Lee RitenourSetelah sukses dengan grup fusion-jazz Casiopea dari Jepang, Gitaris jazz kelas dunia Lee Ritenour akan hadir di kampus Universitas Gadjah Mada (UGM). Bersama vokalis beraliran R & B kelas dunia, Phil Perry, ia akan memeriahkan konser terhebat dalam sejarah jazz di Yogyakarta bertajuk Economics Jazz jilid ke-19.

Economics Jazz jilid ke-19, akan digelar Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM pada hari Sabtu, 17 Mei 2014, di Grha Sabha Pramana, Yogyakarta. "Tidak bisa disangsikan lagi, inilah konser jazz terbaik dalam sejarah UGM dan Yogyakarta. Kami bekerja keras untuk meyakinkan mereka agar mau hadir di Yogyakarta," kata promotor A. Tony Prasetiantono, dosen yang juga pengamat ekonomi nasional, di FEB UGM, Selasa (8/4).
Band Lee Ritenour di UGM nantinya terdiri dari Otmaro Ruiz (keyboards), Wesley Ritenour (drums), Benjamin Shepherd (bass) dan Fred Schreuders (gitar), dengan bintang tamu Michael Paulo (sax). Dengan Phil Perry sebagai ujung tombak, konser diharapkan membawakan lagu-lagu hits yang sangat terkenal seperti Is It You?, Call Me, The Best of Me, Forever, Amazing Love, Woman.

"Lee Ritenour akan membawa band-nya dari California untuk konser di UGM nanti, dan secara khusus Phil Perry diminta panitia untuk menyanyikan lagu hit It Might Be You yang semula merupakan lagu tema film Tootsie yang dibintangi Dustin Hoffman", kata Tony.

Lee Ritenour, kata Tony, merupakan gitaris jazz yang tinggal di Malibu, California, Amerika Serikat. Ia memulai karirnya sejak 1976, dan karena kepiawaiannya memainkan gitar, ia dijuluki captain fingers. Lee dalam karirnya banyak dipengaruhi oleh gaya musik Brasil, di mana ia sangat mengagumi Antonio Carlos Jobim.

Lee Ritenour telah merekam 33 album, dengan banyak lagu hits seperti Rio Funk, Bahia Funk, Night Rythms, Early A.M. Attitude, Rainbow. Sebagai pengagum berat gitaris jazz legendaris Wes Montgomery, Lee sempat membuatkan lagu berjudul Wes Bound di album Stolen Moment (1990). Selain memainkan fusion jazz berbau samba Brasil, dalam kariernya Lee kemudian mulai serius menggarap album-album dengan gaya jazz standar (mainstream).

Meski konser berkelas dunia, panitia Economics Jazz jilid ke-19 menawarkan lima kategori tiket dengan harga terjangkau untuk publik Yogyakarta. Kelas Bronze 75 ribu rupiah, Kelas Silver 150 ribu rupiah, kelas Gold 200 ribu rupiah, kelas Platinum 300 ribu rupiah dan Diamond 400 ribu rupiah.

"UGM memiliki sejarah panjang, kampus ini sejak 1987 menyelenggarakan berbagai konser jazz dengan harga tiket relatif murah. Sebelum Lee Ritenour, UGM  mendatangkan musisi jazz dunia lainnya David Benoit tahun 2012 dan Casiopea tahun 2013. Kedua konser ditonton lebih dari 3.000 orang, di mana tiket sold out dua minggu sebelum konser Jazz digelar", papar Tony.

Sumber: Agung/UGM

Lihat konser jazz yang pernah diselenggarakan di UGM, klik disini