Kepemimpinan bukan kualitas yang lahir dalam semalam. Ia dibentuk melalui pengalaman, proses belajar, dan keberanian menghadapi persoalan nyata. Seorang pemimpin tidak hanya dituntut mampu menentukan arah, tetapi juga menghadirkan dampak bagi orang-orang dan lingkungan di sekitarnya.
Hal tersebut mengemuka dalam acara “Future Leaders for Impact: Leadership, Purpose, and Real-World Problems” yang diselenggarakan oleh Career and Student Development Unit (CSDU) FEB UGM pada Selasa, 1 September 2026 di Auditorium Lt. 8 Learning Centre, FEB UGM. Menghadirkan praktisi dan alumni, kegiatan ini membekali mahasiswa baru FEB UGM dengan wawasan kepemimpinan, pembentukan karakter, serta kemampuan menghadapi persoalan nyata di masyarakat melalui inovasi dan kewirausahaan.
Founder and CEO Environesia Group, Ir. Saprian, S.T., M.Sc., M.T., IPM., ASEAN.Eng., menyampaikan bahwa kepemimpinan adalah long game dan proses akumulatif, bukan kemampuan instan yang didapat dalam semalam. Dalam memupuk skill kepemimpinan, perlu keberanian dalam mengambil tanggung jawab dari hal-hal kecil secara konsisten.
“Ambil kesempatan yang datang, dari berbagai kesempatan tersebut, rasa kepemimpinan akan bertumbuh dengan seiring waktu,” ucapnya.
Saprian menyebutkan bahwa terdapat tiga pondasi kepemimpinan. Pertama, nilai dan karakter yang menjadi pembeda utama seorang pemimpin dengan pemimpin yang lain. Kedua, minat dan kepedulian dengan membangun gerakan berdasarkan isu sosial atau lingkungan yang sedang terjadi. Terakhir, fleksibilitas gaya pemimpin sesuai dengan kondisi di lapangan. Ketiga fondasi tersebut ia wujudkan melalui Environesia Group, bisnis yang dibangunnya dengan berangkat dari persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Sementara Alan Putra Wijaya, mahasiswa Prodi Manajemen angkatan 2022 sekaligus CEO dari Renou membagikan pengalaman kehidupan kampus yang menjadi titik awal dalam perjalanan kepemimpinannya. Berbagai pengalaman tersebut kemudian ia bawa dalam perjalanan merintis dan mengembangkan bisnis.
Sejak awal kuliah Alan mengambil kesempatan untuk bergabung di dalam organisasi fakultas, yakni BEM FEB UGM. Dari pengalaman tersebut ia belajar bahwa kepemimpinan tidak selalu dimulai dengan berada di posisi terdepan, tetapi dengan menjadi pengikut yang baik, mendengarkan orang lain, dan membangun jaringan. Pengalaman kepemimpinannya semakin teruji ketika ia dipercaya menjadi CEO The Management’s Event, agenda tahunan mahasiswa Program Studi Manajemen yang melibatkan lebih dari 170 panitia.
Pengalaman serupa Alan peroleh ketika mulai merintis bisnis. Pada semester tiga, ia mendirikan Kedai Bubur Tikum yang berkembang hingga memiliki enam cabang dan mempekerjakan 35 karyawan. Namun, bisnis tersebut harus berhenti beroperasi dua tahun kemudian. Kegagalan tersebut menjadi pengalaman penting bagi Alan untuk memahami bahwa seorang pemimpin membutuhkan resiliensi dan konsistensi untuk mampu bangkit dan melanjutkan langkah.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi pijakan bagi Alan untuk mengembangkan Renou, bisnis berbasis lingkungan yang mengolah sampah plastik menjadi produk furnitur dan aksesori fungsional. Hingga kini, Renou telah mendaur ulang lebih dari satu ton sampah plastik dan bermitra dengan puluhan komunitas.
Alan menekankan tiga poin penting yang terus ia gunakan untuk merefleksikan kepemimpinannya, yakni apakah dirinya berani menerima kritik, apa alasan kuat yang mendorongnya untuk memimpin, dan apakah ia memiliki komitmen untuk terus melakukan perbaikan.
“Dan key takeaway-nya, leaders are lifelong learners, and I do believe that they are built and not born,” tutupnya.
Reportase: Najwa Anggi Namira
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
