Gagal bukanlah akhir segalanya. Prinsip itu dipegang teguh oleh Ina Winata Kusuma Hasibuan, yang sempat gagal meraih medali dari cabang olahraga tenis lapangan pada Pekan Olahraga dan Seni Mahasiswa (PORSENIGAMA) 2024. Dengan semangat pantang menyerah, akhirnya mahasiswa Ilmu Ekonomi FEB UGM angkatan 2022 ini berhasil menyumbangkan emas dan perunggu bagi FEB UGM.
Ia meraih medali emas untuk kategori ganda putri bersama Faizah Maulina Anjani (Ilmu Ekonomi 2022) serta satu medali perunggu untuk kategori tunggal putri.
“Tahun kemarin sempat gagal, dan kegagalan itu memotivasi saya di kompetisi ini untuk membayar utang tersebut. Akhirnya terbayarkan tahun ini dengan menyumbang total 2 medali untuk FEB,” ungkapnya dengan penuh antusiasme.
Perjalanan Ina mengenal dunia tenis lapangan dimulai sejak bangku SD karena dorongan dari ayahnya. Bergabung di sebuah klub tenis, Ina mengasah kemampuannya melalui berbagai turnamen hingga mampu mewakili Kota Depok di turnamen POPWILDA (Pekan Olahraga Pelajar Wilayah Daerah) dan PORPROV (Pekan Olahraga Provinsi). Perjalanan ini membawa Ina ke UGM melalui jalur Penerimaan Bibit Unggul Berprestasi (PBUB) dan ia pun melanjutkan kecintaannya pada tenis dengan bergabung dalam UKM Tenis Lapangan UGM.
“Saya juga lolos sebagai mahasiswa UGM melalui jalur PBUB (Penerimaan Bibit Unggul Berprestasi) olahraga tenis lapangan. Setelah menjadi mahasiswa, saya mengikuti UKM Tenis Lapangan dan turnamen tenis mewakili UGM,” ungkapnya penuh haru.
Persiapan Porsenigama ia lakukan dengan latihan, menyusun strategi, serta meyakinkan diri agar percaya diri, fokus, dan merasa nyaman saat bermain. “Strategi saya adalah sebisa mungkin mengambil semua bola dari lawan untuk mengurangi risiko kehilangan poin. Jika memungkinkan, saya akan mengambil semua bola yang ditujukan kepada partner. Selain itu, saya berusaha memberikan bola kepada lawan yang kurang bisa menerimanya,” jelasnya.
Dalam perjalanannya memenangkan pertandingan tenis lapangan di Porsenigama, tentunya ada beberapa tantangan yang harus Ina hadapi, baik saat latihan maupun saat pertandingan. Tantangan terbesarnya adalah meyakinkan partner ganda putrinya agar lebih percaya diri dan memperbanyak latihan sendiri untuk servis dan menerima bola. Hambatan lainnya yaitu mereka jarang berlatih bersama karena Ina disibukkan oleh turnamen tenis lapangan di Surabaya.
Selain itu, ia juga harus menghadapi lawan-lawannya yang tidak kalah tangguh. “Lawan terberat kami berasal dari Fakultas Psikologi dan Fakultas Hukum. Mereka sulit dikalahkan karena kami sama-sama atlet yang sering mengikuti turnamen,” jelas Ina.
Selama pertandingan berlangsung, ia berusaha meyakinkan diri sendiri agar tidak terburu-buru dan tetap enjoy saat berada di bawah tekanan. Ina juga berusaha meyakinkan rekannya bahwa mereka bisa memenangkan pertandingan tersebut. Pendekatan mental ini terbukti ampuh karena Ina dan pasangannya mampu tampil tenang dan fokus meski berada di momen-momen krusial.
Menurutnya, dukungan dari pelatih, keluarga, dan teman sangat berpengaruh terhadap performa dan kemenangan. Ia mengungkapkan bahwa ayahnya sangat mendukung kegiatan nonakademik ini. Bahkan, teman-temannya juga selalu mengingatkan agar tidak berhenti bermain tenis.
Ina mengungkapkan bahwa kegiatan nonakademik sangat membantu perkembangan akademiknya dan sosialnya. “Menurut saya, tenis berfungsi sebagai sarana healing dari rutinitas perkuliahan dan sebagai media untuk membangun relasi,” ungkapnya.
Dalam hal pengelolaan waktu, Ina menunjukkan kemampuan manajemen yang baik dalam menyeimbangkan jadwal kuliah, latihan, dan pertandingan. Ia memastikan untuk mengikuti kelas pada sesi pagi agar tidak berbenturan dengan jadwal latihannya pada sore hari. Selain itu, ia selalu berusaha menyelesaikan tugas kuliah lebih awal agar tidak terganggu oleh aktivitas olahraga.
Ina berpesan kepada mahasiswa lain yang ingin aktif dalam kegiatan nonakademik tanpa mengorbankan prestasinya di bidang akademik. “Pastinya harus pintar mengatur waktu. Usahakan jangan mengerjakan tugas mendekati tenggat pengumpulan. Kalau bisa, tugas dikerjakan secepatnya agar waktu selanjutnya dapat digunakan untuk kegiatan lainnya,” tutupnya.
Reportase: Shofi Hawa Anjani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)

