Penerapan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam mendukung keberlanjutan lingkungan kini mulai diwujudkan di lingkungan kampus. Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi salah satu pelopor dalam mengintegrasikan teknologi ini ke dalam sistem pengelolaan kampus yang berorientasi pada pengurangan emisi karbon dan efisiensi sumber daya.
Hal tersebut dipaparkan Prof. Dr. Ir. Ridi Ferdiana, S.T., M.T., IPM., dalam FEB UGM Podcast bertajuk Implementasi AI di Kampus: Solusi Cerdas untuk Masa Depan Hijau. Ia menjelaskan bahwa UGM tengah bertransformasi dari smart campus menuju Intelligent University melalui program UGM IoT yang melahirkan berbagai sistem berbasis data termasuk UGM Gate.
“UGM Gate memiliki misi sustainability yang cukup visioner, yaitu mengurangi emisi karbon dengan membatasi aliran kendaraan. Pembatasan ini bukan berarti tidak boleh masuk, melainkan ada alternatif lain yang difasilitasi untuk berpindah dari satu titik ke titik yang lain,” ujar Ridi.
Sivitas akademika yang terdaftar dapat masuk secara otomatis, sementara kendaraan dari luar dikenakan carbon tax sebagai instrumen keberlanjutan. Sistem ini juga mendukung algoritma ride sharing dan saat ini masih dalam tahap uji coba di Gedung Pusat UGM sebelum diperluas secara bertahap.
Data yang terkumpul kemudian digunakan sebagai dasar perancangan kebijakan parkir yang lebih efisien sekaligus mendorong sivitas akademika beralih ke moda mobilitas ramah lingkungan seperti Trans Gadjah Mada (bus listrik) dan Pit UGM (sepeda kampus). Meski demikian, Ridi menegaskan bahwa teknologi hanyalah salah satu bagian dari solusi yang lebih besar.
“AI for sustainability, AI is only part of it. Dari 100% solusi ini, AI cuma 20%-nya yang solving. 80%-nya ke prosedur dan penyelesaian masalah itu sendiri,” tegasnya.
Selain implementasi di lingkungan kampus, Ridi juga mengulas potensi AI yang lebih luas dalam konteks keberlanjutan global, khususnya dalam bidang perubahan iklim. Menurutnya, AI memiliki kemampuan untuk menyimulasikan dampak dari berbagai faktor lingkungan secara lebih cepat dan akurat dibandingkan metode konvensional.
“Secara sains sudah jelas hutan menampung air. Begitu instrumennya mengalami penurunan drastis, ada implikasinya. AI akan membuat analisis itu lebih cepat dan bahkan bisa melakukan simulasi berdasarkan kondisi bumi kita saat ini,” tuturnya.
Fenomena perubahan iklim seperti El Niño dan La Niña yang membuat curah hujan semakin tidak stabil pun dapat dimodelkan secara lebih komprehensif, termasuk simulasi dampak penggundulan hutan terhadap pola curah hujan dan risiko banjir.
Meski menawarkan berbagai potensi yang menjanjikan, Ridi menekankan bahwa implementasi AI untuk keberlanjutan tidak terlepas dari sejumlah tantangan. Resistensi masyarakat menjadi tantangan pertama, sebab penerapan mekanisme seperti carbon tax berpotensi mendapat penolakan dari berbagai pihak.
Tantangan berikutnya adalah pengelolaan data. Dalam kasus UGM Gate, data yang dihasilkan setiap bulannya dapat mencapai 30 hingga 60 gigabyte, menimbulkan dilema antara kebutuhan penyimpanan dan keterbatasan infrastruktur.
Tak kalah krusial, kesiapan infrastruktur juga menjadi persoalan tersendiri. Implementasi AI dalam skala produksi menuntut kapasitas komputasi, ketersediaan listrik, hingga sistem pendingin yang memadai.
Ridi menekankan bahwa kunci keberhasilan implementasi AI terletak pada penggunaan nyata (usage) dan perbaikan berkelanjutan (continuous improvement). Dukungan pemangku kepentingan juga menjadi faktor krusial, sebab resistensi dari pengguna atau pengambil kebijakan dapat menjadi hambatan besar dalam proses adopsi. Lebih dari itu, Ridi menegaskan pentingnya keterlibatan manusia dalam setiap tahap implementasi AI.
“Kita harus human in loop. Benar tidak prosesnya AI berjalan? Itu yang harus terus divalidasi. Makanya konsep explainable AI itu penting,” tegasnya.
Pendekatan human centered AI ini penting agar teknologi benar-benar berjalan sesuai dengan konteks dan nilai-nilai yang diinginkan oleh penggunanya. Bagi Ridi, inilah esensi sesungguhnya dari AI untuk keberlanjutan, bukan sekadar teknologi yang canggih, melainkan teknologi yang benar-benar berdampak.
Reportase: Dwi Zhafirah Meiliani
Editor: Kurnia Ekaptiningrum
Sustainable Development Goals
