Storytelling bukan sekadar pelengkap dalam industri kreatif, namun juga menjadi kekuatan utama untuk menggerakkan pasar. Hal ini disampaikan oleh Yandy Laurens, sutradara dan penulis skenario film terkemuka di Indonesia dalam talkshow bertajuk “Story Driven Market: Lessons from Indonesia’s Creative Industry” dalam rangkaian acara Young Entrepreneurs Show (YES!) 2025.
Yandy membagikan kisahnya bekerja di dunia perfilman dengan membangun karya-karya yang berangkat dari cerita, bukan sekadar mengikuti tren pasar. Dari proses ini, ia belajar satu hal penting untuk mengenali kekuatan dan kelemahan diri sendiri serta jenis cerita yang ingin dibagikan.
“Pasar itu dinamis dan tidak salah untuk mengikuti pasar. Namun, jika itu bukanlah suatu hal yang kita minati dan kuasai, biasanya tidak akan bertahan lama. Produsen akan mudah terseret pasar apabila tidak mengenal diri sendiri,” paparnya pada Jumat (31/10/2025).
Yandy kembali menekankan bahwa karya yang mengikuti tren berpotensi berhasil dalam jangka pendek, tetapi tidak berkelanjutan. Menurutnya, karya yang kuat memiliki tiga unsur, seperti kedalaman pemikiran, keterampilan, dan empati terhadap manusia.
“Akar dari film adalah cerita. Sebagai seorang kreator, penting untuk mendahulukan kepentingan penonton. Penonton datang ke bioskop bukan semata untuk melihat visual yang menarik, melainkan untuk mengalami cerita yang relevan dengan kehidupan manusia,” lanjutnya.
Yandy turut menyoroti pentingnya proses berkarya. Baginya, mencapai tujuan itu penting, namun cara untuk sampai ke tujuan pun juga sama pentingnya.
“Tidak ada gunanya memenangkan proyek atau argumen, tapi kehilangan orang-orang yang bekerja bersama kita. Prinsip ini saya bawa ke dalam proses pembuatan film,” katanya.
Ia pun menyampaikan pesan kepada mahasiswa untuk menjalani hidup dengan sungguh-sungguh. Mahasiswa perlu menjalani hidup dengan penuh semangat dan komitmen, tidak hanya mengejar passion. Dengan sikap tersebut, potensi dan bakat akan tumbuh secara alami. Ia menekankan bahwa masa kuliah merupakan fase penting sebelum ruang pertemanan dan peluang semakin terbatas. Oleh sebab itu, masa perkkuliahan perlu dimanfaatkan sebaik mungkin untuk belajar, berkarya, dan membangun relasi agar setelah lulus tidak kehilangan arah.
Reportase: Shofi Hawa Anjani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
