Bisa kuliah di perguruan tinggi tentu menjadi impian bagi setiap orang. Begitu juga dengan Johar Ma’mun (22), seorang anak petani asal sebuah dusun kecil di Desa Penggalang, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Dia tidak pernah menyangka bisa diterima kuliah di Program Studi (prodi) Akuntansi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Gadjah Mada (FEB UGM). Bahkan kini dia berhasil lulus dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,75 dan predikat cum laude.
Sarjana Pertama di Keluarga
Johar merupakan anak bungsu dari 4 bersaudara yang lahir dari pasangan Muhlasin (64) dan Saminah (64). Sang ayah merupakan petani yang bahkan tidak lulus dari bangku Sekolah Dasar (SD). Namun, siapa sangka dari keluarga ini bisa lahir sarjana pertama yang membanggakan keluarga besarnya.
Johar bercerita bahwa keinginannya untuk berkuliah sangat besar. Namun, melihat kondisi keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi, dia tidak secara terang-terangan mengungkapkan niatnya. Terlebih, tidak ada sejarah dalam keluarga besarnya yang mengecap pendidikan tinggi. Bapak dan ibunya bahkan putus sekolah saat kelas tiga sekolah dasar karena terkendala biaya. Sementara itu, kakak pertama dan kedua Johar baru berhasil menyelesaikan pendidikan di tingkat sekolah menengah pertama (SMP). Lalu kakak ketiganya berhasil menamatkan pendidikan hingga bangku SMK atau setara SMA.
“Selepas SMP, benarnya Bapak ingin saya melanjutkan pendidikan ke pondok pesantren karena keluarga semua ke pesantren. Namun ibu mendukung saya melanjutkan ke SMA karena melihat nilai-nilai saya saat SMP bagus, selalu juara kelas. Begitu pula para guru di sekolah yang mendorong saya untuk melanjutkan ke SMA,” paparnya.
Dari momen itulah Johar semakin menguatkan keyakinannya untuk meraih impiannya dalam menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Johar melanjutkan pendidikan menengah atas di SMA N 1 Cilacap. Saat di bangku SMA pun Johar berhasil menorehkan prestasi. Selain menempati posisi juara kelas, dia juga kerap mengikuti berbagai kompetisi, salah satunya Olimpiade Ekonomi.
Rencana Tuhan adalah Terbaik
Selepas lulus SMA, Johar pun menyampaikan keinginan untuk kuliah secara terang-terangan kepada orang tuanya. Memahami kondisi keluarga, Johar meyakinkan orang tuanya bahwa ia akan mencari beasiswa untuk melanjutkan kuliah.
“Awalnya orang tua ragu, tetapi saya sampaikan kepada orang tua bahwa ada beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) yang diberikan oleh pemerintah bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu. Saya meyakinkan mereka bahwa akan memanfaatkan peluang tersebut,” tuturnya.
Akhirnya Johar mendaftar kuliah melalui jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) tahun 2020 dan berhasil diterima di Universitas Diponegoro. Kala itu, sebenarnya keinginan untuk masuk UGM sangat kuat, tetapi dia tidak memilihnya karena melihat ketatnya persaingan untuk masuk universitas ternama di Indonesia ini. Meski telah diterima masuk perguruan tinggi lewat jalur SBMPTN, hari kecil Johar masih sangat berharap bisa kuliah di UGM. Lalu, dia kembali memanfaatkan peluang terakhir untuk masuk UGM melalui jalur Ujian Mandiri (UM) dengan pilihan prodi Akuntansi FEB UGM.
“Begitu tahu diterima, saya sangat senang. Ternyata ketakutan saya bahwa saya tidak bisa masuk UGM terbukti salah. Orang tua pun langsung menangis dan sujud syukur setelah mengetahui bahwa saya diterima di UGM,” ungkapnya.
Meski bahagia dapat masuk universitas impian, Johar dan keluarga besarnya masih menyimpan kecemasan akan biaya kuliah. Ada ketakutan jika nantinya Johar tidak lolos mendapatkan beasiswa KIP-K. Nyatanya, kekhawatiran itu kembali terpatahkan karena Johar dinyatakan lolos sebagai salah satu penerima beasiswa KIP-K.
Beasiswa itu membantu kehidupan Johar selama menempuh studi di FEB UGM. Tidak ada lagi alasan keterbatasan ekonomi menjadi hambatan baginya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.
Mahasiswa Angkatan Corona
Tahun 2020 merupakan tahun yang membahagiakan bagi Johar. Namun, tahun tersebut menjadi tahun terburuk bagi sebagian besar masyarakat dunia akibat pandemi Covid-19. Diterimanya kuliah saat pandemi membuat Johar harus menjalani perkuliahan secara daring. Di awal-awal kuliah, ia sempat tidak percaya diri karena laptop yang dimilikinya belum bisa mendukungnya dalam menjalani kuliah secara daring.
“Kebetulan awal kuliah itu online, sementara laptop saya belum mendukung untuk itu. Kan harus banyak download aplikasi untuk kuliah online, laptop sering ngelag, ditambah sinyal tidak maksimal karena saya kan tinggalnya di desa,” kenangnya.
Bukan Johar jika langsung menyerah saat menghadapi ujian dari Tuhan. Berbagai ujian yang ada justru semakin menguatkan tekad Johar untuk semakin giat berusaha. Saat sudah menjalani kuliah secara luring, dia pun memanfaatkan kesempatan itu sebaik mungkin. Tak hanya aktif di perkuliahan, lelaki berkacamata ini juga aktif mengikuti berbagai kompetisi. Dia pun berhasil menorehkan sederet prestasi, beberapa di antaranya 1st Runner-up of Auditphoria 4.0 Politeknik Keuangan Negara (PKN) STAN (2023), 1st Winner of Accounting Excellence Olympiad Politeknik Keuangan Negara (PKN) STAN (2023), 1st Runner-up of Pekan Ilmiah Akuntansi (PIA) Universitas Jenderal Soedirman (2023), 1st Runner-up of Indonesia Sharia Financial Olympiad Otoritas Jasa Keuangan (2023), dan 1st Winner of LCC SEMARCOOPFEST Universitas Sebelas Maret (2021). Johar juga sempat melakukan magang di beberapa perusahaan atau institusi di Tanah Air untuk mengasah kemampuannya sebelum terjun ke dunia kerja yang sesungguhnya.
Bukti Keterbatasan Bukan Hambatan
Berbagai usaha keras yang dilakukan Johar membuahkan hasil manis. Tak hanya lulus dengan predikat cum laude, dia juga berhasil mendapatkan pekerjaan di perusahaan Big 4, kantor akuntan publik, yaitu Ernst & Young.
Kisah Johar ini telah membuktikan kepada dunia bahwa keterbatasan tidak menjadi penghalang bagi seseorang untuk meraih pendidikan setinggi-tingginya. Melalui ketekunan, usaha keras, serta doa, Johar, seorang anak petani dari sebuah desa kecil, berhasil menunjukkan bahwa tidak ada yang tidak mungkin dicapai di dunia ini.
“Kita tidak bisa memilih lahir dari keluarga seperti apa. Jangan pernah menyerah. Selagi masih ada kemampuan, disertai kerja keras, akan banyak kesempatan dan kemungkinan yang bisa didapatkan. Nikmati setiap perjalanan karena dari setiap perjalanan kita bisa menjadi sosok yang lebih baik dan kuat,” pungkasnya.
Reportase: Kurnia Ekaptiningrum
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)



