Digitalisasi pengelolaan bisnis menjadi kebutuhan utama bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di tengah pesatnya perkembangan ekonomi digital. Perubahan perilaku konsumen dan persaingan usaha yang semakin ketat menuntut pelaku UMKM untuk segera beradaptasi dengan teknologi jika ingin bertahan dan berkembang.
Hal tersebut mengemuka dalam Pelatihan Implementasi SIDEK-ERP Untuk Penguatan Ekosistem Akuntansi Digital dalam TEFA Kolaborasi UMKM pada Kamis (10/7/2026). Dalam kesempatan tersebut, Kepala Penelitian dan Pengembangan Akuntansi FEB UGM, Haryono, Drs., M.Com., Ak., CA., menyampaikan paparan bertajuk “Sidek-ERP Sebagai Solusi Digitalisasi Pengelolaan Bisnis UMKM di hadapan pelaku UMKM.
Haryono menjelaskan bahwa kontribusi UMKM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia berada di kisaran 60 persen dalam beberapa tahun terakhir. Namun, besarnya kontribusi tersebut belum diimbangi dengan tata kelola bisnis yang rapi.
Guna memahami persoalan tersebut, Haryono mengajak peserta memahami tiga istilah yang sering tertukar dalam pembicaraan sehari-hari, yaitu digitasi, digitalisasi, dan transformasi digital. Digitasi ia gambarkan sebagai langkah paling sederhana, sekadar mengubah sesuatu yang tadinya berbentuk fisik menjadi digital, seperti dokumen kertas yang diubah menjadi berkas PDF.
Sementara itu, digitalisasi dalam prosesnya melibatkan penggunaan teknologi dan data digital untuk membuat atau memperbaiki proses bisnis, misalnya lewat komputasi awan dan rantai pasokan yang lebih pintar.
Adapun transformasi digital yang menyentuh perubahan aktivitas, proses, hingga model bisnis secara keseluruhan dengan memanfaatkan teknologi seperti data analytics dan artificial intelligence guna meningkatkan efisiensi sekaligus membuka peluang bisnis baru.
Menurutnya, perubahan perilaku konsumen, persaingan usaha yang ketat, kebutuhan efisiensi operasional, dan peluang ekspansi pasar menjadi alasan UMKM perlu segera go digital. Manfaatnya pun beragam, mulai dari akses pasar yang lebih luas, hemat biaya promosi, terbukanya lapangan kerja, hingga peluang ekspor dan impor yang lebih besar.
Meski demikian, ia mengakui proses digitalisasi UMKM masih terkendala kurangnya literasi digital, tingginya biaya awal, keterbatasan infrastruktur teknologi, dan perubahan budaya organisasi.
Menjawab tantangan tersebut, Haryono memperkenalkan Sidek-ERP atau Sistem Debit Kredit Enterprise Resource Planning. Aplikasi berbasis website ini dikembangkan oleh Pusat Kajian Sistem Informasi (PKSI) FEB UGM untuk membantu UMKM merencanakan sumber daya usaha secara terintegrasi.
Sidek-ERP memudahkan analisis data keuangan, meminimalisir risiko kesalahan pencatatan, memudahkan pembukuan, serta membantu penyusunan laporan keuangan secara mudah, cepat, dan andal. Aplikasi ini memiliki lima modul utama yang saling terintegrasi, yakni akuntansi, keuangan, persediaan, pembelian, dan penjualan.
Ia menambahkan bahwa Sidek-ERP telah dimanfaatkan sebagai media pembelajaran di berbagai jenjang pendidikan. Tercatat lebih dari 400 mahasiswa, 56 siswa sekolah menengah kejuruan, dan 264 pelaku UMKM telah menggunakan aplikasi tersebut.
Harapannya, Sidek-ERP dapat terus dikembangkan dan digunakan lebih luas oleh pelaku UMKM di Indonesia agar praktik akuntansi dan usaha dapat tumbuh secara berkelanjutan.
Reportase: Dwi Zhafirah Meiliani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
