Tidak semua ide brilian lahir dari kecerdasan semata. Dalam banyak kasus, inovasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi juga oleh kekuatan modal psikologis dan dukungan modal sosial. Temuan inilah yang diungkap dalam riset dosen Departemen Manajemen FEB UGM, RR. Tur Nastiti, M.Si., Ph.D., dan Agi Syarif Hidayat, S.E., M.M., dosen FEB Universitas Gunung Jati.
Tur Nastiti menyampaikan penelitian dilakukan terhadap peserta program Studi Independen, Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dengan menggunakan metode Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Metode ini dipilih karena mampu menganalisis data kompleks yang tidak selalu berdistribusi normal serta memberikan hasil prediktif yang kuat. Dari ribuan kuesioner yang disebarkan, sebanyak 6.409 responden memenuhi kriteria untuk dianalisis.
“Kami meneliti bagaimana modal psikologis berperan dalam mendorong perilaku inovatif, serta bagaimana modal sosial menjadi penghubung yang memperkuat efeknya,” jelasnya pada program Research Series 2.0: Cara Koneksi Membangun Inovasi.
Hasil penelitian mengungkap bahwa individu dengan modal psikologis tinggi cenderung lebih inovatif. Modal psikologis tersebut terdiri dari empat elemen utama, yaitu efikasi diri, resiliensi, optimisme, dan harapan. Kombinasi keempat aspek ini mendorong individu untuk lebih percaya diri, berani mengambil risiko, serta terbuka terhadap pengalaman baru.
Agi Syarif Hidayat menjelaskan bahwa karakter tersebut tidak hanya menumbuhkan kepercayaan diri, tetapi juga membantu mereka dalam membangun dan menjaga hubungan sosial yang lebih erat. Lingkungan yang dipenuhi rasa saling percaya dan dukungan ini, menurutnya, menjadi ruang subur bagi tumbuhnya inovasi.
Ia menjelaskan bahwa keberanian untuk keluar dari zona nyaman serta keterbukaan dalam berinteraksi dengan berbagai pihak memungkinkan individu memperluas jejaring sosialnya. Melalui jaringan yang kuat, mereka memperoleh akses terhadap informasi, dukungan, dan umpan balik yang semakin memperkaya gagasan inovatif.
Lebih jauh, hubungan sosial yang dilandasi kepercayaan turut mendorong terciptanya kolaborasi, pertukaran pengetahuan, serta koordinasi yang efektif dalam merealisasikan ide.
“Ketika individu berada dalam lingkungan dengan visi dan tujuan yang sejalan, proses saling memotivasi dan menginspirasi pun terjadi secara alami, sehingga inovasi dapat berkembang secara berkelanjutan,” jelasnya.
Lebih lanjut, penelitian ini menemukan bahwa modal sosial bukan hanya sekedar faktor penghubung, tetapi menjadi penggerak utama dalam proses inovasi. Individu yang memiliki jaringan sosial yang mendukung lebih terdorong untuk mengembangkan ide-ide baru dan mewujudkannya menjadi inovasi nyata.
”Temuan ini memiliki implikasi penting bagi dunia kerja dan pendidikan. Dalam konteks organisasi, pemimpin memiliki peran penting dalam membangun modal sosial dalam tim. Kolaborasi yang erat bukan hanya mendorong lahirnya ide-ide baru, tetapi juga meningkatkan keberhasilan dalam mengimplementasikannya menjadi inovasi nyata,” papar Agi.

Di sisi lain, pemanfaatan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI) perlu diimbangi dengan penguatan interaksi sosial. Meskipun teknologi mampu meningkatkan efisiensi, tetapi jika tidak diterapkan dengan bijak dapat mengurangi interaksi sosial yang krusial bagi inovasi.
Dalam dunia pendidikan, khususnya program MBKM, Agi mengatakan bahwa program pendidikan sebaiknya tidak hanya fokus pada keterampilan teknis, tetapi juga melatih aspek psikologis yang mendukung inovasi dan kolaborasi. Selain itu, penguatan mentalitas inovatif dan kerja sama akan membantu mahasiswa menghadapi tantangan dunia kerja yang semakin kompleks.
Tur Nastiti kembali menambahkan bahwa inovasi terbaik lahir dari kombinasi antara kekuatan individu dan dukungan lingkungan. Sebab, dalam dunia yang terus berubah, inovasi bukan hanya tentang kecerdasan individu semata. Ada faktor lain yang berperan besar yaitu modal psikologis dan modal sosial.
“Ketika seseorang memiliki kepercayaan diri, optimisme, dan ketahanan mental yang tinggi, mereka lebih berani mengeksplorasi ide baru. Namun, tanpa dukungan sosial, tanpa lingkungan yang mendorong, memberi masukan, dan membuka peluang, ide-ide tersebut bisa saja menguap begitu saja,” tegasnya.
Temuan ini dikatakan Tur Nastiti Menunjukkan bahwa kolaborasi dan dukungan sosial bukan hanya pelengkap, tetapi katalis utama dalam proses inovasi. Semakin kuat hubungan sosial yang terjalin, semakin besar kemungkinan sebuah ide berkembang menjadi inovasi nyata.
Lebih dari sekadar wawasan akademis, temuan ini menggarisbawahi implikasi praktis yang bisa diterapkan dalam berbagai konteks. Mulai dari menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kolaborasi tim, mendorong pertukaran pengetahuan, hingga memperkuat hubungan antar individu dalam organisasi, semuanya berperan dalam membangun ekosistem yang lebih inklusif bagi kreativitas dan inovasi.
“Jadi, jika kita ingin menciptakan terobosan besar, perihal yang terkait bukan hanya tentang level kecerdasan kita, tetapi juga tentang seberapa kuat jaringan sosial yang kita bangun,” pungkasnya.
Video program Research Series bertajuk Cara Koneksi Membangun Inovasi selengkapnya dapat diakses melalui: http://ugm.id/CaraKoneksiMembangunInovasi
Reportase: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
