Di tengah padatnya aktivitas perkuliahan hingga organisasi, menjaga pola hidup sehat sering kali menjadi tantangan bagi mahasiswa. Di sela aktivitas yang serba cepat, pilihan minuman praktis memang mudah ditemukan di sekitar kampus. Namun, tidak semuanya mampu menghadirkan perpaduan antara rasa yang enak, tampilan yang menarik, dan manfaat kesehatan secara bersamaan. Dari keresahan sederhana inilah Blumee lahir.
Blumee merupakan healthy fruit bar yang digagas oleh lima mahasiswa FEB UGM, yakni Shalom Emmanuel (Manajemen 2022), Paulina Berliana (Manajemen 2022), Yulianti Nurhasanah (Manajemen 2023), Meissya Pranoto (Manajemen 2023), dan Raiyana Fathi (Manajemen 2023). Tidak sekadar menjual minuman, mereka ingin menghadirkan gaya hidup sehat yang dekat dengan keseharian mahasiswa, fresh, praktis, namun tetap terjangkau.
Ide Blumee berawal dari pengamatan sederhana terhadap kebiasaan mahasiswa di lingkungan kampus. Mereka melihat semakin banyak anak muda yang mulai peduli terhadap pola hidup sehat, tetapi masih kesulitan menemukan pilihan minuman sehat yang cocok di lidah mahasiswa dan tetap ramah di kantong
“Kami melakukan brainstorming dan market research sederhana, serta mengamati kebiasaan mahasiswa, tren yang sedang berkembang, hingga mencoba berbagai resep secara mandiri. Dari situ, kami ingin memastikan bahwa Blumee tidak hanya menghadirkan minuman yang sehat, tetapi juga memastikan rasanya dapat diterima banyak orang dan sesuai dengan selera mahasiswa,” ucap Meissya, salah satu founder dari Blumee.
Mengusung konsep fruit-based beverages, Blumee menghadirkan berbagai macam menu mulai dari smoothies, jus, cold press, hingga milkshake. Menariknya, meski mengusung konsep hidup sehat, Blumee tetap mempertahankan rasa yang ringan dan menyegarkan agar mudah diterima oleh para mahasiswa.
Saat ini, Blumee beroperasi di Pertamina Tower lantai 1, FEB UGM. Perjalanan membangun Blumee tidak berlangsung instan. Persiapan telah dilakukan sejak bulan Oktober 2025. Mereka kemudian mengikuti pitching kedai EB yang dilaksanakan di bulan Desember 2-25 dengan mempresentasikan ide bisnis kepada pihak fakultas. Bagi Meissya, dukungan fakultas melalui penyediaan tempat dan bantuan pendanaan menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa untuk belajar membangun bisnis secara langsung.
Di balik proses berkembangnya Blumee, ada proses panjang yang harus dijalani oleh tim. Salah satu tantangan yang dihadapi tim adalah membagi waktu antara perkuliahan, magang, dan operasional bisnis. Bahkan beberapa anggota tim sedang menjalani program magang di luar Yogyakarta, sehingga koordinasi dan komunikasi menjadi kunci utama agar bisnis tetap berjalan.
“Biasanya pagi sampai sore fokus magang, lalu malamnya lanjut mengurus kebutuhan Blumee. Untuk operasional sehari-hari, kami membagi sistem dalam beberapa shift, dan terdapat juga store manager yang memastikan operasional, stok, serta koordinasi tim berjalan dengan baik,” ujarnya.
Dari perjalanan membangun Blumee, Meissya mengaku belajar banyak tentang konsistensi. Menurutnya, membangun bisnis bukan hanya soal menjadi viral sesaat, tetapi juga tentang bagaimana menjaga usaha tetap relevan dalam jangka panjang.
Ia menyadari bahwa setiap bisnis harus terus berkembang dan berinovasi agar mampu bertahan di tengah perubahan tren dan kebutuhan pasar. Karena itu, Blumee terus mencoba menghadirkan variasi produk baru yang sesuai dengan preferensi konsumennya.
“Dalam waktu dekat, Blumee akan menghadirkan menu baru berupa sorbet buah,” ungkapnya.
Ke depan, mereka berharap Blumee tidak hanya dikenal sebagai tempat membeli jus atau smoothie, tetapi juga menjadi brand yang identik dengan healthy lifestyle yang mudah diakses mahasiswa,
Di tengah proses mengembangkan Blumee, Meissya juga membagikan pesan kepada mahasiswa yang ingin memulai berwirausaha. Menurutnya, konsistensi, keberanian untuk memulai, dan kemampuan memahami pasar menjadi bagian penting dalam menjaga bisnis agar terus berkembang di tengah dinamika kehidupan mahasiswa.
“Salah satu pelajaran yang paling penting saat memulai bisnis adalah ketika mencoba membuat sesuatu yang cocok untuk semua orang. Padahal tidak semua orang adalah target market kita, dan itu tidak apa-apa. Justru yang penting adalah menemukan uniqueness dari bisnis yang kita bangun, memahami siapa market kita, dan fokus memberikan value terbaik bagi mereka,” pungkasnya.
Reportase: Najwa Anggi Namira
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
