Ketua Departemen Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Prof. Nurul Indarti, Sivilokonom., Cand.Merc., Ph.D., terpilih mengikuti 20th International Deans’ Course (IDC) Southeast Asia 2026. Ia menjadi salah satu dari 30 peserta yang berhasil lolos dari 300-an pelamar di kawasan Asia Tenggara. Menariknya, Prof. Nurul menjadi satu-satunya peserta yang menjabat sebagai Ketua Departemen, sementara peserta lainnya merupakan dekan, wakil dekan, dan pimpinan unit strategis di perguruan tinggi.
Program pengembangan kepemimpinan perguruan tinggi tersebut berlangsung melalui rangkaian kegiatan jangka panjang, diawali dengan pelatihan intensif di Osnabrück dan Berlin, Jerman, pada 15–26 Juni 2026. Rangkaian acara akan berlanjut hingga November 2026 melalui proses implementasi perubahan di institusi masing-masing peserta.
International Deans’ Course merupakan program pengembangan kapasitas bagi dekan dan pimpinan perguruan tinggi yang telah diinisiasi sejak 2007 dengan dukungan pendanaan dari German Academic Exchange Service (DAAD). Untuk kawasan Asia Tenggara, program ini diselenggarakan setiap dua tahun dan dikoordinasikan oleh Osnabrück University of Applied Sciences bersama sejumlah mitra internasional.
Pada penyelenggaraan 2026, sebanyak 30 peserta terpilih berasal dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, Filipina, dan Kamboja. Dari jumlah tersebut, sembilan peserta berasal dari perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia. FEB UGM menjadi salah satu institusi yang terwakili melalui keikutsertaan Prof. Nurul Indarti.

Program IDC dirancang untuk memperkuat kapasitas para pemimpin perguruan tinggi dalam menghadapi kompleksitas pengelolaan institusi pendidikan tinggi. Materi utama mencakup pengelolaan kelembagaan perguruan tinggi, tata kelola, kepemimpinan, manajemen perubahan, pengelolaan konflik, pengambilan keputusan, serta berbagai tantangan organisasi dalam lingkungan pendidikan tinggi yang terus berubah.
Pembelajaran tidak hanya dilakukan melalui penyampaian materi konseptual. Peserta mengikuti diskusi kasus, kerja kelompok, peer learning, refleksi kepemimpinan, kunjungan institusi, serta pertukaran pengalaman mengenai persoalan nyata yang mereka hadapi di organisasi masing-masing. Keragaman konteks dan latar belakang peserta menjadi salah satu kekuatan utama program karena setiap institusi menghadapi tantangan yang berbeda.
Salah satu pendekatan penting yang digunakan dalam IDC adalah pemikiran desain. Melalui pendekatan ini, peserta didorong untuk mengidentifikasi persoalan nyata di institusinya, memahami kebutuhan para pemangku kepentingan, merumuskan fokus perubahan, mengembangkan alternatif solusi, dan merancang langkah implementasi yang dapat dilakukan secara bertahap.
Rangkaian program berlangsung hingga November 2026. Dalam periode tersebut, peserta diharapkan tidak berhenti pada pemahaman konseptual, tetapi mampu menerapkan materi yang diperoleh dan menghasilkan initial change, yaitu langkah awal perubahan yang konkret dan relevan dengan kebutuhan institusi masing-masing. Bagi Prof. Nurul Indarti, keikutsertaan dalam IDC menjadi pengalaman pembelajaran yang sangat berharga.
“Saya merasa sangat beruntung dapat menjadi bagian dari program ini. Posisi saya cukup unik karena menjadi satu-satunya peserta pada tingkat Ketua Departemen. Justru dari situ saya banyak belajar dari peserta lain yang membawa persoalan, tantangan, dan situasi kelembagaan yang sangat beragam,” ujar Nurul.
Menurut Nurul, proses berbagi pengalaman antar peserta memberikan banyak pembelajaran yang tidak selalu dapat diperoleh dari materi formal. Setiap peserta membawa kasus yang berbeda, mulai dari dinamika konflik internal, resistensi terhadap perubahan, keterbatasan sumber daya, perubahan struktur organisasi, hingga tantangan membangun kolaborasi dan memperkuat tata kelola.
“Setiap peserta memiliki problem yang unik. Saya banyak mendapatkan lesson learned dari bagaimana mereka menghadapi persoalan tersebut. Ini juga menjadi ruang refleksi bagi saya karena kita semakin memahami bahwa tidak ada satu pendekatan yang dapat diterapkan sama untuk semua institusi,” tambahnya.

Selain pembelajaran terkait tata kelola dan kepemimpinan, Nurul menilai bahwa salah satu manfaat penting dari IDC adalah terbentuknya jejaring sesama peserta Asia Tenggara. Interaksi intensif selama program memungkinkan peserta membangun hubungan profesional yang dapat berkembang menjadi ruang saling belajar, berbagi praktik baik, dan membuka peluang kolaborasi lintas institusi maupun lintas negara.
“Yang tidak kalah penting adalah jejaring. Kami tidak hanya belajar dari fasilitator, tetapi juga dari sesama peserta. Masing-masing membawa pengalaman dan perspektif yang berbeda. Jejaring ini sangat berharga karena proses belajar dapat terus berlanjut bahkan setelah program selesai,” ungkap Nurul.
Melalui partisipasi dalam 20th International Deans’ Course Southeast Asia 2026, FEB UGM diharapkan dapat membawa pulang berbagai pembelajaran, perspektif, dan praktik baik yang relevan untuk memperkuat tata kelola, kepemimpinan adaptif, serta pengelolaan perubahan institusi.
Keikutsertaan ini sekaligus mencerminkan komitmen FEB UGM untuk terus mengembangkan kapasitas kepemimpinan dan membangun institusi pendidikan tinggi yang unggul, adaptif, kolaboratif, dan berdaya saing internasional.
Reportase: Shofi Hawa Anjani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
