Berawal dari mengikuti kompetisi saat duduk di bangku kelas 12 SMA, pengalaman tersebut menjadi titik awal bagi Airyn Nabiel Karaputri (IUP Ilmu Ekonomi 2022) hingga kini telah menorehkan prestasinya di tingkat internasional. Namun, di balik pencapaian tersebut, ia justru percaya bahwa nilai sebuah kompetisi adalah proses belajar yang menyertainya.
Sejak di bangku SMA, Airyn sudah mulai menunjukkan minat untuk mengikuti ajang perlombaan. Kemudian, saat ia memulai langkah barunya di FEB UGM pada semester 1, ia mulai mengeksplorasi jenis perlombaan baru, yakni Business Case Competition (BCC). Sejak saat itulah,ia terus melanjutkan jejak perjalanan lombanya hingga tingkat internasional dan regional Asia yang mempertemukannya dengan peserta dari China, Filipina, Singapura, Vietnam, dan negara-negara Asia Tenggara lainnya.
“Dulu, saat semester 1, diajak oleh kakak tingkat untuk ikut BCC, dan itu pertama kalinya. Aku banyak belajar dari kakak tingkat. I see how they work,” ujarnya.
Setelah cukup lama berkecimpung di dunia BCC, Airyn mencoba masuk ke bidang lomba yang berbeda, seperti research paper yang diadakan oleh Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE UI) dan Deloitte Tax Challenge dari Deloitte Indonesia. Baginya, mencoba bidang baru adalah kesempatan untuk mempelajari hal-hal baru yang ternyata memiliki dinamika perbedaan yang cukup signifikan.
Saat bercerita tentang perjalanannya mengikuti perlombaan, Airyn menekankan seberapa pentingnya bagi mahasiswa untuk memahami berbagai industri. Ia mengungkapkan bahwa perbedaan industri yang dihadirkan dalam setiap perlombaan justru menjadi hal yang berharga baginya. Sebab ia mendapatkan banyak insight selama proses pemecahan kasus dalam setiap perlombaan.
“Kadang aku tidak memilih industri yang sama atau yang sudah familiar, seperti FMCG. Aku lebih prefer industri lain yang bisa memperluas insight,” ungkapnya.
Airyn juga membagikan tips bagi para mahasiswa yang ingin terjun dalam perlombaan di tingkat perkuliahan. Ia menyarankan di tahap awal dapat memulai dari lomba tingkat provinsi ataupun regional terlebih dahulu untuk memperkuat keterampilan
“Untuk mulai, coba aja dulu karena pengalaman lebih penting di awal. Kemudian, naik level sedikit demi sedikit sampai ke perlombaan yang cukup prestisius,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Airyn juga menyoroti kemampuan yang harus dimiliki seseorang untuk meningkatkan peluang memenangkan lomba. Menurutnya, kemampuan secara umum dan kemampuan secara khusus. Kemampuan umum seperti kerja sama tim, komunikasi, dan semangat belajar yang seimbang. Lalu, kemampuan khusus meliputi analytical skill, financial skill, dan decking skill. Kemampuan inilah yang sangat membantu dalam proses perlombaan, terutama jika melibatkan peran lintas jurusan.
“Pada saat itu, kami mengikuti kompetisi yang melibatkan jurusan-jurusan berbeda. Dari Ilmu Ekonomi bertugas dalam analisis pasar, dari Akuntansi bagian analisis finansial, dan dari Manajemen lebih ke solusi bisnis,” tuturnya.
Airyn juga menekankan pentingnya belajar dari berbagai sumber, termasuk kakak tingkat, alumni, bahkan para profesional melalui platform LinkedIn. Dengan bertanya dan meminta masukan dari pihak-pihak luar yang lebih berpengalaman, mahasiswa dapat mempertajam analisis dan solusinya agar lebih relevan untuk diterapkan.
“Ketika meminta masukan dari mereka, sejauh ini mereka semua welcome dan senang membantu mahasiswa,” katanya.
Bagi Airin, kemenangan memang menjadi pencapaian yang membanggakan. Namun, yang membuatnya terus kembali mengikuti kompetisi bukanlah medali atau hadiah, melainkan kesempatan untuk terus belajar. Dari setiap kasus yang dikerjakan, ia menemukan cara berpikir baru, mengenal berbagai industri, hingga membangun kemampuan bekerja dalam tim. Baginya, selama proses belajar terus berlangsung, setiap kompetisi selalu membawa nilai yang lebih besar daripada sekadar hasil akhir.
Video selengkapnya program FEB UGM Podcast berjudul Bisa Menang berbagai Lomba Internasional, Dimulai dari Mana? dapat diakses melalui: http://ugm.id/StrategiMenangLomba
Reportase: Najwa Anggi Namira
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
