Bisnis hijau yang kuat tidak cukup berhenti pada niat mengurangi limbah. Ia perlu dirancang secara matang, mulai dari siapa yang dibantu, nilai apa yang ditawarkan, hingga bagaimana pendapatan dan dampak sosial dapat terus terjaga. Hal tersebut mengemuka dalam sesi Developing Business Mindset (DBM) bertajuk “Business Model Canvas for Green Business & Social Impact” untuk mahasiswa baru Pionir Simfoni FEB UGM 2026 pada Rabu (5/8/2026).
Guru Besar Departemen Manajemen FEB UGM, Prof. Nurul Indarti, Sivilokonom., Cand.Merc., Ph.D., membedah Business Model Canvas (BMC) sebagai alat untuk mengubah ide bisnis hijau menjadi rancangan yang dapat diuji. Ia menjelaskan bahwa limbah sesungguhnya menyimpan sumber daya tersembunyi yang bisa diolah menjadi input bisnis apabila didukung desain, proses, dan kemitraan yang tepat.
Prof. Nurul menyampaikan bahwa persoalan limbah muncul dari tiga hal. Pertama, volume sampah yang bertambah lebih cepat daripada kapasitas pengelolaannya. Kedua, eksternalitas negatif berupa pencemaran udara, tanah, dan air. Ketiga, potensi nilai dari limbah yang belum tergali secara maksimal. Ia mengaitkan persoalan ini dengan prinsip 3R, yaitu reduce, reuse, dan recycle.
Selain itu, Ia menekankan bahwa bisnis hijau perlu menyentuh tiga aspek utama, yaitu people, planet, dan profit. People menilai keberpihakan pada warga dan relasi yang adil, planet menilai pengurangan limbah dan pengolahan kembali material, sementara profit menilai kecukupan pendapatan untuk menutup biaya dan menjaga keberlanjutan dampak.
“Sebelum menginisiasi bisnis hijau, perlu dipertimbangkan apakah model bisnis tersebut sudah menyentuh tiga aspek utama, yakni people, planet, dan profit. Ketiganya perlu saling menopang agar dampak yang diciptakan benar-benar berkelanjutan,” tutur Prof. Nurul.
Sebagai latihan penerapan, mahasiswa baru diajak membedah tiga kasus limbah, mulai dari sedotan plastik, pakaian bekas, hingga tempurung kelapa, lalu merumuskan siapa yang paling terdampak dan bagaimana sembilan elemen BMC dapat dirancang untuk menjawabnya.
“BMC membantu kita melihat ide secara utuh. Bisnis hijau yang kuat bukan hanya mengurangi limbah, tetapi juga membangun relasi, pendapatan, dan pemberdayaan,” terangnya.
Reportase: Dwi Zhafirah Meiliani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
