Pengenalan serta pemahaman terhadap filsafat dan pendekatan riset sangat penting bagi peneliti dalam melakukan penelitian. Hal tersebut menjadi esensi diselenggarakannya seri webinar bertema “Filsafat dan Pendekatan Penelitian Akuntansi dan Bisnis” oleh Laboratorium Akuntansi, Departemen Akuntansi FEB UGM bersama Program Studi Magister Sains dan Doktor (MD) FEB UGM yang terdiri dari 7 rangkaian seri dan membahas berbagai paradigma berbeda tiap sesinya. Pada Jumat (30/04), rangkaian sesi ke-4 seri webinar berhasil dilaksanakan dengan mengusung topik bahasan tentang aspek filosofis dan metodologi paradigma fenomenologi.
Fenomenologi bisa diartikan sebagai studi tentang pengalaman hidup seseorang atau sebagai metode untuk mempelajari bagaimana individu secara subjektif merasakan pengalaman dan memberikan makna terhadap fenomena tersebut. Penjelasan tersebut diutarakan oleh Rijadh Djatu Winardi, S.E., Ak., M.Sc., CFE, sebagai pembicara pada kesempatan tersebut. Menurut Rijadh, sering kali apa yang kita rasakan secara inderawi akan berbeda dari apa yang kita maknai. “Fenomenologi mencoba untuk menangkap tidak hanya sesuatu yang kita persepsi secara inderawi, tetapi juga mencoba mempelajari struktur dari pikiran kita mengenai suatu objek yang kita lihat,” tambahnya.
Berdasarkan penjelasannya, paradigma fenomenologi juga erat kaitannya dengan studi kesadaran (study of consciousness). Beberapa metode yang bisa diterapkan dalam melakukan studi pengalaman sadar adalah mendeskripsikannya atau menginterpretasikannya untuk dihubungkan dengan konteks yang relevan. Menurut Husserl mengenai teori fenomenologi murni/transcendental, terdapat 6 konsep kunci, yaitu intensionalitas, noema, noesis, epoche (reduksi fenomenologis), reduksi eidetik, dan esensi pengalaman.
Sedangkan menurut Heidegger dalam teori fenomenologi hermeneutik, reduksi tidak mungkin dilakukan dan untuk memahami fenomena perlu diketahui individu yang mengalami pengalaman tersebut. Berbeda juga dengan teori sebelumnya, interpretasi merupakan bagian yang terintegrasi dalam memahami paradigma ini dalam fenomenologi hermeneutik. Selain itu, fenomenologi sebagai metodologi dapat dibedakan menjadi fenomenologi deskriptif dan fenomenologi interpretatif.
Di akhir pemaparannya, Rijadh juga menjelaskan mengenai kekuatan dan batasan dari paradigma fenomenologi. Paradigma fenomenologi dianggap cocok untuk menggali masalah yang kompleks dan juga menjadi alat yang ampuh untuk menghasilkan pemahaman tentang pengalaman hidup serta keberadaan manusia. Paradigma ini juga membuka peluang untuk memperluas cakupan penelitian serta memperkaya data empiris. Di sisi lain, fenomenologi dapat menjadi ‘menakutkan’ karena memerlukan pemahaman atas aspek yang terbilang sulit serta data yang banyak. Fenomenologi juga dapat membatasi generalisasi hasil penelitian dan mengontroversialkan objektivitasnya.
Reportase: Kirana Lalita Pristy/Sony Budiarso.