hal ini membuat layanan publik menjadi lebih mahal bagi semua orang dan sepenuhnya tidak terjangkau bagi kelompok miskin. Mungkin poin optimistisnya adalah kita sebenarnya bisa melakukan yang lebih baik, yaitu dengan lebih sering dan lebih cepat berinvestasi pada solusi publik. Dengan demikian, daya tarik solusi privat akan berkurang,” jelasnya.
Publikasi penelitian “The Private Solution Trap in Collective Action Problems Across 34 Nations” dapat diakses secara gratis melalui www.pnas.org/doi/10.1073/pnas.2504632123
Reportase: Shofi Hawa Anjani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
