Fenomena penggunaan pinjaman daring (pindar) di Indonesia terus menunjukkan peningkatan, terutama di kalangan anak muda. Kemudahan akses, proses cepat, serta integrasi dengan platform digital membuat layanan ini semakin populer. Namun, di balik kemudahan tersebut, terdapat berbagai risiko apabila tidak digunakan secara bijak.
Ikhwandaru Mandegani, alumni Program Studi S1 Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) angkatan 2021, mengkaji faktor-faktor yang memengaruhi niat individu dalam mengajukan pinjaman daring konsumtif, khususnya melalui layanan SPinjam. Dalam penelitian berjudul Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Niat Mengajukan Pinjaman Konsumtif melalui Layanan Pinjaman Daring SPinjam sebagai syarat untuk meraih gelar sarjana, Ikhwandaru melibatkan 200 responden di Indonesia dengan mengombinasikan Theory of Planned Behavior dan Perceived Value Theory. Studi ini menganalisis pengaruh kualitas layanan, biaya, risiko, norma sosial, serta nilai yang dirasakan terhadap niat penggunaan pinjaman daring.
“Fenomenanya menarik. Dari 2023 ke 2024, outstanding loan individu terus naik. Salah satu penyedia terbesar adalah SPinjam, fitur pinjaman yang terintegrasi dengan Shopee dan membuat pengajuan semakin mudah,” paparnya dalam program 3 Minute Thesis berjudul Bukan Pinjol, Pindar Namanya: Cepat Cair, Mudah Bermasalah?.
Ikhwandaru menjelaskan bahwa beberapa faktor yang memengaruhi niat seseorang untuk menggunakan pinjaman daring cukup beragam. Faktor-faktor tersebut adalah pengaruh lingkungan sekitar, seperti teman dan keluarga, serta kualitas layanan yang dirasakan pengguna, misalnya kemudahan, kecepatan, dan kenyamanan penggunaan aplikasi. Semakin positif pengaruh sosial dan semakin baik kualitas layanan, maka semakin tinggi pula minat untuk menggunakan layanan tersebut.

“Hasilnya cukup menarik. Banyak pengguna bersikap pragmatis terhadap risiko,”ungkapnya.
Temuan ini menunjukkan bahwa banyak orang, terutama generasi muda, tidak menjadikan risiko dan biaya sebagai pertimbangan utama saat memutuskan meminjam. Mereka lebih fokus pada kemudahan akses dan pengalaman penggunaan dibandingkan dengan mempertimbangkan potensi risiko dan biaya yang mungkin timbul.
Selain itu, penelitian ini juga menemukan bahwa sebagian besar pengguna belum sepenuhnya memahami struktur biaya pinjaman. Kondisi ini sering terjadi akibat rendahnya literasi keuangan atau kurang jelasnya informasi dari penyedia layanan.
“Penelitian ini juga mendukung teori Ajzen bahwa lingkungan memengaruhi perilaku. Ajakan dari teman atau keluarga membuat pindar terasa wajar. Selain itu, anak muda lebih memperhatikan non-monetary cost dibanding risiko atau beban biaya,” terangnya.
Oleh karena itu, Ikhwandaru berharap hasil penelitian ini dapat menjadi bahan evaluasi bagi penyedia layanan pinjaman online. Dengan begitu, nantinya dapat dikembangkan sistem yang lebih bertanggung jawab serta disusun strategi pemasaran yang lebih tepat dan beretika.
Video program 3 Minute Thesis: Bukan Pinjol, Pindar Namanya: Cepat Cair, Mudah Bermasalah selengkapnya dapat diakses melalui: 3MTPinjamanDaring
Reportase: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
