Ketika nama Syifa Aulia Ar-Rohmah muncul di layar sebagai salah satu calon mahasiswa baru Program Studi Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), gadis asal Ternate itu tidak langsung bersorak. Ia justru terdiam beberapa saat, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sesaat kemudian matanya mulai berkaca-kaca. Dalam benaknya, bukan hanya perjuangan bertahun-tahun yang terlintas, tetapi juga sosok yang paling ingin ia bagi kabar bahagia itu.
Sang ibu. Perempuan yang selama ini mendampingi setiap langkahnya dan menjadi sumber semangat untuk berani bermimpi. Namun, ibunya telah berpulang saat Syifa masih kelas X SMA.
“Perasaan haru dan bahagia bercampur menjadi satu hingga membuat saya menangis. Momen tersebut mengingatkan saya pada seluruh proses yang telah saya lalui, mulai dari belajar, menghadapi berbagai kegagalan, hingga terus mencoba bangkit,” ucapnya.
Bagi Syifa, diterima di FEB UGM bukan sekadar soal keberhasilan masuk ke perguruan tinggi impian. Momen itu adalah hadiah yang ingin dipersembahkan untuk almarhum ibunya yang tidak sempat menyaksikan langsung salah satu pencapaian terbesar dalam hidup putrinya.
“Saya teringat perjuangan dan doa-doa Ibu yang selalu menyertai langkah saya. Diterima di FEB UGM, saya sangat bersyukur dan semakin termotivasi untuk belajar dengan sungguh-sungguh agar dapat membanggakan keluarga serta memberikan manfaat bagi banyak orang di masa depan.

Kebahagiaan putri dari pasangan Sarmain dan Lilik Mashudah ini semakin membuncah saat mengetahui bahwa ia mendapatkan subsidi Uang Kuliah Tunggal (UKT) 100% sehingga dibebaskan dari biaya pendidikan hingga selesai kuliah. Syifa, yang diterima di UGM melalui jalur Penelusuran Bibit Unggul Tidak Mampu (PBUTM), merasa sangat lega karena bantuan beasiswa UKT 0 ini dapat meringankan biaya pendidikan. Sang ayah sehari-hari berjualan bakso untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, karena faktor usia dan kondisi kesehatan, sang ayah tidak lagi bekerja dan kebutuhan ekonomi keluarga saat ini ditanggung oleh kakak laki-laki Syifa yang bekerja sebagai guru honorer.
“Bagi saya, subsidi ini bukan hanya bantuan finansial, tetapi juga bentuk kepercayaan yang diberikan kepada saya untuk terus melanjutkan pendidikan. Karena itu, saya merasa memiliki tanggung jawab untuk memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin dengan belajar sungguh-sungguh, aktif mengembangkan diri, dan berusaha meraih prestasi yang membanggakan,” papar alumni SMA Negeri 8 Kota Ternate ini.
Tumbuh dari Kota Kecil di Timur Indonesia
Syifa lahir dan besar di Ternate Tengah, Maluku Utara, daerah yang dikenal sebagai tanah rempah. Keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi sudah muncul sejak SMP. Saat itu, ia mengikuti Olimpiade Sains Nasional bidang IPS tingkat provinsi dan meraih peringkat keenam.

Meski belum berhasil melaju ke tingkat nasional, pengalaman tersebut justru menjadi titik balik yang membuatnya semakin yakin bahwa pendidikan adalah jalan yang ingin ia tempuh. Ia meyakini bahwa menempuh pendidikan tinggi merupakan langkah penting untuk memperluas wawasan, mengasah kemampuan, dan membuka lebih banyak peluang bagi dirinya untuk berkembang.
“Saya ingin memanfaatkan pendidikan tinggi sebagai bekal untuk meningkatkan kapasitas diri, sehingga suatu hari nanti saya dapat memberikan kontribusi yang nyata bagi masyarakat dan daerah asal saya, Ternate,” ujarnya.
Belajar Bangkit dari Kegagalan
Perjalanan Syifa menuju FEB UGM tidak dibangun dalam semalam. Keinginan untuk melanjutkan pendidikan sebenarnya telah tumbuh sejak bangku SMP. Saat itu, ia mengikuti Olimpiade Sains Nasional bidang IPS tingkat provinsi dan berhasil meraih peringkat keenam. Meski belum berhasil melaju ke tingkat nasional, pengalaman tersebut justru menjadi titik awal yang semakin menguatkan tekadnya untuk terus belajar.
Perjalanan akademik Syifa dipenuhi berbagai pencapaian. Salah satu prestasi yang paling berkesan baginya adalah menjadi Juara I Olimpiade Sains Nasional bidang Ekonomi tingkat Provinsi Maluku Utara tahun 2024 yang membawanya menjadi finalis tingkat nasional di Jakarta.
Namun, perjalanan tersebut tidak selalu berjalan mulus. Ketika hasil yang diharapkan tidak tercapai pada seleksi berikutnya, Syifa memilih untuk terus mencari ruang belajar baru. Ia kemudian aktif dalam penelitian dan inovasi serta mendirikan komunitas lingkungan bernama Sobaé. Melalui komunitas tersebut, Syifa mengembangkan inovasi pewarna batik aromaterapi berbasis limbah dapur dan rempah lokal yang berhasil meraih medali perunggu pada Festival Inovasi dan Kewirausahaan Siswa Indonesia (FIKSI) tingkat nasional tahun 2025.
“Bagi saya, prestasi bukan hanya tentang penghargaan, tetapi juga tentang proses belajar, keberanian mencoba hal baru, dan kemampuan untuk bangkit setelah mengalami kegagalan,” katanya.
Layaknya rempah yang mengeluarkan aroma terbaiknya setelah melalui proses panjang. Begitu pula dengan Syifa; ia kerap menemui kendala, namun selalu bangkit setiap kali menghadapi kegagalan. Memetik pembelajaran dari setiap kesulitan dan kegagalan dan terus menunjukkan keberanian mencoba hal-hal baru membentuk Syifa menjadi pribadi yang lebih dewasa dan tangguh.
“Saya percaya bahwa rempah hanya akan mengeluarkan aroma terbaiknya setelah melewati proses pengeringan yang panjang. Begitu pula dengan manusia, sering kali kita harus melewati kegagalan, kesulitan, dan berbagai ujian sebelum dapat menunjukkan potensi terbaik kita. Proses yang berat bukan untuk menghentikan langkah kita, melainkan untuk mempersiapkan kita agar lebih bernilai. Prinsip inilah yang membantu saya tetap bertahan, bangkit dan terus melangkah menuju tujuan yang ingin saya capai,“ urainya.

Utamakan Pendidikan
Sejak kepergian ibunya, dukungan terbesar Syifa datang dari ayah kandungnya, Sarmain. Meski tidak sempat menyelesaikan pendidikan dasar dan kini tidak lagi bekerja karena faktor usia serta kesehatan, Sarmain selalu berusaha memastikan anak-anaknya tetap mendapatkan pendidikan yang baik.
“Walaupun kondisi kami sederhana, kami selalu berusaha mendukung pendidikan anak-anak semampu kami,” terangnya.
Ia menyaksikan sendiri bagaimana putrinya menghabiskan waktu untuk belajar, mengikuti lomba, melakukan penelitian, hingga mengembangkan berbagai kegiatan sosial. Ia pun tahu betul saat putrinya terus berjuang dan tak patah arang meski mengalami kegagalan.
“Melihat anak diterima di UGM adalah kebanggaan yang besar. Saya juga teringat almarhumah ibunya yang selalu ingin melihat anak-anaknya bisa sekolah setinggi mungkin. Saya yakin kalau ibunya masih ada, beliau pasti sangat bangga melihat pencapaian Syifa hari ini,” paparnya.
Bagi Sarmain, pendidikan adalah warisan paling berharga yang dapat diberikan kepada anak-anaknya. Karena itu, sejak awal ia selalu mendukung keinginan Syifa untuk melanjutkan studi meski terdapat berbagai kekhawatiran mengenai biaya dan jarak. Namun, melihat kesungguhan dan tekad sang putri yang kuat, ia pun mantap mendukung dan mendoakan yang terbaik bagi anaknya.
Sarmain tak lupa berpesan kepada Syifa untuk selalu jujur, tidak mudah menyerah, bersyukur, serta menjaga ibadah. Ia berharap sang putri nantinya dapat menjalani kuliah dengan lancar dan lulus tepat waktu.
“Harapannya, Syifa tidak hanya menjadi orang yang sukses untuk dirinya sendiri, tetapi juga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan daerahnya. Yang terpenting, saya ingin dia tetap menjadi pribadi yang rendah hati,” tegasnya.
Membawa Mimpi Pulang ke Ternate
Ketertarikan Syifa pada ilmu ekonomi lahir dari pengalamannya melihat berbagai persoalan di daerahnya, mulai dari isu lingkungan hingga tantangan pembangunan daerah, termasuk persoalan sampah. Awalnya ia mengira masalah lingkungan hanya berkaitan dengan sampah atau pencemaran. Namun, semakin banyak terlibat dalam kegiatan sosial dan lingkungan, ia menyadari bahwa banyak persoalan bermula dari aspek ekonomi. Pemahaman itulah yang membuatnya memilih Program Studi Ilmu Ekonomi di FEB UGM.

Setelah lulus nanti, Syifa tidak bermimpi untuk pergi sejauh mungkin dari kampung halamannya. Sebaliknya, ia ingin kembali. Ia ingin mengembangkan inovasi yang mampu mengubah limbah menjadi produk bernilai ekonomi, menciptakan peluang usaha bagi masyarakat, serta berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan di Indonesia Timur.
“Bagi saya, keberhasilan pendidikan bukan tentang sejauh mana saya pergi, tetapi tentang bagaimana saya bisa kembali dan memberikan manfaat bagi daerah yang telah membesarkan saya,” katanya.
Syifa mengajak siapa pun yang sedang memperjuangkan mimpi untuk tidak mudah menyerah. Tidak menjadikan keterbatasan, kegagalan, maupun penilaian orang lain sebagai alasan untuk berhenti bermimpi. Menurutnya, setiap proses, seberat apa pun, adalah bekal untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat.
“Pada akhirnya, perjuangan bukan tentang seberapa sering kita jatuh, tetapi tentang keberanian untuk bangkit dan terus berjalan demi mewujudkan mimpi yang kita yakini,”pungkasnya.
Kini, perjalanan baru akan segera dimulai di Yogyakarta. Namun, dalam setiap langkah yang akan ditempuhnya sebagai mahasiswa FEB UGM, Syifa membawa sesuatu yang lebih besar daripada sekadar mimpi pribadi, yaitu harapan seorang ayah, kenangan seorang ibu, dan keinginan untuk kembali membangun tanah kelahirannya. Di kota rempah itu, seorang gadis telah membuktikan bahwa kehilangan tidak menghentikan langkahnya. Justru dari sanalah tumbuh tekad untuk terus melangkah lebih jauh.
Reportase: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals









