Keberhasilan dalam membangun karier tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi juga keterampilan berkomunikasi, bekerja sama, beradaptasi, dan menyelesaikan masalah. Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Prof. Dr. Anggito Abimanyu, M.Sc., menekankan pentingnya pengembangan kompetensi tersebut bagi mahasiswa dalam mempersiapkan diri memasuki dunia kerja.
Pesan tersebut disampaikan Anggito saat berbagi pengalaman dan pandangan mengenai dunia profesional dalam kuliah umum bertajuk “Mengapa Berkarier di Sektor Keuangan?” yang diselenggarakan di Gadjah Mada University Club Hotel pada Jumat (2/10/2026).
Anggito menjelaskan bahwa perjalanan karier tidak selalu berjalan mulus. Hambatan dan tantangan merupakan bagian dari proses yang dapat membentuk kemampuan seseorang untuk berkembang. Dukungan, kesempatan, dan pengalaman belajar dari orang lain juga berperan penting dalam membangun karier.
Belajar dari Tantangan dan Berani Mengambil Peluang
Anggito mendorong mahasiswa untuk berani menetapkan cita-cita setinggi mungkin dan terbuka terhadap berbagai peluang yang hadir. Menurutnya, kegagalan dan ketidaknyamanan tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti berusaha. Sebaliknya, keduanya dapat menjadi kesempatan untuk mengevaluasi diri dan memperbaiki kemampuan.
“Jangan berharap bahwa kesuksesan akan selalu berjalan mulus. Hidup yang nyaman mungkin terasa menyenangkan, tetapi kita juga perlu belajar dari ketidaknyamanan. Ketika menghadapi masalah, kita memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri. Jadikanlah masalah sebagai kekuatan untuk mencapai kesuksesan,” lanjutnya.
Anggito menyampaikan selain fokus pada bidang akademik, mahasiswa juga harus mengembangkan kemampuan soft skill seperti kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, beradaptasi, dan menyelesaikan masalah. Kemampuan tersebut menjadi bekal dalam menghadapi dinamika di dunia kerja.
Ia juga menekankan bahwa setiap orang memiliki aspirasi karier yang berbeda. Ada yang ingin memperoleh penghasilan tinggi, menduduki posisi kepemimpinan, maupun menjalankan peran operasional. Menurutnya, mahasiswa memiliki kebebasan untuk menentukan tujuan karier sesuai aspirasi masing-masing, selama dijalani dengan cara yang baik.
“Ketika memilih pekerjaan, jangan hanya mempertimbangkan pekerjaan yang bisa kamu dapatkan sekarang. Pikirkan juga skala tanggung jawab, kesempatan belajar, dan nilai yang bisa kamu ciptakan,” tuturnya.
Ciptakan Nilai
Perkembangan teknologi turut mengubah kebutuhan kompetensi di dunia industri, termasuk industri keuangan. Anggito mengingatkan mahasiswa untuk terus memperbarui keahlian agar mampu mengikuti perubahan, termasuk dalam pemanfaatan otomatisasi, kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI), dan machine learning untuk meningkatkan efisiensi pekerjaan.
Ia menyebut penguasaan analisis data, literasi AI dan big data, pemodelan keuangan, serta pemahaman mengenai keamanan siber sebagai sejumlah kompetensi yang dapat menjadi bekal untuk menghadapi kebutuhan industri keuangan ke depan.
“Penguasaan analisis data, literasi AI dan big data, pemodelan keuangan, serta kesadaran terhadap keamanan siber dapat menjadi bekal untuk menghadapi kebutuhan industri keuangan ke depan,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa bekerja di institusi keuangan dan perusahaan besar dengan aset mencapai ratusan hingga ribuan triliun rupiah seperti Bank Indonesia, BCA, OJK, LPS, menjadi kesempatan untuk belajar mengelola tanggung jawab dalam organisasi berskala besar. Namun pengalaman bekerja di institusi ternama sebaiknya tidak menjadi satu-satunya tujuan dalam membangun karier.
“The most important thing is how you create value. Akan lebih baik jika kamu juga mampu menciptakan nilai melalui ide, inovasi, atau usaha yang kamu bangun sendiri seperti contohnya mengembangkan inovasi dan solusi digital,” pungkasnya.








