Aldiena Bunga Fadhila, S.E., M.Sc., yang kerap disapa Bu Bunga, merupakan dosen FEB UGM dari Departemen Akuntansi. Dosen yang mengampu Mata Kuliah Akuntansi Perpajakan ini menempuh Pendidikan Magister di University of York, Inggris. Sebagai tenaga pendidik di FEB UGM, Bu Bunga telah berkontribusi dalam dunia pendidikan melalui berbagai publikasi. Dalam pembelajaran di kelas, Bu Bunga selalu menyusun pendekatan yang aplikatif untuk dapat diterapkan secara efektif dan kontinu, khususnya saat pembelajaran dengan metode daring seperti sekarang ini. Pada kesempatan kali ini, Bu Bunga berbincang dan berbagi pandangannya mengenai kegiatan belajar-mengajar (kuliah) daring yang telah berlangsung selama ini.
Setelah kurang lebih dua semester menjalani kegiatan belajar-mengajar secara daring, bagaimana menurut Bu Bunga kuliah daring? Apa yang Ibu rasakan?
Pada awalnya, saat pandemi baru mulai, memang penyesuaiannya cukup sulit karena baru pertama kali mengajar secara daring. Maka dari itu, banyak dosen juga terburu-buru melakukan penyesuaian. Itu hal pertama, tetapi kemudian sekitar bulan ke-4 hingga semester kedua ini, sepertinya saya mulai mendapat feel-nya, mulai bertemu ritmenya, dan sepertinya mahasiswa juga mulai bertemu ritmenya. Karena menjadi suatu keharusan di masa pandemi ini, saya merasa ini adalah cara paling baik untuk menyampaikan materi kepada mahasiswa, dan menurut saya, hal ini secara tidak langsung juga memaksa mahasiswa untuk mengikuti student-centered learning yang sesungguhnya.
Di media sosial sering digaungkan. Mahasiswa sering mengeluh bahwa kuliah daring kurang efektif (misalnya, kurang memahami materi, dll.). Menurut Bu Bunga, apakah hal itu valid?
Iya, menurut saya, hal itu valid karena memang online learning itu butuh adaptasi, dan yang kedua, kalau langsung dicemplungin ke online learning, yang pasti adalah it’s not for everyone. Apalagi dalam kondisi pandemi seperti saat ini, mahasiswa harus belajar daring, yang tadinya bisa (kuliah) bersama teman dan saling bertanya, jadi tidak bisa lagi melakukannya. You’re really on your own. Kalaupun ingin bertanya kepada teman, itu juga susah dilakukan karena tidak bisa berinteraksi secara langsung. Jadi, saya rasa hal itu valid; yang dirasakan juga valid. Hanya saja, yang perlu diingat di sini adalah bahwa ini memang kondisi yang tidak normal. Jangan terlalu berlarut di situ. Mahasiswa harus beradaptasi dan menyadari bahwa dirinya harus mulai belajar secara mandiri, yang berarti, dengan kata lain, harus mengganti cara belajar, cara berpikir, cara memandang suatu masalah, dsb.
Selanjutnya, berbicara tentang tantangan, menurut Bu Bunga, apa saja tantangan kuliah daring selama ini?
Kalau untuk mahasiswa, tantangannya jelas karena waktunya jadi terbatas. Ada keterbatasan waktu dan keterbatasan interaksi. Jadi, tantangan terbesarnya adalah keterbatasan interaksi tersebut; komunikasi pun ikut terbatas. Hal itu sebenarnya bisa dijembatani, misalnya, jika mahasiswa biasanya bertanya setelah selesai kelas, sekarang mahasiswa bisa mengirim email kepada dosen untuk mengajukan pertanyaan. Namun, hal itu juga menjadi tantangan karena terkadang dosen setelah mengajar kelas daring kemudian ada rapat-rapat daring lainnya. Hal itu memang tantangan yang harus kita hadapi. Kemudian, tantangan lain yang harus dihadapi adalah kemandirian, berkaitan dengan effort, karena effort untuk kelas daring itu lebih besar. Selain itu, integritas juga menjadi persoalan karena ujian dilaksanakan secara terpisah. Dosen tidak mengetahui apakah mahasiswa mengerjakan bersama-sama atau sembari membuka apa, sehingga integritas itu hanya mahasiswa yang bisa meng-guard dirinya sendiri.
Kalau untuk dosen, tantangan kita sebenarnya berat sekali. Untuk dosen yang masih muda, masih mudah beradaptasi dengan teknologi, tetapi dosen yang lebih senior mungkin akan lebih sulit beradaptasi. Saya justru sangat mengapresiasi dosen-dosen senior karena banyak dari mereka yang tadinya benar-benar buta teknologi sekarang sudah bisa menggunakannya dan membicarakan hal tersebut. Tantangan bagi dosen adalah mempelajari teknologi yang belum pernah digunakan sebelumnya. Kemudian yang kedua, kita juga berhadapan dengan keterbatasan komunikasi. Karena ya itu tadi, bagaimana caranya materi dari dosen bisa diberikan semua dan cara mengompensasi pertemuan daring dengan materi yang seperti apa, supaya pertemuan daring mirip dengan pertemuan luring. Memang sulit. Sebagai contoh, dalam akuntansi kita perlu mengajarkan hitung-hitungan, dan itu sangat sulit. Ada dosen yang kemudian berpikir untuk membeli tablet dan stylus. Challenge-nya, kita jadi harus punya gear yang up-to-date juga.
Kalau untuk interaksi antara dosen dan mahasiswa sendiri, apakah menurut Bu Bunga saat daring ini kurang efektif?
Pengamatan saya, yang lucu adalah di awal masa pandemi, saya mengajar kelas daring kemudian pada waktu itu karena menggunakan Webex yang agak berat, jadi saya bilang untuk mematikan videonya, jika ingin bertanya bisa melalui chatbox saja. Dan saya pun kaget karena ternyata banyak sekali yang bertanya, beda sekali dengan kuliah luring. Saya merasa agak lega juga. Mungkin saat luring ada rasa malu dan khawatir bahwa pertanyaannya tidak valid atau terkesan “bodoh”. Namun, ketika daring dan diperbolehkan bertanya di chatbox, semua pertanyaan jadi keluar dan mahasiswa berani mengajukan pertanyaannya di sana. Untuk kelas saya, ada pertemuan yang menggunakan video pembelajaran, kemudian diikuti dengan diskusi di Google Classroom. Di situ juga banyak interaksi dan pertanyaan. Oleh karena itu, saya mempertahankan sistem yang agak asinkron tersebut untuk menarik para mahasiswa yang biasanya agak malu bertanya di forum yang besar.
Lantas, bagaimana kuliah daring yang efektif menurut Bu Bunga? Apa saja yang sudah Bu Bunga terapkan secara nyata di kelas Ibu sendiri?
Saat ini saya masih terus melakukan percobaan, ya. Jadi, sebelum mulai merancang perkuliahan di semester yang kemarin ini, saya sempat ikut beberapa seminar yang dilakukan oleh Harvard Business School (HBS). Salah satu cara yang efektif menurut HBS adalah ketika kita melakukan virtual meeting, mahasiswa saja yang disuruh berbicara lebih banyak. Kemudian, saya coba lakukan dan memang dengan cara seperti itu lebih efektif (dalam hal menyampaikan materi dan mahasiswa memahaminya) daripada saya memberi materi dan berbicara banyak, dengan waktu yang sedikit untuk sesi tanya jawab. Jadi, what I did, yaitu biasanya saya memberikan video pembelajaran terlebih dahulu. Kemudian, saat pertemuan daring akan diisi sepenuhnya dengan presentasi oleh mahasiswa, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, serta diskusi materi. Menurut saya, hal itu efektif. Untuk beberapa materi yang relatif sulit, baru akan saya sampaikan di kelas, jadi jangan sampai ada mahasiswa yang melewatkannya. Hal lain yang saya terapkan juga adalah melakukan break 15 menit setelah kelas berlangsung sekitar 1 jam, karena kita harus menjaga atensi orang agar tetap terjaga.
Pada saat pengajaran daring, apakah Bu Bunga pernah mengalami burnout digital?
Saya juga sempat merasakan hal itu karena kelas semuanya serba daring. Rapat juga dilakukan secara daring. Saya sempat merasakan digital burnout pada saat mendekati akhir semester akibat kelelahan karena kelas daring. Selain itu, mulai muncul masalah kesehatan akibat terlalu lama menatap layar. Digital burnout bukan berarti saya tidak suka mengajar daring, tapi situasi mengajar daring itu menurut saya unhealthy untuk tubuh saya.
Apakah pengalaman paling berkesan, Bu Bunga, semasa belajar dalam talian?
Saya menemukan bahwa mahasiswa ternyata lebih aktif dan tidak malu bertanya saat kelas daring. Apalagi ketika tidak ada keharusan untuk bertanya di forum atau menyalakan video, mereka jadi lebih berani untuk bertanya. Itu yang paling berkesan menurut saya.
Apakah Anda memiliki pengalaman yang kurang menyenangkan terkait interaksi dengan mahasiswa saat kuliah daring?
Ada, apalagi sekarang serba daring, ya. Bahkan sebelum kuliah daring, ketika saya sering berinteraksi dengan mahasiswa, pasti ada interaksi yang tidak tepat secara komunikasi. Misalnya, saat mengirim email, kebanyakan mahasiswa mengirim langsung ngegas to the point, tidak ada pencantuman nama dan kelas, jadi saya tidak tahu siapa yang mengirim. Hal seperti itu semakin sering terjadi ketika kelas daring, banyak sekali cara komunikasi yang lucu-lucu dan unik, tetapi itu malah saya anggap hiburan tersendiri ketika mengajar
Selain interaksi, apakah ada hal lain yang tidak menyenangkan saat kuliah daring?
Hal lain yang tidak menyenangkan saat kuliah daring adalah ketika kita sebagai pengajar berusaha menjaga integritas, ujian kita release secara daring, akan tetapi justru banyak ditemukan mahasiswa yang justru tidak menjaga integritas. Saya sudah mencoba berusaha berpikir dan mendesain metode bagaimana mahasiswa bisa mengerjakan sendiri tanpa harus saling bertanya, itu yang paling heartbroken. Kita sudah berusaha menjaga integritas, tapi kadang tidak dibalas oleh pihak mahasiswa.
Apakah pernah terbersit di benak Bu Bunga untuk kuliah luring lagi?
Ada beberapa dosen yang ingin masuk (kuliah) luring lagi. Saya juga punya perasaan seperti itu. Namun, mengingat kondisi pandemi sekarang ini dan pembuktian dari mahasiswa yang juga ternyata lebih baik dari sisi keaktifan di kelas pada saat pembelajaran daring, saya jadi tidak terlalu berhasrat untuk (kuliah) luring secepatnya.
Dari sisi dosen, apakah kondisi pandemi menyurutkan semangat mengajar?
Saya pikir nggak ya, kalau saya sendiri, saya masih semangat mengajar, apalagi ketika mahasiswa aktif bertanya. Hal itu membuat saya semangat mengajar dan saya kira dosen lain juga demikian. Justru online class itu membuka kesempatan bagi dosen yang banyak kerjaan di luar kampus dan tidak bisa attend class, jadi bisa mengajar di kelas karena online class ini bisa diakses di mana saja, bahkan bisa diskusi melalui Google Classroom, ELok, dan platform-platform lain. Bicara soal semangat, di forum dosen, dosen kita yang senior justru sangat antusias dan bersemangat belajar teknologi baru untuk mengajar di kelas online ini.
Tips Bu Bunga untuk menjaga semangat saat mengajar kuliah daring.
Cara menjaga semangat saat kuliah daring, saya melakukan olahraga, ketika ada spare waktu saya gunakan untuk jalan-jalan keluar rumah dan itu yang membuat semangat mengajar. Hal ini juga berlaku bagi mahasiswa. Meskipun, kadang-kadang pasti merasa malas, unmotivated, tapi percaya saja, when you do it, you feel happy.
Saran Bu Bunga terkait pembelajaran selama pandemi Covid-19.
Kalau saya, yang jelas, karena ini pandemi, we have to embrace it; belajar untuk mulai lebih mandiri lagi. Kita harus lebih inovatif karena ini pembelajaran online dan cepat membuat bosan. Kita harus lebih inovatif dalam pelaksanaan perkuliahan. Tidak hanya dari segi penyampaian secara klasik ke video, tetapi juga bisa membuat case atau debat secara daring. Hal-hal seperti itu akan memberi “bumbu-bumbu” dalam perkuliahan daring sehingga menghilangkan kebosanan dan membuat mahasiswa dapat menyerap materi dengan lebih mudah dan menyenangkan.
Apakah ada unek-unek atau pesan Bu Bunga yang ingin disampaikan kepada mahasiswa?
Hal yang paling saya soroti adalah masalah integritas mahasiswa. Saya menyoroti di media sosial bahwa banyak sekali jasa pembuatan tugas. Tadinya saya memang sudah tahu dan aware, tapi saya lihat saat online class ini jadi semakin marak, dan parahnya lagi, hal itu diendorse. Tentu saja, hal itu menjadi kritik terbesar saya kepada mahasiswa. Belajar daring itu tidak hanya belajar pada umumnya, nggak hanya soal nilai yang bagus saja, tapi juga tentang membangun karakter dan pembiasaan untuk masa depan. Kalau sekarang saja sudah menggadaikan integritas demi nilai yang bagus, apalagi di masa depan. Life is not getting any easier; life is getting harder. Ketika menghadapi kesulitan, hajar terus. Jadi, ketika menghadapi sesuatu yang mudah, kita tinggal kipas-kipas karena sudah terbiasa menghadapi hal-hal yang sulit.
Harapan Bu Bunga untuk mahasiswa dan kuliah daring ke depannya.
Mahasiswa harus tetap semangat untuk mengikuti kuliah, semangat belajar, dengan demikian apa yang sudah dosen persiapkan untuk mahasiswa dapat diterima dengan baik, dan ilmu yang disampaikan dapat ditangkap dengan baik. Harapan lainnya, nothing else but healthy. Semoga semuanya tetap sehat, baik secara fisik maupun mental. Kalau merasa sendiri, talk to somebody, atau datang ke psikolog atau SWPDC agar mental health tetap terjaga dan terhindar dari stres.
Reportase: Sony Budiarso/Kirana Lalita Pristy