Reuni 35 Tahun KAFEGAMA Angkatan 1991 tidak hanya menjadi ruang untuk mengenang perjalanan selama menempuh pendidikan di FEB UGM. Kegiatan tersebut juga menjadi momentum alumni untuk kembali berkontribusi kepada almamater melalui pemberian bantuan biaya pendidikan bagi mahasiswa FEB UGM.
Bantuan beasiswa sebesar Rp15 juta diberikan kepada lima mahasiswa jenjang sarjana dari berbagai program studi. Pemberian bantuan pendidikan menjadi bagian dari upaya alumni untuk meneruskan manfaat yang dahulu mereka terima selama menempuh pendidikan di FEB UGM. Setelah 35 tahun, pengalaman yang diperoleh alumni tidak hanya menjadi perjalanan personal, tetapi juga dapat dibagikan kepada generasi mahasiswa berikutnya.
Pemberian beasiswa menjadi bagian dari rangkaian Reuni 35 Tahun KAFEGAMA 1991 yang mengusung tema “Kembali ke Kampus: Sharing Journeys, Inspiring Futures” dan “Reuni Meneh: Merangkai Kenangan, Menguatkan Persaudaraan”. Kegiatan berlangsung di Pertamina Tower Lantai 6, FEB UGM, Jumat (25/9).
Dekan FEB UGM Prof. Dr. Didi Achjari , M.Com., Ak., CA., menyampaikan apresiasi atas kepedulian alumni KAFEGAMA 1991 yang menjadikan reuni sebagai momentum berbagi dan memberikan manfaat bagi mahasiswa.
“Melalui tema Sharing Journeys, Inspiring Futures, kami sangat mengapresiasi inisiatif angkatan 1991 yang tidak hanya bernostalgia, tetapi juga berbagi pengalaman berharga dan memberikan beasiswa atau bantuan biaya pendidikan bagi lima mahasiswa kami dari berbagai program studi pada jenjang sarjana,” ujar Didi.
Menurut Didi, dukungan alumni menjadi bagian penting dalam memperkuat hubungan antara almamater dan keluarga besar FEB UGM. Kolaborasi tersebut juga sejalan dengan upaya FEB UGM untuk berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan.
“Visi besar ini tentu tidak dapat kami wujudkan sendirian tanpa dukungan sinergis dari keluarga besar Kafegama,” tuturnya.
Ketua KAFEGAMA Angkatan 1991, Mukhlis Ishak, mengatakan acara reuni merupakan upaya membangkitkan kembali berbagai kenangan selama menjadi mahasiswa, termasuk peran para dosen dalam membentuk perjalanan mereka.
“Datang ke kampus dengan kertas kosong, penuh ketidaktahuan, di tengah pencarian jati diri, dosen hadir sebagai pembimbing. Tidak sekadar mentransfer ilmu, tetapi juga mengalirkan kebijaksanaan tentang bagaimana menghadapi dunia,” ujar Mukhlis.
Menurutnya, perjalanan para alumni selama 35 tahun tidak terlepas dari proses pembelajaran dan bimbingan yang diperoleh selama berada di FEB UGM. Karena itu, reuni menjadi kesempatan untuk menyampaikan kembali apresiasi kepada para dosen sekaligus memperkuat hubungan dengan almamater.
Bagi KAFEGAMA 1991, pemberian bantuan pendidikan menjadi bagian dari upaya meneruskan manfaat yang dahulu mereka terima selama menempuh pendidikan di FEB UGM. Setelah 35 tahun, pengalaman yang diperoleh alumni tidak hanya menjadi perjalanan personal, tetapi juga dapat dibagikan kepada generasi mahasiswa berikutnya.
Kegiatan reuni tersebut menjadi salah satu bentuk keterlibatan alumni dalam mendukung keberlanjutan pendidikan mahasiswa FEB UGM. Melalui dukungan pendidikan, pengalaman profesional, dan jejaring yang dimiliki, alumni dapat terus menjadi bagian dari perjalanan generasi FEB UGM berikutnya.
Reportase: Kurnia Ekaptiningrum







