Mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) kembali menorehkan prestasi dalam kompetisi Management Competition 2026: National Business Case Competition. Dalam kompetisi yang diselenggarakan oleh Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) pada Sabtu malam (28/03/2026) ini, dua tim FEB UGM sukses menyabet juara 1 dan juara 2, serta penghargaan sebagai Best Speaker.
Tim Kacamata Baru Aryo yang beranggotakan Muhammad Fatih Putra Nugraha (Ilmu Ekonomi 2025), Hilal Afif Fauzan (Ilmu Ekonomi 2025), dan Ahmad Fahrel Aldito (Ilmu Ekonomi 2025) berhasil meraih juara 1 dan Muhammad Fatih Putra Nugraha meraih penghargaan sebagai Best Speaker. Sementara itu, tim Apa Ya yang beranggotakan Hanwinartha Haryono (Management-IUP 2025), Amy Koh Jia Chi (Manajemen 2025), dan Ibnu Khafi (Manajemen 2025) berhasil meraih juara 2.
Dalam kompetisi tersebut, para mahasiswa ditantang untuk menyelesaikan permasalahan nyata terkait green energy dengan memanfaatkan minyak jelantah atau Used Cooking Oil (UCO) untuk diolah kembali menjadi bahan bakar avtur. Mereka diminta untuk merancang strategi dalam mengatur rantai pasok dari masyarakat kepada pihak Greenera, start-up yang menjadi case partner di perlombaan ini.
Kompetisi ini terdiri dari tiga tahap, yakni babak kuis, pengumpulan paper, dan pitching di sesi final. Melalui rangkaian proses tersebut, kedua tim akhirnya memberikan solusi yang berbeda. Tim Kacamata Baru Aryo menawarkan solusi dengan pendekatan langsung ke masyarakat melalui sistem door-to-door. Sementara itu, Tim Apa Ya menawarkan solusi dengan mengembangkan aplikasi untuk menghubungkan titik-titik pengumpulan UCO agar lebih terintegrasi.
Di balik capaian tersebut, kedua tim menghadapi berbagai tantangan selama proses kompetisi. Bagi tim Kacamata Baru Aryo, salah satu tantangan yang cukup mengejutkan adalah penggunaan bahasa pada sesi pitching.
“Kami baru tahu jika sesi pitching menggunakan bahasa Inggris sehingga kita harus mempersiapkan 30 menit sebelumnya,” terang Fahrel.
Berbeda dengan tim Apa Ya, mereka mengaku bahwa keterbatasan waktu menjadi tantangan terbesar yang mereka hadapi.
“Pada saat itu, karena padatnya aktivitas kita, penyusunan proposal dilakukan dalam waktu yang sangat singkat,” jelas Hanwinartha.
Meski demikian, kedua tim tetap mampu menyelesaikan setiap tahapan dengan baik hingga babak final. Dalam proses persiapan, kedua tim mengandalkan pembelajaran materi dengan memanfaatkan materi kuliah, diskusi internal tim, dan berbagai referensi eksternal untuk memperkuat analisis yang disusun. Pembagian peran juga menjadi kunci dalam menyelesaikan seluruh tahapan lomba ini agar seluruh bagian dapat dikerjakan secara terstruktur.
“Kami belajar dari berbagai sumber, lalu saya juga sudah memperoleh materi dari organisasi yang saya ikuti di FEB, yakni Gadjah Mada Business Case Club untuk mendukung analisis yang kita buat,” imbuh Hanwinartha.
Bagi mereka, pencapaian ini tidak semata-mata hanya dimaknai sebagai kemenangan, tetapi juga bagian dari proses pembelajaran. Mereka mengaku tidak menyangka posisi juara, mengingat persiapan yang dilakukan di tengah kesibukan. Meski demikian, pengalaman ini justru menjadi refleksi untuk terus berkembang. Mereka pun berharap pengalaman ini dapat menginspirasi mahasiswa lain untuk berani mencoba mengikuti berbagai kompetisi selama menjalani studi.
Reportase: Najwa Anggi Namira
Editor: Kurnia Ekaptiningrum







